5 views

KPU Lampung Memang Hebat

FOKUS- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung memang hebat. Lembaga penyelenggara pemilu ini membawa harum nama Lampung dengan torehan prestasi ditingkat nasional. Kehebatan KPU Lampung terbukti setelah berhasil menggelar dua pesta demokrasi yang dibarengkan yakni pilgub dan pileg pada tahun lalu. Hasilnya Lampung menjadi baromoter pemilu di Indonesia.

Kehebatan KPU Lampung pada pilkada 8 kabupaten/kota se Lampung yang akan digelar serentak kembali terbukti. Dari beberapa gugatan sengketa yang dilakukan oleh calon semuanya dimenangkan KPU Lampung.

 

Anggota KPU Lampung Sholihin mengatakan, pihaknya menerima lima gugatan dari calon selama tahapan pilkada. Gugatan berasal dari daerah Pesibar, Pesawaran, Lamtim, dan Bandarlampung.

 

Gugatan yang pertama yang diterima adalah dari pasangan Juwilir Syam – Al Saqiq. Pasangan yang diusung Partai Golkar, Gerindra dan PPP ini tidak dapat maju Pilkada, karena persyaratan pencalonan kurang. Dua partai pengusung ini memiliki dua kubu kepengurusan.

 

“Pasangan ini ajukan sengketa terkait persyaratan pencalonan. Hasil sidang di Panwaslu, gugatan mereka ditolak seluruhnya, dan tidak melanjutkan gugatan ke PT TUN (Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara) dan MK,” kata dia pada Rakor pemantapan Pilkada di Hotel Novotel, Selasa (1/12).

 

Kedua, gugatan sengketa di Pesawaran oleh pasangan Musirwan – Doni Barata. Pembacaan amar putusan yang dilakukan pada sidang Panwaslu Pesawaran, Minggu (16/8), menolak permohonan pemohon. Kemudian pemohon diberi waktu tiga hari apabila tidak menerima putusan musyawarah maka dipersilakan banding ke PT TUN, namun tidak dilakukan.

 

Pertimbangan Panwaslu, kata Sholihin, karena dari hasil pemeriksaan alat bukti, pemohon tidak dapat menunjukan alat bukti yang diminta pimpinan sidang. Yakni rekomendasi asli dari DPP PKB mengusung balonkada Musiran – Doni Barata serta rekomendasi Golkar dari dua kubu, yakni Agung Laksono dan Aburizal Bakrie.

 

“Yang jelas pada pembuktian alat bukti, rekomendasi dari PKB itu berupa foto copy dan tidak dapat menunjukan yang asli. Selain itu, rekomendasi DPP PG hanya satu versi yakni dari versi Agung Laksono. Seharusnya kedua kubu memberi rekom kepada calon yang sama,” terangnya.

 

Sengketa Pilkada yang sampai ke tingkat Mahkamah Agung (MA), sambung dia, ada di Bandarlampung dan Lampung Timur. Di Lamtim gugatan diajukan pasangan balonkada jalur perseorangan, Yulianto-Achroji, KPU tidak menetapkan pasangan ini menjadi calon karena syarat dukungan kurang. Pada sidang Panwaslu dan PT TUN juga menolak permohonan pemohon.

 

“Meraka kasasi ke MA ditolak. Sama seperti gugatan pasangan Tobroni – Komarunizar juga ditolak MA. Pasangan calon yang maju Pilkada Bandarlampung ini menggugat terkait rolling pejabat Pemkot Bandarlampung,” paparnya.

 

Sengketa yang masih berlangsung yakni gugatan peninjauan kembali (judicial review) UU Pilkada dan PKPU nomor 9 tahun 2015, oleh Erwin Arifin di MK. “Erwin digugurkan sebagai calon karena wakilnya meninggal. Pada sidang Panwaslu juga pemohonan ditolak, dia tidak banding ke PTTUN, tapi menggugat ke MK, terkait pasal UU Pilkada,” tandasnya. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *