0 views

Memimpin itu Berarti Tambah Kaya

FOKUS- Di era kemerdekaan, para pendiri Republik Indonesia, pemimpin banyak yang berprinsip leiden is lijden atau memimpin itu menderita. Namun sekarang, para pemimpin khususnya gubernur, walikota atau bupati berprinsip kebalikannya, menjadi pejabat berarti tambah kaya. Bukan melayani masyarakat. Melainkan minta dilayani.

Hal itu terkuak ketika konfrensi pers tentang Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN) dari masing-masing pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandarlampung yang akan berlaga pada 9 Desember nanti.

Tobroni Harun adalah contoh konkritnya. Siapa orang yang mengenal mantan Ketua PBR dan gagal sebagai calon legislatif itu sebelum jadi wakil walikota Bandarlampung dan jadi Ketua DPD PAN di kota tapis berseri. Meski tak bisa dijustifikasi keliru, ketika memimpin hartanya bertambah secara tak wajar, tetap layak dicurigai. Sebab, sebagai pejabat dan pelayan masyarakat, Tobroni Harun berbeda dengan mantan pasangannya, Herman HN yang kini jadi lawan memperebutkan kursi Walikota Bandarlampung.

Herman HN menurut LHKPN per November 2015, hartanya turun sekitar 560 juta. Sementara Tobroni Harun naik 2,8 miliar.

KPU Bandarlampung yang mengekspos LHKPN calon walikota, Herman HN memiliki harta paling banyak yakni mencapai 9,3 miliar. Rincian jumlah ini yakni, harta tidak bergerak 7,8 miliar, harta bergerak 1,2 miliar, harta bergerak lain 105 juta, surat berharga 112 juta.

Sementara itu, di Lampung Tengah misalnya, dulu LHKP menjelang Pilkada 2010 terkecil adalah harta cawabup Mustafa Rp 10.255.628.365. Saat ini, meski belum dirilis Mustafa bisa dipastikan punya harta kekayaan paling banyak di antara calon lain. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *