14 views

Ironi Hari Pahlawan

KITA bisa bangga jika banyak Pahlawan Nasional berasal dari sai bumi ruwa jurai. Akan tetapi, pewarisan nilai kepahlawanan tentu jauh lebih penting dibanding euforia dan pernak-pernik upaya meraih gelar pengakuan sebagai pahlawan.

Persoalan ini penting dikajiurai sebab, momentum peringatan Hari Pahlawan Rabu, 10 November 2015 menjadi penanda bahwa kita masih sering terbelenggu “sekadar pengakuan” dibanding substansi. Seperti, merayakan hari pahlawan dengan menabur bunga di tengah laut yang penuh sampah sampai kapal yang ditumpangi beberapa kali berhenti akibat tersangkut sampah. Mendorong seseorang diakui jadi pahlawan nasional sementara makam keramat Raden Intan II, justru diurus Taman Purbakala Banten. Tidak pernah sekalipun, Pemkab Lamsel maupun Pemprov Lampung memberi perhatian menjadi ironi tersendiri.

Upaya penganggaran lewat APBD Lamsel pernah diusulkan pada tahun anggaran 2005, ditolak DPRD. Sampai sekarang, perhatian atas kerabat keturuanan Raden Intan II atau cagar budaya di makam keramat itu, tak pernah didatangi meski sebatas tabur bunga.

Kita ketahui, 2014 lalu tema Hari Pahlawan yang ditetapkan Menteri Sosial adalah “Pahlawanku Idolaku” yang mengingatkan kita pada lirik lagu Wali Band “Nenekku Pahlawanku”. 2015, Menteri Sosial menetapkan tema “Semangat Pahlawan Adalah Jiwa Ragaku”.

Bangsa ini benar-benar kehilangan elan vital dan sensibilitas. Nilai kepahlawanan tak pernah aplikatif, pengakuan kepahlawanan pun cenderung politis. Gagasan peringatan hari pahlawan agar dapat dimaknai untuk menambah semangat dalam membangun bangsa dan negara dengan terus bekerja nyata, tulus dan ikhlas benar-benar jadi omong kosong, ketika Mahkamah Agung memvonis seseorang merugikan negara sampai 4,9 triliun diusung jadi pahlawan nasional. Didukung politisi yang naik lewat gerbong reformasi, yang selama ini abai atas kondisi makam pahlawan nasional dari kampungnya.

Kita harus mendukung para pejuang jadi pahlawan, kita juga wajib mentauladani semangat membebaskan diri dari penjajah yang digelorakan para pahlawan. Akan tetapi, membuang sampah sembarang dan melihat tumpukkan sampah di tengah upacara, merupakan ironi tersendiri.  (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *