0 views

Musda Golkar ‘Adem Ayem’

HARIANFOKUS.COM- Partai Golkar Lampung, menggelar permusyawaratan tertinggi di tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) level provinsi. Partai berlogo pohon beringin itu, benar-benar menjadi ejawantah politik Orde Baru. Adem ayem, tak ada gejolak dan perebutan posisi pimpinan yang selama ini sering terjadi di tubuh parpol.

Menariknya, M. Alzier Dianis Thabranie kembali didapuk memimpin DPD I Golkar Lampung meski dirinya sudah berkuasa selama dua periode berturut-turut. Tidak ada satu pun kader Golkar Lampung yang berani maju memperebutkan posisi Ketua DPD I bersaing dengan Alzier.

Namun demikian, kepemimpinan Alzier bukan tanpa masalah. Sebab, menurut Ketua Umum DPP Golkar Aburizal Bakrie, menjadi ketua tiga periode berturut-turut sebenarnya melanggar Peraturan Organisasi (PO). Menurut Ical, sapaan akrab Aburizal Bakrie, PO itu bisa diabaikan jika ada surat izin langsung dari Ketua Umum DPP. “Alzier sudah saya izinkan secara tertulis,” kata Ical dalam sambutan sekaligus membuka Musda IX Partai Golkar Lampung di hotel Sheraton, Minggu (12/12).

Lolosnya Alzier dalam pencalonan ketua DPD I Golkar Lampung, menurut Ical lantaran dapat surat resmi dari Ketua Umum DPP untuk melanggar PO.  “Saya sudah mengeluarkan izin tertulis untuk Alzier agar bisa ikut pemilihan ketua DPD I Partai Golkar Lampung. Dan itu tidak masalah,” kata dia.

Ical berharap Musda dapat berjalan kondusif dan mengutamakan musyawarah mufakat agar menghasilkan pemimpin sesuai harapan kader Golkar. “Kalau tidak bisa musyawarah, ya votting,” ungkapnya.

Terpisah, akademisi Unila Budiono menyarankan, Alzier sebaiknya tidak mencalonkan diri lagi dan menyerahkan kepemimpinan Golkar ke kader muda.
“Saya kira sebaiknya bang Alzier menyerahkan kepemimpinan Golkar ke kader mudanya. Karena, kepengurusan Golkar di Lampung semenjak dipimpin  beliau tidak ada kemajuannya,” ujar dia.

Alzier juga, sambung Budiono, dinilai arogan terhadap kader dalam menjalankan roda organisasi kepartaian. Hal ini dibuktikan banyak Ketua DPD II Kabupaten/Kota yang diberhentikan tidak sesuai dengan masa baktinya. “Banyak pengurus atau Ketua DPD II Kabupaten/Kota yang diberhentikan, tidak sesuai dengan masa bhaktinya,” ungkapnya.
Indikator ketiga, Golkar dibawah tangan politisi kontroversial ini tidak mampu berbuat banyak atau tanpa torehan keberhasilan dalam setiap perhelatan pesta demokrasi. Baik, pilkada, pileg, pilgub, maupun pilpres.

“Suara Golkar di Lampung ini setiap pemilu turun, calon kepala daerahnya juga banyak yang kalah. Suara Golkar di Lampung kemarin tidak mampu membantu pemenangan pada pilpres,” katanya.

Oleh sebab itu, tegas dia, Alzier sebaiknya memberikan ruang atau kesempatan terhadap kader muda Golkar untuk memimpin. Karena memang tidak ada yang pantas dipertahankan lagi dari Alzier.

“Kader-kader muda Golkar mungkin tidak akan berani kalau beliau masih mencalonkan diri. Seharusnya, beliau tidak usah mencalonkan diri dengan begitu akan ada kader-kader yang berani maju. Karena memang tidak ada yang perlu dipertahankan dari Alzier, apalagi nanti akan ada pilkada serentak gelombang kedua,” tandasnya. (win/dre)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *