159 views

Mengintip Home Industry Senjata Api Rakitan, Senjata Para Begal

HARIANFOKUS.COM – Kebiasaan memulai usaha dengan membangun industri skala rumah tangga, ternyata juga dilakukan banyak warga di Lampung. Namun, home industry itu tergolong langka dan ilegal. Sebab, mereka membuat senjata api (senpi) rakitan.

Dahulu mungkin hampir mustahil masyarakat memiliki senpi. Sebab, UU Darurat No 12/1951 secara tegas melarang warga negara Indonesia untuk memilikinya. Selain pengurusannya yang susah, aparat dari TNI atau Polri juga menindak tegas pemiliknya. Senpi hanya dimiliki aparat keamanan dan itupun melalui seleksi serta pengawasan ketat.

Seiring dengan semakin longgarnya aturan kepemilikan senpi, peredarannya justru makin tak terkendali. Semakin banyak warga sipil menenteng senjata layaknya seorang koboi. Padahal, pihak kepolisian menyatakan pengawasan peredaran dan kepemilikan sudah dilakukan ketat. Ini masih bisa terjadi karena menjamurnya bisnis gelap jual beli benda-benda tersebut di Provinsi Lampung.

Bisnis jual beli senpi rakitan ilegal bukan hal baru di telinga masyarakat. Jangan membayangkan proses produksinya seperti di PT Pindad yang terang dan legal untuk kebutuhan ekspor maupun kebutuhan kekuatan militer.

Fenomena ini terus berlangsung dengan masih maraknya kasus kejahatan yang disertai dengan penggunaan senpi. Selain warga yang menjadi korban penembakan, oknum wartawan sampai anggota brimob pun tewas jadi korban penjahat bersenjata api yang lazim disebut begal karena mencuri sepeda motor.

Bahkan, bisnisnya justru banyak diproduksi skala rumahan. Tidak dipungkiri, bisnis jual beli senjata rumahan itu juga menggiurkan karena omzet per bulan cukup besar. Satu senjata laras pendek atau pistol dibanderol dengan harga sekitar Rp300 ribu hingga Rp2 juta.

Mustafa (19), warga Desa Serdang, Lampung Selatan, nekat membeli sepucuk pistol rakitan karena dendam atas aksi pembegalan keluarganya semasa kecil. Senpi jenis revolver plus amunisi dibeli Mustafa dari seorang yang baru dikenalnya seharga Rp300 ribu.

Meskipun tidak pernah diletuskan, Mustafa kerap kali memamerkan senjata itu kepada warga di tempat tinggalnya. Melihat aksi tersebut, warga yang sudah ‘gerah’ akhirnya melaporkan ke aparat Polsek Sidomulyo, Lampung Selatan. Mustafa-pun kemudian diringkus tanpa ada perlawanan.

Mudahnya memperoleh serta harga jual senpi rakitan yang relatif terjangkau, sering dijadikan senjata anak-anak remaja yang sudah berani melakukan kejahatan dengan kekerasan.

Peredaran senpi rakitan ini ternyata sudah tersebar di seluruh kabupaten/kota se Provinsi Lampung. Hal itu dibuktikan dengan adanya penyerahan oleh Komando Resort Militer 043 Garuda Hitam (Gatam) sebanyak 72 pucuk senjata ke Polda Lampung.

Acara penyerahan berlangsung di lobi Polda Lampung pada Selasa (8/9/2015). Penyerahan dilakukan oleh Komandan Korem 043 Gatam Kolonel (Inf) Joko P Putranto ke Kapolda Lampung Brigadir Jenderal Edward Syah Pernong.

Selain senpi rakitan, pihak Korem juga menyerahkan 28 butir amunisi, setengah kilogram serbuk mesiu, ganja tujuh kilogram, delapan botol minuman keras. “Semuanya itu merupakan hasil penyerahan masyarakat kepada aparat TNI,” ujar Joko.

Di lain pihak, Danrem 043 Gatam menegaskan sejak awal bertugas di Lampung, komitmennya adalah melaksanakan pemberantasan peredaran senpi ilegal karena keberadaannya sangat mengganggu keamanan masyarakat.

Joko melanjutkan, penyerahan ini merupakan yang pertama dan bukan yang terakhir hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

“Pokoknya sampai seminimal mungkin sehingga bisa menekan angka kriminal di rumah kita ini,” ujar dia.

Namanya sudah bertugas di Lampung, Joko menyebutkan kerap berkomunikasi dengan Kapolda Lampung bahwa daerah ini harus dijadikan rumah kita sehingga makan, minum dan beristirahat bisa setenang mungkin.

“Kalau masih banyak beredar senpi rakitan berpeluru pabrikan tentu tidak akan nyaman saat tidur di rumah,” kata Joko.

Dia melanjutkan, pihaknya terus mengintensifkan aparat TNI di seluruh pelosok Provinsi Lampung guna mendeteksi keberadaan ‘home industri’ dari senjata rakitan ini.

Sementara itu, Polda Lampung masih melakukan penanganan lebih lanjut, kemungkinan adanya keterlibatan oknum aparat dalam peredaran senjata-senjata tersebut. “Kalau memang ada keterlibatan oknum aparat, tentu akan kita tindak tegas sehingga tidak berpengaruh pada yang lainnya,” ujar Kapolda Lampung Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Edward Syah Pernong.

Ia menginstruksikan seluruh jajaran aparat kepolisian untuk terus menyosialisasikan bahaya kepemilikan senpi ilegal.

Ia juga menyebutkan, pemilikan senpi oleh oknum masyarakat tersebut melanggar hukum. Pemilikan secara illegal bagi perorangan, akan dikenai sanksi dan dihukum berdasarkan UU Darurat nomor 12/1951 dan Perpu nomor 20/1960.

Untuk itulah, ia mengimbau seluruh masyarakat agar secara sukarela menyerahkan berbagai jenis senpi rakitan sehingga tidak menimbulkan tindak kejahatan di daerahnya.

“Saya harap masyarakat dapat segera menyerahkan senpi miliknya sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” kata dia.

Berdasarkan data, Polda Lampung telah memusnahkan setidaknya 900 senpi rakitan dari berbagai jenis guna menjaga keamanan dan kenyamanan warga di provinsi itu.

Penelusuran HarianFokus.com, orang dengan mudah mendapat senpi rakitan melalui beberapa orang. Salah satunya aparat dan anggota aktif di Polda Lampung.

Berdasarkan pengakuan Heri (bukan nama sebenarnya), ia mendapatkan senpi jenis pistol rakitan dengan 16 butir peluru seharga Rp.400 ribu. “Saya beli ini, langsung di rumah Ahmad di kawasan pedalaman Lampung,” ujar dia.

Memasuki kawasan Kecamatan Jabung, wartawan HarianFokus.com mencoba memulai penelusuran ke rumah yang paling besar di pinggir jalan dekat masjid sebagaimana dituturkan Heri. (bersambung)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *