26 views

Awas Bimbel tanpa Kompetensi, Pengamat Pendidikan Minta Ortu Waspada

Menjamurnya tempat kursus atau bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah, menjadi fenomena tersendiri di Kota Bandarlampung. Selain sebagai arena bisnis tanpa edukasi, ternyata tidak semua lembaga bimbel punya kompetensi.

BANYAK orang tua mengeluarkan biaya tambahan untuk anaknya, ikut bimbel. Alih-alih menambah pengetahuan, beberapa kasus justru diajari kurang jujur. Yakni mencontek. Tepatnya, soal ujian yang akan diberikan, sudah diulas pada materi bimbel. “Saya pernah marah sama guru anak saya, dia member bimbel di luar jam sekolah, nah ternyata pas ujian nilai anak saya 100,” cerita Yunita (28) pada harianfokus.com.

Yunita yang anaknya kelas satu di SD Bandarlampung itu menjelaskan, heran anaknya yang biasa saja tiba-tiba dapat nilai 100 pada ujian sekolah. “Saya selidik eh, ternyata bimbel itu dikasih bocoran soal ujian, inikah ngajari anak saya tidak jujur,” kata dia.

sakamotoDi sisi lain,  Bimbel Matematika Sakamoto yang berada di jalan Sultan Agung, Wayhalim justru berbeda. Kehadiran bimbel Matematika Sakamoto, bukan untuk menjamin anak yang kursus pintar matematika.

Bagian resepsionis bimbel Sakamoto,  Sheiratul Listidaiyah menyatakan, pihaknya memang bukan bertugas untuk membuat anak-anak yang kursus bisa pintar matematika. “Jaminan sih kita enggak ada, kita enggak harus anak ini pinter. Cuma guru itu berusaha melatih anak agar dapat mencari jalan dalam pengerjaan soal, cuma kita enggak menjamin anak itu bisa pintar,” ucap Lilis, sapaan akrab  Sheiratul Listidaiyah.

Pihaknya hanya melatih mengerjakan soal matematika dengan berbasis cerita.

Di sisi lain, penanggungjawab Matematika Sakamoto Verina Ernita enggan untuk memberikan keterangan seputar bimbel yang hanya punya tiga guru itu. Namun demikian, bimbel Matematika Sakamoto sudah punya empat cabang di Lampung. Di Telukbetung, Wayhalim, Kota Metro dan Bandarjaya.

Di tempat yang berbeda, pengamat pendidikan Lampung Dr. Agus Pahrudin M.Pd menjelaskan agar orang tua berhati-hati dalam memilih bimbel untuk anaknya. Sebab, menurut dia, bimbel yang tidak dapat merespons kebutuhan dunia pendidikan sangat membahayakan anak didik.

“Dari sisi biaya dan waktu, lembaga bimbel harus memperhatikan need assessment, bimbel juga harus memikirkan materi bahasan yang dibutuhkan peserta didik,” kata dia.

Diibaratkan Agus, penyelenggara bimbel adalah pedagang yang menawarkan produk dagangannya kepada masyarakat, sehingga orangtua juga harus selektif dalam menentukan tempat mengkursuskan anak. (adi putra)

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *