31 views

Potret Sekolah Unggulan yang Tak Terurus (1)

Posisi SMK Negeri 2 dan 3 di Poncowati, Terbanggi Besar berhadap-hadapan. Namun seperti bumi dan langit, ketimpangan di sekolah itu sangat jelas terlihat.

FOKUS- Masuk kepelataran SMK Negeri 3 yang terletak di Poncowati, Terbanggi Besar, Lampung Tengah, serasa disodori potret sekolah yang tak terurus. Diajar oleh guru-guru buangan, dan semua fasilitas kegiatan belajar mengajarnya, berdebu. Kalau tak boleh dibilang buruk.

SMN Negeri 3 Terbanggi Besar jauh tertinggal jika dibandingkan dengan SMK Negeri 2 yang berada di depannya. Hanya dipisahkan jalan raya. Fasilitas sekolah, jumlah murid, dewan guru dan kedisiplinan belajar mengajar pun, jauh berbeda.

Hal ini dibuktikan dengan penelusuran langsung Fokus ke kedua sekolah tersebut untuk membandingkan diantara keduanya. Dilihat dari jumlah laboratorium komputer saja sudah jauh tertinggal, SMKN 2 Terbanggi Besar memiliki setidaknya tujuh lab, modern dan kondisi alat terbaru untuk berbagai jurusan yang ada dan sudah dilengkapi dengan AC.

Sementara SMK Negeri 3 hanya memiliki 2 lab. Itupun kondisi komputernya sudah banyak rusak dan kondisi ruangan penuh debu.
Dengan dua lab itu, tidak mencukupi dari jumlah siswa yang ada. Mereka harus berbagi komputer untuk pembelajaran. Belum lagi tidak ada AC seperti sekolah tetangganya, sehingga kesan kumuh dan berantakan sangat jelas.

Dilihat dari jumlah siswanya sendiri, SMKN 2 Terbanggi Besar jauh lebih banyak peminatnya dibandingkan dengan SMKN 3. Tercatat di SMKN 2 lebih dari 1000 siswa, sementara SMKN 3 hanya memiliki 400 siswa.

Padahal SMKN 3 Terbanggi Besar memiliki satu jurusan, satu-satunya di Provinsi Lampung yaitu Desain Komunikasi Visual.

Seharusnya dengan adanya jurusan tersebut SMKN 3 Terbanggi Besar mampu bersaing dengan tetangganya. Tetapi karena fasilitas yang ada kurang mendukung akhirnya SMKN 3 Terbanggi Besar pun sepi peminat.

Untuk diketahui, Desain komunikasi visual adalah ilmu yang mengembangkan bentuk bahasa komunikasi visual berupa pengolahan pesan-pesan untuk tujuan sosial atau komersial, dari individu atau kelompok yang ditujukan kepada individu atau kelompok lainnya. Pesan dapat berupa informasi produk, jasa atau gagasan yang disampaikan kepada target audience, dalam upaya peningkatan usaha penjualan, peningkatan citra dan publikasi program pemerintah.

Jurusan ini digadang-gadang pemerintah sebagai jurusan masa depan karena kedepan DKV ini mampu menjadikan siswa untuk masuk dalam industri kreatif. Tetapi akibat kurang perhatian dari pemerintah. Fasilitas untuk medukung pembelajarannya tidak siap. Di sekolah hanya ada satu lab desain, dengan kondisi mengenaskan.

Guru yang adapung tidak mengerti dengan kondisi yang ada di sekolahnya. Mengapa membuka jurusan DKV, padahal tidak mampu untuk memberikan fasilitas yang ada memadai. “Karena sekolah ini milik pemerintah, yah kami tidak tidak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang guru yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Fokus (18/11) lalu.

Proses penempatan guru pun, menurut dia, benar-benar orang buangan. “Artinya, guru PNS yang malas dan tidak kreatif, pasti di sini. Plus yang honor-honor titipan,” kata dia. (dion)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *