SMRC Rilis Tiga Keunggulan Pilgub DKI

JAKARTA- Direktur Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) Djayadi Hanan mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang membuat Pemilihan Gubernur DKI 2017 menarik. Bahkan meski 2015, perbincangan mengenai Pilkada DKI sudah mulai ramai.

Meski tujuannya sama dengan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seperti di daerah-daerah lainnya, yaitu untuk memilih kepala daerah yang memimpin daerahnya selama lima tahun ke depan, Pilgub DKI menyedot perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Tahapannya diikuti oleh seluruh masyarakat melalui media, isunya pun menjadi isu nasional.

Djayadi mengatakan, Pilgub DKI memang menarik dari beberapa segi. Yang pertama, Pilgub DKI diselenggarakan untuk memilih seorang tokoh yang didapuk memimpin Ibu Kota negara.

“Karena Ibu Kota negara itu kompleks dengan masalah, isu Pilgub DKI menjadi isu nasional,” ujar Djayadi dalam rilis hasil survei ‘Peluang Ahok dan Penantangnya untuk Menjadi DKI-1’ di Hotel Sari Pan Pacific, Rabu, 14 Oktober 2015.

Kedua, Pilgub DKI secara khusus diatur oleh Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Daerah Khusus Jakarta. Seorang kandidat yang meraih perolehan suara tertinggi di DKI tidak serta merta terpilih menjadi Gubernur jika raihan suaranya tidak melewati 50 persen. KPUD DKI akan menyelenggarakan Pilgub putaran kedua untuk memilih seorang kandidat yang raihan suaranya besar dan bermakna bahwa kandidat tersebut betul-betul dipilih mayoritas rakyat Jakarta untuk memimpin kota.

“Hal tersebut karena diatur undang-undang, menjadikan Pilgub DKI potensial menjadi lebih kompetitif,” ujar Djayadi menambahkan.

Terakhir, posisi Gubernur yang diperebutkan di dalam Pigub telah terbukti sebanyak satu kali bisa menjadi batu loncatan bagi kandidat terpilih untuk naik ke posisi jabatan yang lebih tinggi. Presiden Joko Widodo sebelumnya terpilih menjadi Gubernur DKI pada tahun 2012. Pada tahun 2014, berbekal elektabilitas yang tinggi, mantan Walikota Solo itu mengikuti Pemilihan Presiden dan terpilih.

“Sudah terbukti jabatan Gubernur adalah tangga untuk melaju ke tampuk kepemimpinan nasional, jauh lompatannya. Meski tidak menjadi Presiden misalnya, ada juga bekas kandidat yang menjadi tokoh nasional. Itulah yang menyebabkan Pilgub DKI, meski peristiwa daerah, menjadi isu nasional.”

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *