5 views

Warga Lampung Ikut Geram dengan Sikap Singapura

BANDARLAMPUNG–Singapura memutuskan memboikot peredaran produk Indonesia dari supermarket. Penarikan produk itu sebagai sebagai respons atas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Banyak kalangan diseluruh Indonesia yang kecewa terhadap sikap Singapura ini, tak terkecuali masyarakat yang ada di Lampung.

Ditariknya produk-produk Indonesia ini sontak menimbulkan banyak komentar dari berbagai macam lapisan masyarakat. Reni Lasmawaty (23) mengungkapkan. “Sebagai rakyat Indonesia jelas kecewa bangetlah dengan pemboikotan yang dilakukan oleh Singapura.” ungkap Reni yang sehar-hari bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan swasta di Bumi Rua Jurai.

Hal senada juga diungkapkan oleh Cenny Putri Hapsari (24). “Harusnya Singapura cek dulu apakah perusahaan yang mereka boikot produknya ada keterlibatan dengan bencana kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, jangan main boikot aja,” ungkapanya.

Keputusan Dewan Lingkungan Singapura (SEC) kemarin Senin (19/10) membuat masyarakat Indonesia bernag. Sehingga tak jarang, komentar-komentar sinis terucap dar masyarakat. Muhammad Rizkal Fajri (27) mengatakan “Boikot aja silahkan, toh pasar dunia bukan cuma Singapura doang, negara kecil begitu kok banyak tingkah.” ungkap Rizkal meluapkan emosinya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengungkapkan, pemerintah tak akan tinggal diam dengan persoalan itu. Pihaknya akan terus menjalin komunikasi secara intens dengan negeri tetangga itu terkait masalah pemboikotan produk Indonesia.

“Apa yang dilakukan Singapura adalah dasar hukum di Singapura tentang masalah polusi. Walau demikian, kami lakukan komunikasi dengan Singapura tentang masalah ini,” ujar Retno seusai menghadiri acara Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Jakarta, Senin (19/10/2015).

Selain dengan Singapura, Retno juga akan menjalin komunikasi dengan pihak-pihak swasta yang produknya diboikot di negeri singa itu. Bahkan, Menlu mengatakan, pihak-pihak swasta tersebut harus didukung.

“Ekonomi di negara ini bukanlah ekonomi tertutup. Kami berbicara juga apa yang terjadi di suatu negara, diperhatikan, dan dapat respons negara lain. Tentunya ada kewajiban kita untuk sampaikan informasi dan dukungan kepada (investor) swasta kita,” kata dia.

Menyangkut masalah hukum di Singapura, Retno mengakui bahwa pemerintah memiliki keterbatasan. Namun, kata dia, pemerintah tak akan akan tinggal diam dengan aksi boikot produk asal Indonesia tersebut.

Sedangkan menurut pengamat Hubungan Internasional yaitu Mohammad Nizar hal tersebut sedikit mengganggu keharmonisan hubungan bilateral. “Walaupun yang dilakukan Singapura berdasarkan dasar hukum di Singapura tentang masalah polusi, tetapi ada baiknya Singapura mengkonfirmasi dahulu kepada pemerintah Indonesia terkait pemboikotan ini. Karena jika begini, sama saja Singapura melanggar kedaulatan.” ungkapnya.

Selajutnya Nizar juga mengatakan “Maka dari itu sebaiknya pemerintah menyelasaikan bencana nasional ini, tidak menutup kemungkinan ada boikot susulan dari Negara tetangga lain, seperti Malaysia misalnya.” tandas Nizar. (SADAM)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *