28 views

Melihat Sebambangan di Tiuh Pekuon Agung

Khasanah adat-istiadat Lampung sangat kaya akan warisan leluhur yang layak dilestarikan dan terus menerus dirawat keberadaannya.  Bahkan sebambangan, yang sering dianggap menjadi pemicu perang antarwarga dan sering disalah artikan sebagai kawin lari, ternyata mengandung nilai-nilai luhur dan mengajarkan cinta sejati antara bujang- gadis sebelum sah sebagai suami istri.

LAMPUNGUTARA- Sebambangan atau dikenal dengan istilah ninjuk, merupakan salah satu adat masyarakat Lampung. Seringkali juga disebut larian. Proses adat yang mengatur pernikahan antara bujang dengan muli atau gadis pujaanya.

Sebelum menikah, mekhanai itu terpaksa melarikan muli karena khawatir tidak mendapat restu dari orang tua gadis. Namun demikian, sebambangan tersebut ternyata ada tata aturan yang ketat. Diceritakan tokoh adat Tiuh Pekuon Agung, Kecamatan Muara Sungkai, Lampung Utara Mustaal Rozali yang bergelar Guhu Bala Seribu, selain punya aturan yang ketat, jika syarat sebambangan tidak terpenuhi, bisa masuk kategori penculikan atau pidana. “Lebih parah lagi, bisa menjadi pemicu perang antarkeluarga bahkan antarkampung,” ujar dia pada harianfokus.com, Rabu (14/10/2015).

Tiga syarat sebambangan itu antara lain, muli atau gadis harus meninggalkan  surat kepada kedua orang tua. “Sang gadis juga harus meninggalkan uang,” jelas Guhu Bala Seribu.

Ketiga, mekhanai yang sebambangan juga harus masih bujang. Soal surat, menurut Guhu, menjadi pertanda bahwa sang gadis memilih jalan sebambangan, bukan diculik. Sementara soal uang, juga bisa membatalkan sebambangan, tidak sampai pada proses pernikahan jika antara yang diminta sang gadis tak terpenuhi atau kurang. Uang itu juga sebagai bentuk penghormatan sang gadis pada orang tuanya.

Adanya sebambangan, jelas Guhu, bisa jadi dipicu persoalan garis keturunan, status sosial, asal-usul keluarga. Namun demikian, syarat utama sebambangan adalah cinta sejati sang gadis. “Artinya makna sebambangan itu tidak tepat jika disamakan dengan kawin lari,” kata Guhu.

Guhu Bala Seribu yang berasal dari buai Parja itu lebih jauh menjelaskan posisi sebambangan dalam hukum adat.  “Ya meski tak tertulis, hukum sebambangan dengan tiga syarat tersebut di atas harus dipenuhi,” tegas dia.

Proses teranyar dari sebambangan, dilakukan Sri Elly Astuti dengan Wirham Polica.

Pantauan harianfokus.com, sebambangan Elly dan Wirham yang keduanya baru dinikahkan pada 11 Oktober 2015 lalu menjelaskan, surat dari muli menjadi syarat utama sebambangan. “Surat itulah dasar untuk mengetahui apakah sang gadis benar-benar sebambangan atau dipaksa, lalu uang peninggalan sang gadis,” jelas Alamlah, salah satu tokoh adat Pekuon Agung yang bergelar Sultan Ratu Sepulau Lappung.

Ia menjelaskan prosesi setelah sebambangan terpenuhi syarat-syaratnya secara adat.  Yakni, pihak bujang harus melakukan pengundoran senjata. “Membawa senjata adat berupa keris yang terbuat dari kuningan (punduk) ke rumah tokoh adat junjungan sang gadis atau Tuha Raja,” jelas Sultan.

Jika belum tahu alamat Tuha Raja,keluarga bujang yang sebambangan bisa menemui kepala desa untuk diantarkan ke rumah Tuha Raja untuk pengundoran senjata. “Itu dimaksudkan sebagai permintaan maaf dan mengakui kesalahan karena telah membawa si gadis secara rahasia,” kata Sultan.

Setelah Pengundoran Senjata

Proses sebambangan, belum bisa melanjutkan ke resepsi pernikahan meski telah pengundoran senjata ke rumah Tuha Raja sebelum menggelar ngantak pedamaian.

Ngantak pedamaian artinya upacara perdamaian yang dilakukan minimal tiga hari tiga malam setelah pengundoran senjata antara keluarga bujang dengan keluarga gadis. “Biasani ngantak pedamaian telu rani jak pengundoran senjata, ngantak pedamaian ngusung alat-alat biya pedamaian iyalah biyas, kelapa, jama gula anau,” jelas St. Ratu Sepulau Lappung.

Barang-barang tersebut akan diolah menjadi penganan berupa bubur, kelapa yang dibawa satu buah diantaranya dibelah dua dan sebelah dipakai untuk olahan bubur di rumah si gadis sebelahnya lagi diberikan kepada pihak bujang untuk dibawa pulang sebagai simbol perdamaian sudah terjalin. Baru setelah prosesi ngantak pedamaian prosesi yang harus dilewati lagi adalah musyawarah kedua keluarga (cakak ngumung si tuha-tuha) yaitu musyawarah tentang permintaan keperluan dan kekurangan yang harus dipenuhi oleh pihak keluarga calon pengantin pria.

Kemudian setelah cakak ngumung sai tuha-tuha ditentukan waktu kedatangan calon pengantin pria datang menemui keluarga calon pengantin wanita(mengian cakak ngeruang) hal ini bertujuan agar calon pengantin pria memperkenalkan dirinya kepada keluarga calon pengantin wanita.

Selang waktu kemudian diadakan kembali musyawarah tokoh keluarga untuk perundingan acara kapan dan dimana akad nikah dilaksanakan (begawi atau tidak) sekaligus menentukan waktu pelaksanaan akad nikah.

Dalam rangkaian akad nikah setelah selesai akad, disuguhkan hidangan (tanjaran) makan bersama (pangan akad nikah), setelah selesai pangan akad nikah kembali disuguhkan tanjaran makan bersama pihak besan (pangan urau sabai).

Dalam tradisi masyarakat Lampung pepadun,  istilah sassan atau barang-barang alat rumah tangga yang diberikan oleh keluarga pengantin wanita untuk dipergunakan dalam menjalani kehidupan baru. Sassan dapat berupa perabotan rumah tangga. Baru setelah selesai sassan atau serah-serahan itu, rombongan keluarga pengantin wanita bergegas pulang. Barulah keluarga pengantin perempuan mempersiapkan peralatan yang akan diperlukan untuk menyambut kunjungan pertama pengantin wanita ke rumah orang tuanya atau dikenal dengan sebutan manjau mirul. (ADI PUTRA/RED)

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *