5 views

Pendidikan Seksualitas Bagi Remaja

JAKARTA – Berdasarkan hasil riset, remaja yang melakukan seks bebas di luar pernikahan belum mendapat pendidikan seksual secara lengkap. Artinya, mereka belum mendapatkan pengetahuan yang cukup sebelum melakukan aktivitas seks.

Guna mengurangi dampak seks bebas, pendidikan seksual komprehensif menjadi salah satu cara untuk membantu remaja dalam memperoleh pengetahuan seks yang komplet, terutama saat masa pubertas.

“Pendidikan seksualitas komprehensif pada masa perkembangan akan membantu remaja supaya lebih sehat karena mencakup banyak aspek, tidak hanya tentang hubungan seksual,” ujar Technical Advisor Youth and Sexual Health, Rutgers Belanda, Jo Reinders, di acara Comprehensive Sexuality Education (CSE) Fair 2015.

Jo mengungkapkan, seksualitas merupakan hal yang personal. Begitu juga seksualitas antara remaja dan dewasa juga berbeda. Menurutnya, setiap umur punya spesial aspek yang perlu menjadi fokus dalam pendidikan seksual.

“Kita harus memberikan pendidikan yang lengkap. Remaja harus bisa bernegosiasi dengan pasangannya. Bagaimana bisa membuat konsensus tentang alat kontrasepsi guna melindungi diri,” paparnya.

Dalam pendidikan seksual komprehensif, kata Jo, ada tiga hal utama yang harus dipahami setiap remaja. Pertama, yakni adalah pengetahuan yang lengkap dan benar.

“Kemudian kedua adalah sikap untuk menolak atau melakukan dengan cara yang aman dan tahu apa konsekuensinya. Sedangkan ketiga adalah keterampilan untuk berbegosiasi dengan pasangan,” ucapnya.

Melakukan aktivitas seksual merupakan suatu keputusan. Oleh karena itu, sebelum melakukannya harus bisa mengenali diri sendiri dulu.

“Saat membuat keputusan berarti kamu harus punya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pendidikan seksual bukan mengajarkan seks, tapi belajar tentang siapa saya, apa yang saya rasakan, gender, relasi antarmanusia, serta apakah saya nyaman,” sebutnya.

Jo menambahkan, memaknai seksualitas harus dengan positif. Pasalnya, seksualitas adalah hal yang indah dan manusiawi, namun juga aspek yang mengandung risiko.

“Jadi juga memikirkan konsekuensinya, seperti kehamilan, kekerasan seksual, dan pelecehan seksual. Itulah kenapa disebut pendidikan seksualitas komprehensif,” tukasnya. (Oz).

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *