49 views

Dari Tewasnya Anton, Tanggamus Kini jadi Zona Berhibur yang Mengerikan

HARIANFOKUS.COM- Kabupaten Tanggamus, menjadi daerah dengan hiburan yang sangat bebas. Kemajuan tekhnologi, menjadikan perkembangan sebuah pekon yang awalnya damai dan tentram, seketika berubah layaknya desa-desa metropolis. Daerah yang sebelumnya masuk bagian Lampung Selatan itu terkenal dengan tambang emas yang dikelola PT Natarang Mining, penghasil kopi, manggis dan buah pala.

Namun demikian, saat ini daerah yang dipimpin Bupati Bambang Kurniawan di periode kedua, menjadi zona horor untuk sebuah pemukiman masyarakat desa. Belum lama, kasus seputar pembunuhan Bendahara Inspektorat, guru SDIT yang tewas dibegal, anggota dewan ditangkap sedang pesta narkoba, sampai menjamurnya ruang-ruang karaoke yang fungsi utamanya disinyalir sebagai tempat memakai narkoba warga.

Di daerah Kota Agung, ibukota kabupaten berjuluk begawi jejama itu, ada ruang karaoke yang berada di belakang bengkel. Bagi warga pendatang, tentu akan sulit menemukan lokasinya sebab harus melewati dan masuk di dalam bengkel atau toko otomotif.

Terbaru, pada musim hajatan seperti sekarang, hiburan yang ditanggap adalah organ tunggal (OT). Bahkan, dentuman musik house dan remik, sering terdengar keras hingga subuh. Menembus pekatnya area perkebunan yang masih banyak dimiliki warga. Area OT, tentu menjadi lokasi pemakaian narkoba, minuman keras sampai judi dan perkelahian.

Adalah Anton Suherli (27) warga Pekon Banding, meninggal setelah ditusuk ketika sedang asyik berjoged di OT. Hingga berita ini diturunkan, belum jelas siapa pelakunya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa penusukan terhadap korban terjadi pada Rabu (28/10/2015) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, di Dusun Tengos, Pekon Sanggi, Kecamatan Bandarnegeri Semuong (BNS). Sangat mengherankan memang, mengapa hiburan organ tunggal bisa berlangsung hingga hampir subuh. Padahal instruksi Kapolres Tanggamus sudah jelas, bahwa OT hanya diperbolehkan maksimal pukul 24.00 WIB.

Lantas bagaimanakah aparat keamanan maupun pekon/kecamatan setempat menjalankan fungsi kontrolnya?

Peristiwa brutal nan tragis tersebut, sudah seharusnya menjadi pelajaran sangat berharga dan Shock Trapi bagi seluruh warga Tanggamus, terutama jajaran Pemkab, DPRD, dan aparat kepolisian setempat. Sudah saatnya, peraturan bupati (perbup) tentang OT ditegakkan, tanpa kompromi. Siapapun dan apapun pangkat atau jabatan saiful hajat.

Ayah korban, Muhni (56) tampak sangat terpukul dengan kepergian anaknya. Terlebih istri korban, Dahlia (23). Dengan suasana masih sangat berduka, Muhni mengatakan, bahwa dia beserta seluruh keluarga menerima kabar duka sekitar pukul 03.00 WIB. Begitu mendapatkan kabar anaknya ditusuk orang, Muhni segera membangunkan seisi rumah dan menjemput jasad Anton Suherli di lokasi kejadian.

“Saat saya tiba di lokasi, dia (korban) sudah tidak ada (meninggal). Jasadnya pun sudah kaku. Pak polisi juga sudah ramai berkumpul di sana. Saya sempat melihat luka tusukan di perutnya, kecil tapi dalam. Tadi malam saya hanya melihat satu lubang. Tapi pagi ini waktu melayat, banyak yang bilang kalau ada dua luka tusukan. Kemungkinan besar pelakunya dua orang,” beber Muhni lirih, seusai memakamkan anaknya di TPU Gunungdoh.

Menurut penuturan Muhni, sebelum kejadian, sekitar pukul 20.30 WIB korban bersama teman-temannya berangkat dari rumah untuk menonton organ tunggal. Baik istri maupun orangtua, tidak menyangka korban akan meninggal, apalagi dengan cara yang mengenaskan seperti itu. Detik-detik sebelum meninggalkan rumah, tak ada gelagat yang aneh dari korban. Karena meskipun sudah memiliki istri dan anak, korban biasa menonton organ tunggal bersama rekan-rekan seusianya.

“Kalau seperti apa persis ceritanya, saya tidak tahu. Hanya saja tadi teman-temannya cerita, anak saya memang sempat ribut dengan beberapa orang. Siapa pelakunya, kami juga tidak tahu. Tapi sewaktu melayat tadi, banyak yang bilang, pelakunya ada dua orang dan sudah kenal dekat dengan anak saya. Kalau memang sudah kenal dekat, kenapa kok para pelaku itu bisa tega membunuh anak saya? Apa memang antara mereka sudah lama punya masalah? Kami pun tidak tahu, mungkin istrinyalah yang banyak tahu,” ungkap Muhni lagi, seraya menyatakan anaknya cenderung pendiam dan tertutup soal masalah pribadi.

Muhni dan segenap keluarga besarnya berharap, polisi dapat bekerja maksimal dalam mengungkap pembunuhan ini. Korban pergi meninggalkan seorang istri dan seorang putri yang masih balita. Lalu terhadap para pelaku yang sudah menghilangkan nyawa korban, keluarga sangat berharap mereka dihukum setimpal.

Dari penelusuran di lapangan, dikabarkan bahwa saat ini kepolisian tengah memburu dua orang yang diduga menjadi pelaku utama. Namun benar atau tidaknya, masih simpang-siur. Karena Polsek Wonosobo terkesan enggan memberikan keterangan terkait pembunuhan di tempat hiburan OT ini yang menurut beberapa warga, ada anggota yang ikut menikmati hiburan OT hingga dinihari tersebut.

Kapolsek Wonosobo AKP Basuki Ismanto pun tidak berhasil ditemui di mapolsek. “Maaf ya, saya bersama anggota sedang sibuk memantau pemeriksaan TKP dan melakukan pengejaran terhadap tersangka. Kalau nanti sudah ada perkembangan terkini dan sudah pasti, pasti saya kabari. Tadi juga Pak Kapolres sudah turun ke TKP dan meminta semua pihak untuk bisa menahan diri, agar tidak terprovokasi,” singkat Basuki dihubungi via ponselnya dengan nada tergesa-gesa. (ODO KUSWANTORO/RED)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *