15 views

Serunya Suap pada Warga di Malam Tenang

Pemilihan kepala daerah besok, 9 Desember dihelat enam kabupaten dan dua kota di Lampung. Memang ada kesan, berbeda. Terutama jika dibandingkan dengan Pilkada sebelum digelar serentak. Akan tetapi, beberapa dusun tercatat sangat panas. Mengalahkan iklim persaingan ketika pilihan Kepala Desa. Inilah liputannya, dilaporkan tim redaksi harianfokus.com

Alhamdulillah…Habis Istighosah dapat Amplop dan Mie Jablay

HARIANFOKUS.COM- Warga dan sejumlah pemuda dari Dusun Jepun, Kecamatan Natar baru saja pulang dari rumah calon wakil bupati Eki Setyanto, Selasa (8/12) malam ini. Mereka mengaku gembira.

Merasa tak sia-sia datang jauh-jauh ke Desa Merak Batin untuk ikut istighosah. Sebab, pulang membawa oleh-oleh. “Alhamdulillah, habis istighosah dapat amplop yang berisi uang Rp.50 ribu dan paket sembako,” ujar Suratman.

Ratman, sapaan akrab pemuda di Dusun Jepun itu menjelaskan, paket sembako itu berisi antara lain. “Ada minyak goreng merk Siip, gula merk PSM, dan mie jablay,” kata dia, Selasa (8/12).

Ditanya apa itu mie jablay, Ratman justru tertawa.  “Ndusun amat, mie jablay saja tidak tahu.”

Senada dengan Ratman, warga yang rumahnya di Sitara (sebutan untuk jalan masuk ke arah Desa Pancasila Kecamatan Natar), Wagiman kepada harianfokus.com mengatakan, secara  bergelombang warga Natar berduyun-duyun mendatangi rumah Eki Setyanto sejak Senin (7/12) lalu. Selain istighosah tentu saja berharap bawaan dari calon.

Berbeda dengan warga Tanjungbintang, Andi R. Dia menjelaskan di dusunnya, persetruan antara pendukung calon nomor dua dan nomor tiga sangat keras. “Kala di tempat saya, Kades  dan Sekdesnya dukung nomor dua, kadus-kadusnya dukung nomor tiga,” jelas dia diwawancarai via ponsel.

Berbeda dengan Kecamatan Natar yang ada paket sembako, di Tanjungbintang hanya dibagi-bagikan uang pada warga. “Langsung kades dan kadus-kadus itu yang bagi,” kata Andi.

Dia menjelaskan, kades ke nomor dua, kadus-kadus ke nomor tiga. Ditanya respon panwascam dan PPL dia tertawa dan berkata. “Sudah selesai,” katanya tanpa menjelaskan maksud sudah selesai itu apa artinya.

Pantauan harianfokus.com, hingga dinihari pukul 00.15, beberapa orang di gardu dan beberapa warung masih berjaga-jaga, bergerombol dan bercandaan. “Kami nunggu serangan fajar, mas.”

Kalimat menunggu pembagian uang lanjutan itu, dengan enteng dan santai diucapkan beberapa warga yang ditanya. Diketahui, di Pilkada Lamsel, hanya calon nomor dua dan nomor tiga yang terlihat masif membagi-bagi uang hingga sampai kepada warga.

Di Pesawaran, jauh lebih panas. Nyaris sama dengan Lamsel, hanya ada dua pasang calon yang bersaing ketat. Yakni calon nomor urut satu dengan nomor urut empat. (*)

Seperti di Hadapkan pada ‘Pilih Uang atawa Mati?’

HARIANFOKUS.COM- Di Kabupaten Pesawaran, calon nomor satu dan empat terlihat saling kejar, saling jaga dan diduga, saling intimidasi. Pasalnya, selain beredar luas pamflet yang berisi tulisan-tulisan provokatif dan cenderung menjelek-jelekkan calon nomor urut satu. Di Waylima sendiri, tim pemenangan nomor empat diintimidasi dengan menodongkan senjata api.

Meski belum diketahui siapa pelakunya, sudah beredar rumor karena ada dua pasang calon dari empat calon yang jadi peserta Pilkada Pesawaran, beberapa warga menduga dari lawan terberat calon nomor empat.

Beberapa warga yang diwawancarai, terlihat takut menyatakan akan memilih siapa. Akan tetapi mereka semua mengakui, mempermaklumkan pemberian uang dari calon. “Ya kalau saya dapat dari nomor urut empat, dia tuh nomor urut satu, kata orang sih lebih besar,” kata Adriansyah, warga Kecamatan Kedondong.

Ucapan Adrian dibenarkan rekan-rekannya, hinggal semalam masih asyik kongkow-kongkow di dekat pasar Kendondong. “Ya bagi gue sih, dibanding bermusuhan, diberi uang ya pasti kita terima, soal milih juga tidak ada yang tahu,” kata Budi, rekan Adrian yang mengaku baru ikut milih ketika Pilpres lalu.  (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *