18 views

Nasgor Pinggir Jalan dengan Rasa Restoran

HARIANFOKUS.COM- Sebagaimana lazimnya pulang tengah malam, perut selalu merasa lapar. Seperti biasa juga, hanya ada pedagang nasi goreng (nasgor) yang masih bertahan sampi dinihari. Tentu selain makanan cepat saji dan nasi uduk.

Di Jalan Zainal Abidin Pagaralam, Bandarlampung, Jumat (20/11) dini hari, berhenti. Memesan nasgor. “Telurnya dua,” kata saya.

Sebagai penggemar nasgor, saya nyaris paham semua rasa. Biasanya, nasgor di pinggir jalan dengan gerobak, rasanya selalu  serupa. Sebab, mereka diracik dengan bumbu yang sama dan di bawah naungan satu orang. Terutama di kawasan sekitar jalan Zainal Abidin Pagaralam.

Mata saya mendelik ketika ditanya rasa apa? Langsung teringat sajian bernomor ala “nasgor mafia” yang ada di jalur itu juga. Setahu saya, nasgor gerobak yang ada di trotoar tak mengenal rasa macam-macam. Dan selalu mengucap. “Telurnya dua karena saya lelaki.”

Biasanya, pedagang langsung paham. Tersenyum. Satu didadar, satunya dicampur. Ipung, nama anak muda pedagang nasgor yang saya singgahi mengernyit. Sambil senyum ia berucap. “Ini suasananya dingin, jadi lada hitam saja ya, Pak. Biar hangat.”

Tak menoleh dan sibuk melamun, saya mengiyakan.

Begitu tersaji, saya terkejut. Ini nasgor benar-benar lain. Dengan tiga irisan timun, satu iris tomat buah dan bertopi telur serta bertabur kerupuk, terhidang di piring dari anyaman lidi dan kertas bungkus nasi yang sudah digunting seukuran piring unik tersebut. Tampilannya cukup menarik untuk ukuran nasgor gerobak.

Saya sendok, dan kunyahan pertama langsung membuat mendelik. Rasanya gurih pedas, tajam rasanya namun tidak galak sebagaimana nasgor khas Thailand atau Cirebon. Terasa namun tidak membuat jeleh. “Ini rasa apa?” tanya saya. Langsung dijawab lada hitam. Langsung saya tanya, berapa harganya.

Ipung sapaan akrab pedagang yang bernama asli Purnomo itu menjelaskan, seolah takut dibilang mahal karena saya bertanya sambil mendelik. “Pakai telur dua, dan harga lada hitamnya sekarang mahal, Pak. Jadi sepiring Rp.15 ribu.”

Selain lada hitam, ada rasa apa lagi? Ipung menjelaskan dengan cepat. “Ada sea food, rasa teri, lada hitam.” Belum sempat dia nyerocos saya potong dengan pertanyaan, berapa harga seafood. “Rp.13 ribu.”

Tentu saya membandingkan dengan harga nasgor gerobak lain, kalau kenal dapat harga Rp.10 ribu. Lebih sering, kena harga Rp.12 ribu.

Naluri ingin mencicip lebih pun muncul. Seorang pembeli di sebelah saya, langsung saya tanya rasa apa. Begitu dijawab rasa teri, tanpa permisi saya menyendok piringnya. Rasanya sangat khas, teri yang tajam dipencecap. Sangat nikmat. Saya manggut-manggut, dan tanpa sadar mengucap. “Enak.” Tanpa sadar juga, orang yang piringnya saya cicip mendelik heran.

Ternyata, nasgor yang diawaki Jajang, mantan karyawan di restoran Kopitiam dan Ipung pernah kerja di Bakmie Raos, Jakarta itu memadukan kemampuan mereka mengolah masakan dan meracik bumbu menjadi menu nasgor spesial.

“Ya, sebelum jualan nasgor di sini saya kerja di Bakmie Raos, Jakarta dan Samarinda,” kata Ipung.

Ternyata, di sebelah gerobaknya ada papan menu. Tersedia juga nasgor hongkong. Menurut Jajang, nasgor hongkong itu di atas rasa spesial. Ada jagung dan sayur mayurnya, seperti buncis dan lain-lain. Dia juga menjual mie yang pasti mengejutkan rasanya untuk para pecinta kuliner di Bandarlampung.

Saya menulis ini, masih manggut-manggut. Merasakan cecap rasa nasgor ala Ipung dan Jajang di Jalan Zainal Abidin Pagaralam. Nasgor yang dijual lewat gerobak pinggir jalan namun berasa dan berkelas restoran. Bukan saja mengenyangkan, juga memanjakan lidah.  Sayangnya, belum ada menu nasgor pete. (endri)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *