74 views

Inilah Dugaan Pungli di Kantor BPN Kota Bandarlampung

HARIANFOKUS.COM- Istilah iklan yang dikenal “jika bisa dipersulit kenapa dipermudah” Benar-benar diterapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandarlampung. Selain harus pakai uang pelicin jika ingin dilayani dengan cepat, kantor BPN yang dipimpin Zulyanto dan pernah didera dugaan penerbitan sertifikat Asli Tapi Palsu (Aspal) itu juga sangat terbuka menerima suap.

Pantauan harianfokus.com Pada Rabu (28/10/2015) di Loket empat, bagian Penyerahan Produk BPN Kota Bandarlampung, mewajibkan uang pelicin jika ingin cepat dilayani. Dua orang lelaki yang tak mau ditulis namanya, sebab takut jika urusannya dipersulit menjelaskan. Posisi dirinya yang sedang antre, diserobot orang dan langsung dilayani dengan cepat lantaran di dalam map itu diselipkan uang lembaran Rp.20 ribu.

Sayangnya, wartawan harianfokus.com dilarang ketika akan mengambil gambar. Namun demikian, Satpam Kantor BPN Kota Bandarlampung Thosim menjelaskan, uang pelicin adalah hal biasa untuk mendapatkan pelayanan dengan cepat. “Ya,itu hal yang biasa,” kata Thosim.

Dia menegaskan, jangan mengambil foto. “Jangan terlalu kelihatan, gak enak dilihat yang lain,” ucap dia.

Pelayanan di loket empat tersebut, sangat terlihat berfungsinya uang pelicin. Selain bisa menyerobot antrean, gesitnya petugas melayani yang memberi suap sangat jelas.

Diketahui, setelah membatalkan 30 sertifikat yang sudah diterbitkan di Kecamatan Sukarame, Bandarlampung, beberapa waktu lalu. BPN Kota Bandarlampung juga diduga menerbitkan sertifikat Aspal di Kelurahan Bumi Waras, Kecamatan Bumi Waras pada tahun 2013 lalu.

Sertifikat tersebut dikeluarkan tidak mengacu pada hak milik sah pemegang sertifikat tanah, baik itu surat keterangan tanah (SKT), surat hibah maupun surat jual beli tanah.

Sehingga banyak tanah warga yang bersertifikat ganda. Seperti yang dialami oleh Muhammad Soleh, pemilik sah lahan seluas 16 hektare di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Bumi Waras yang terletak tidak jauh dari Gunung Kunyit.

Muhammad Soleh adalah salah satu warga yang merasa dirugikan. “Jadi tanah saya itu warisan keluarga saya, tapi sekarang sudah dicaplok orang lain. Karena ada sertifikat ganda,” kata dia. Soleh menjelaskan, dirinya merupakan pemilik sah lahan tersebut. Hal ini dapat dibuktikan melalui surat hak atas tanah ulayat pada tahun 1965.

Soleh telah mengajukan pembuatan sertifikat ke BPN dan keluar peta lokasi dengan nomor 311 atas nama Muhamad Soleh. Namun, BPN belum menerbitkan sertifikat atas nama dirinya dengan alasan sedang diproses.

Hingga tahun 2012, sertifikat tersebut pun belum diterbitkan oleh pihak BPN, dengan alasan yang sama, yakni masih diperoses. “Namun informasi yang berkembang, BPN malah mengeluarkan sertifikat lahan atas nama orang lain di lahan saya, bukan atas nama saya, yakni atas nama salah satu pengusaha etnis tionghoa,” kata dia.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan, Bagian Humas BPN Kota, Juanda  dan Kepala BPN Zulyanto belum bisa dikonfirmasi. Beredar kabar, uang pelicin yang ada di tiap-tiap loket itu juga disetorkan pada Kepala BPN Kota Bandarlampung. (ADE CAFESA)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *