1 views

Pembunuh Anton di OT Sering Pesta Narkoba

HARIANFOKUS.COM- Apresiasi layak diberikan pada anggota Polres Tanggamus. Pasalnya, hanya butuh waktu sekitar 48 jam sudah mampu membekuk para tersangka pembunuh Anton Suherli (27). Dimana akibat tragedi itu, Tanggamus jadi zona berhibur yang mengerikan (Hiburan OT sampai Subuh).

Rendiansyah (23) tersangka, diduga punya dendam pada almarhum Anton. Dia bersama Aprisandi atau yang akrab disapa San, diduga menjadi pemicu pengeroyokan dan penganiayaan yang berujung pada tewasnya Anton Suherli. Penusukan hingga berujung tewasnya Anton itu terjadi bersamaan dengan acara hiburan organ tunggal (OT) di Dusun Tengos, Pekon Sanggi, Kecamatan Bandar Negeri Semuong.

“Ya benar, satu tersangka bernama Rendiansyah sudah kami tangkap, Kamis (29/10) sekitar pukul 07.00 WIB. Tersangka merupakan warga Pekon Banding (satu pekon dengan korban). Namun saat kami tangkap, tersangka sudah beberapa kali sempat berpindah tempat persembunyian. Tapi masih di lingkup Kabupaten Tanggamus,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Tanggamus, Samsuri, Kamis (29/10) sore.

Saat ditangkap, lanjut Kasat Reskrim, Rendiansyah sudah tidak berada di rumahnya. Tersangka bersembunyi dan meminta perlindungan kepada Yuniar di Pekon Dadirejo, Kecamatan Wonosobo. Sebelumnya, tersangka juga sudah dua kali berpindah tempat persembunyian. Pertama setelah kejadian, tersangka berlindung pada Zirin, warga Pekon Sanggi. Merasa tak aman, dia lantas bersembunyi ke rumah Mirzani di Pekon Kandangbesi, Kecamatan Kotaagung Barat. Dan akhirnya sampailah di rumah Yuniar.

“Bisa dibilang, saat upaya penangkapan Rendi ini, kami dapat bonus. Karena target utama kami berhasil didapatkan. Bonusnya, hasil tes urin terhadap Yuniar, Mirzani, dan Zirin menunjukkan bahwa ketiganya positif mengkonsumsi barang terlarang yang mengandung amphetamine/metamphetamine. Ada kemungkinan, antara Rendi dengan ketiga warga yang membantu pelariannya, sudah sering pesta narkoba bersama. Saat ini, mereka bertiga masih diperiksa Sat Narkoba,” kata Samsuri.

Ketika ditanyai lebih lanjut soal senjata tajam (sajam) jenis apa yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban, Samsuri belum bisa menjelaskannya. Sebab sampai Kamis siang, keterangan dari tersangka masih sangat minim dan sikapnya sangat tidak kooperatif terhadap para penyidik. Sehingga, keterangan yang didapatkan penyidik dari tersangka, juga masih sangat terbatas.

“Apa senjata yang digunakan, lalu dibuang ke mana senjata yang seharusnya menjadi barang bukti itu, masih kami dalami. Tersangka memang punya hak untuk bungkam. Tinggal kita lihat saja nanti akhirnya, kebungkamannya itu pasti akan menambah berat hukumannya. Kalau keterangan dari empat orang saksi yang sudah kami periksa, semua mengarah pada dia,” tegas Samsuri seraya menegaskan tak mau tergesa-gesa menangkap orang jika tak ada dasar yang kuat.

Lalu terhadap Yuniar, Mirza, dan Zirin yang membantu pelarian tersangka, saat ini sedang diperiksa Sat Narkoba terkait positifnya hasil tes urin mereka. Untuk selanjutnya, menurut Samsuri, apabila seseorang melanggar undang-undang antara lex spesialis dengan lex generalis, maka yang diutamakan adalah unsur lex spesialisnya.

“Sementara ini terhadap Rendiansyah, kami terapkan pasal 170 dan atau 351 KUHP tentang pengeroyokan dan atau penganiayaan berat (anirat), dengan ancaman lima tahun penjara,” tandas Samsuri sambil mengatakan satu tersangka lagi akan menyusul secepatnya.

Penangkapan tersebut, berawal pada Rabu(28/10) dini hari. Di tengah dentuman house musik OT yang membawa petaka, dimana Anton Suherli (27) warga Pekon Banding, Kecamatan Bandar Negeri Semuong tewas ditusuk saat asik berjoget.

Menyerahkan Diri di Polda

Aprisandi atau San, warga Pekon Gunung Doh, Tanggamus yang menjadi tersangka rekan Rendiansyah, pembunuh Anton Suherli, menyerahkan diri ke Polda Lampung, Kamis (29/10/2015) malam. San, diterima langsung oleh Kapolda Lampung Brigadir Jenderal Edward Syah Pernong dan Wakapolda Komisaris Besar Boni Tampoi. Aprisandi menyerahkan diri diantar keluarganya.

Edward mengatakan, pihaknya akan melarang pelaksanaan OT di malam hari. Menurut dia, hiburan OT hanya diperbolehkan pada siang hari. Ini dikarenakan panggung OT rawan terjadi tindak pidana. Salah satunya adalah sebagai tempat peredaran narkotika.

Beberapa modusnya, tutur Kapolda Lampung itu, para pemilik OT sengaja menggratiskan kepada orang yang mempunyai acara pesta. Dengan begitu, kata Edward, mereka bisa bebas menggelar house music hingga dinihari. Disitulah, narkoba mulai beredar.

Orang yang sudah terkena narkoba, menurut Edward, emosinya tidak terkontrol. “Senggolan saja bisa terjadi keributan,” kata dia. “Inilah yang terjadi pada kasus pembunuhan Anton. Hanya lihat-lihatan berujung kematian,” ucap Edward. (ODO/WAWAN/RED)

Bagikan berita ini:

Satu tanggapan untuk “Pembunuh Anton di OT Sering Pesta Narkoba

  • 12 Oktober 2016 pada 13:38
    Permalink

    Khusus untk daerah kotaagung sampai ke semaka, mash sering terjadi tindak kejahatan khususnya pembegalan sampai dibunuh para pelaku, namun sudah bertahun2 knapa masih tidak aman, jd sprti tidak ada tindakan dr para penegak hukum atau polsek stempat, narkoba merajalela, sasaranya para pemuda bhkan pelajar, yg tdk punya kerjaan untk mghasilkan uang untk beli narkoba, akhrnya mencuri dan begal, atau memalak utk dpt uang, harusnya jika sudah bnyk yg tertangkap kenapa mash bnyk pelaku kejahatan, logikanya apa tdk ditelusuri olh pihak yg berwajib, pelaku kejahatan seolah2 tdk takut, dan merasa seperti ada yg melindungi, atau dibelakang semua ini, otak dr semua ini sepertinya tdk bs terjamah apakah karna begitu kuatnya para pelaku atau lemahnya penegak hukum.. Perbanyaklah media yg bisa mengantarkan hal ini trhadap pemerintah, masyarakat ingin hdp aman nyaman dan tenang, daerah yg aman cpt maju, hanya daerah wonosobo sampai semaka yg tdk pernah maju.. Trimakash

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *