52 views

Kematian Anton di Tanggamus Dipicu Teriakan ‘Mengan Balak’

HARIANFOKUS.COM- Terungkap,  fakta menarik dalam tewasnya Anton Suherli (27)  selain hiburan mengerikan di Tanggamus. Tepatnya di Dusun Tengos, Pekon Banding, Kecamatan Bandarnegeri Semuong yang menggelar pesta organ tunggal hingga subuh. Melayangnya nyawa Anton Suherli ternyata dipicu kesalahpahaman akibat hal sepele antara korban (Anton Suherli) dengan kedua tersangka, Aprisandi (25) alias Sandi dan Rendiansyah (23).

Sehari sebelum malam kejadian, menurut Kapolres Tanggamus AKBP Ahmad Mamora, S.I.K. di Mapolres setempat, Sabtu (31/10) siang. Perselisihan antara Anton Suherli dengan dua tersangka pembunuhnya (Aprisandi dan Rendiansyah) yang sudah ditangkap dan menyerahkan diri, berawal pada Selasa (27/10) sekitar pukul 14.00 WIB. Ketika korban sedang makan di rumah makan milik Sugianto alias Antok, di Pekon Srikuncoro, Kecamatan Semaka. Di rumah makan tersebut, juga ada Rendiansyah bersama rekannya, Man alias Blank. Sejurus kemudian, melintaslah Aprisandi.

Merasa ada dua rekannya dalam rumah makan tersebut, Aprisandi menegur sambil berkata dengan nada teriak. ”Mengan balak (makan besar) Man?”

Mendegar teriakan tersebut, rupanya Anton merasa tersinggung, padahal Aprisandi bermaksud menegur dua rekannya, bukan Anton. Sehingga terjadilah ribut mulut antara tersangka Aprisandi dengan Anton. Melihat ribut mulut tersebut, Rendiansyah pun keluar dari rumah makan sambil membawa sebilah golok.

Setelah ribut mulut mereda, korban Anton meninggalkan kedua tersangka. Adu mulut tersebut, rupanya membuat Rendiansyah emosi dan berkata kepada Aprisandi, ‘gasak…!!!’.  Saat dalam perjalanan pulang, Aprisandi yang berboncengan dengan Rendiansyah rupanya bertemu kembali dengan Anton di jembatan Waysemaka. Anton kemudian menghentikan laju motor Aprisandi, sehingga ribut mulut kembali terjadi namun dapat dilerai warga.

Kemudian, sekira pukul 19.00 WIB, Aprisandi mengajak Rendiansyah menonton hiburan organ tunggal yang menjadi hiburan terfavorit warga Tanggamus. Dalam arena hiburan yang khas menyajikan musik remix tersebut, rupanya kedua tersangka kembali bertemu dengan Anton. Melihat kedua tersangka, sekitar pukul 02.00 WIB, Anton mendatangi kedua tersangka yang sedang berdiri di pinggir jalan raya.

Anton justru yang kemudian menghampiri kedua tersangka, dan kembali terjadi ribut mulut. Pada saat Rendiansyah dan Aprisandi masuk ke dalam tarup, Anton pun masih terus membuntuti. Merasa risih dibuntuti, Aprisandi lalu menanyakan kepada Anton, apakah sudah tidak ada jalan terbaik lagi. Lalu korban menjawab tidak ada dengan nada keras. Mendengar ucapan tersebut, Rendiansyah lantas mendorong Anton yang saat itu membawa golok yang diselempangkan di pundaknya.

Saat terdorong mundur, Anton lalu mencabut goloknya bermaksud menyerang Sandi. Mengetahui hal tersebut, Sandi mundur dan spontan mencabut badik dan menghunuskan badiknya ke perut Anton bagian bawah. Setelah itu, Aprisandi langsung melarikan diri. “Anton memang sempat dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal dalam perjalanan. Anton meninggal dengan satu luka tusukan yang cukup dalam,” beber Kapolres.

Setelah memeriksa saksi yang jumlahnya mencapai 14 orang, Satreskrim bersama Polsek Wonosobo mulai bergerak mengejar dua tersangka. Setelah lebih dari 24 jam melakukan pengejaran, polisi awalnya membekuk Rendiansyah, yang bersembunyi di rumah Yuniar di Pekon Dadirejo, Kecamatan Wonosobo, pada Kamis (29/10) pagi. Malam harinya, didapatkan informasi bahwa satu tersangka lagi, yaitu Aprisandi didampingi kerabatnya, menyerahkan diri langsung ke Polda Lampung. (baca: Pembunuh Anton Sering Pesta Narkoba )

”Selama dalam proses penyidikan kami (polisi), baik Aprisandi maupun Rendiansyah sempat saling lempar, soal siapa yang menusuk Anton. Tetapi berdasarkan keterangan saksi-saksi di tempat kejadian perkara (TKP), semua petunjuk mengarah ke Aprisandi,” ujar Kasatreskrim Porles Tanggamus, Mamora.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya menghilangkan nyawa orang lain, kedua tersangka diancam dengan pasal 170 dan pasal 351 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokkan dan penganiayaan berat (anirat), dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan oleh polisi, yakni satu bilah badik dengan panjang 25 cm, satu helai kemeja lengan panjang kotak-kotak berwarna kombinasi hijau, putih, hitam, satu helai celana pendek warna cream dan singlet warna hitam terdapat luka robek. (ODO/RED)

Bagikan berita ini:

Satu tanggapan untuk “Kematian Anton di Tanggamus Dipicu Teriakan ‘Mengan Balak’

  • 10 Juni 2017 pada 12:12
    Permalink

    beliau ( alm ) anton suherli adalah saudara saya knapa k’2 trsangka bgtu tega trhadap kluarga saya…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *