26 views

Tiga Incumbent Tersungkur

FOKUS- Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di 8 kabupaten/kota se-Lampung yang digelar tahun ini seolah menjadi kuburan tiga calon berdarah incumbent. Dari lima daerah yang berlabel incumbent, tiga diantaranya harus menelan pil pahit sama-sama tersungkur ditangan calon pendatang baru.

Ketiga incumbent yang tumbang yakni, Aries Sandi DP-M. Yunus harus mengakui keunggulan paslon pendatang baru Dendi Ramadhona-Eriawan di Pilkada Pesawaran. Sesuai hasil quick count (hitung cepat) Rakata Institue paslon Dendi-Eriawan unggul 45,92% dan Aries-M. Yunus hanya memperoleh suara 29,06% sisanya berbagi antara Fadhil-Zainal hanya 19,30% dan Okta-Solikin hanya memperoleh 6,54%.

Nasib tak kalah tragis dialami incumbent Waykanan, Bustami Zainuddin-Adinata. Pasangan yang diusung PDIP, Gerindra, PKB, dan Partai NasDem kalah jauh dengan perolehan suara pendatang baru yakni, Raden Adipati Surya-Edward Antony. Bustami-Adinata hanya memperoleh suara 39,73% sedangkan Adipati-Edward memperoleh suara 60,27%.

Demikian juga di Pilkada Lamsel. Rycko Menoza-Eki Setyanto harus mengakhiri estafet kepemimpinannya setelah kalah dari seteru lamanya, Zainuddin Hasan-Nanang Ermanto.

Rycko-Eki hanya mampu mendulang suara 40,53%, sedangkan Zainuddin-Nanang mengumpulkan setengah dari total suara yakni 56,05%.

Menurut Direktur Rakata Institue, Eko Kuswanto, kalahnya incumbent sebagai bentuk protes langsung dari masyarakat terhadap pejabat publik atau politik. Calon incumbent yang sedang berkuasa juga dinilai gagal memberikan kesejahteraan rakyat dalam pemimpin daerah selama lima tahun.

“ Faktor kekalahan incumbent diantaranya disebabkan, incumbent selama menjabat tidak mampu mewujudkan janji-janji politik yang telah ia buat ketika masa kampanye padahal janji-janji manis itu yang dulunya mampu memikat pemilih,” kata dia usai mengumumkan hasil quick count pilkada 8 kabupaten/kota se-Lampung di Hotel Horison, Rabu (9/12).

Sambungnya, pada masa menjabat incumbent kerap mengingkari janji yang membuat masyarakat jenuh dan menolaknya. Masyarakat memiliki keinginan kuat untuk melakukan perubahan dan penolakan terhadap status quo yang dibangun incumbent.

“Ini terjadi karena masyarakat telah melihat kepemimpinan incumbent yang tidak mampu melakukan perubahan.Masyarakat kini lebih melihat berdasarkan pada visi, misi, dan program kerja konkret yang ditawarkan calon,” tandasnya. (win)

 

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *