15 views

Perpusda Lampung Dipermalukan Perpustakaan Belanda

FOKUS Perpustakaan Daerah (Perpusda) milik pemerintah provinsi, layak disebut, dipermalukan perpustakaan Belanda. Pasalnya, dari kunjungan sastrawan Lampung Arman AZ selama 20 hari, beberapa buku bersejarah dari Lampung, tak ada di Perpusda. Justru nangkring di perpustakaan Leiden, Belanda.

“Buku itu seperti Cerita Rakyat Lampung, Permainan Rakyat Lampung, dan beberapa manuskrip yang terkait dengan sejarah dan kehidupan masyarakat Lampung pada masa lalu,” kata Arman AZ pada Fokus, ketika diwawancari di DeArte Café, Bandarlampung.

Arman bersama Panji Utama dan Isbedy Stiawan ZS berkunjung ke Belanda dalam rangka mencari sejarah sai bumi ruwa jurai. Beberapa permainan rakyat yang tertulis di buku itu misalnya, jelas Arman, diketik rapi pakai mesin tik manual dan berbahasa Lampung.

“Ada semacam grafis dan gambar untuk menjelaskan permainan Betengan misalnya,” kata dia.

Gobak sodor atau bahasa Lampungnya atatulan dan auwakan atau betengan, menurut Arman, permainan anak-anak itu dengan detil digambarkan dalam buku yang disimpan di perpus Leiden.

Sementara itu, Perpusda yang di bawah koordinasi Badan , Arsip dan Dokumentasi Daerah Provinsi Lampung yang dipimpin Herlina Warganegara, diwawancarai Fokus, pada Senin (30/11) menjelaskan, saat ini daerah sedang defisit anggaran. Jangankan untuk pengadaan buku baru, merawat buku yang sudah ada pun dirasa sulit. Selain buku-buku kuno tentang Lampung juga tidak ada.

Namun demikian, mantan Kadis Pariwisata dan Ekraf itu menjelaskan, pihaknya terus melakukan inovasi untuk menyosialisasikan masyarakat agar gemar membaca. Yakni dengan memaksimalkan Perpus Keliling.

“Minat pembaca saat ini terbilang masih minim. Itu dikarenakan banyaknya faktor, salah satunya jauhnya jarak perpustakaan. Dengan adanya perpustakaan keliling ini kita harapkan bisa membangkitkan kemauan di bidang membaca,” kata dia, Senin (30/11).

Herlina menjelaskan, perpustakaan keliling sudah beroperasi dan akan menyambangi semua wilayah se-Lampung. “Sudah mulai beroprasi sejak Minggu (29/11) dimulai dari Kota Bandarlampung. Sambil melakukan observasi titik lokasinya dimana saja yang pas, sebab jangan sampai mubazir,” ujarnya.

Sementara itu, untuk armada yang digunakan ada tiga unit. Setiap mobil, di dalamnya terdiri dari fasilitas berbagai buku dan kursi. Mekanismenya, ketika perpustakaan ini berhenti, akan dibuka dan disediakan tempat duduk untuk masyarakat dengan waktu kurang lebih dua jam. (fery/dre)

Bagikan berita ini:

2 tanggapan untuk “Perpusda Lampung Dipermalukan Perpustakaan Belanda

  • 3 Desember 2015 pada 09:51
    Permalink

    itusih si ARmannya aja yang mau jalan-jalan ke Belanda, aneh mau mencari sejarah lampung kok malah jalan ke Belanda, dengan alasan Arsip sejarah lampung dibawa ketika zaman kolonial, itu silahkan aja berdalih begitu, tapi lampung masih ada penduduknya, masih banyak warga yang mengetahui persis sejarah lampung. akal akalannya Arman itu, karena dia mau jalan-jalan.

    Balas
  • 14 Mei 2017 pada 13:14
    Permalink

    sejarah itu tersurat!! kalau nggak ada bukti tertulis,file ataupun arsip itu namanya dongeng gosip etc. Belanda punya budaya arsiparis yg bagus, dokumennya dirawat bener2 apalagi preservasi konservasi canggih. Ga semua dokumen ada di indo, ke Anri pun belum tentu dpet. Klo arsip abad 19 ga dibawa kesana mungkin udah pd ancur. Gara gara kurang jalan jalan otak ente yg kesumpel,makanya sering jalan jalan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *