1 views

IAIN Gelar Seminar Internasional

FOKUS- Institut Agama Islam Negeri(IAIN) Raden Intan Lampung, eksistensinya teruji di dalam dunia pendidikan, tidak hanya di dalam negeri namun juga sampai kedunia internasional. Buktinya, Perguruan Tinggi Islam Negeri di Lampung ini baru saja menggelar seminar Internasional yang bertajuk Indonesia-Turkey Relation In Education,Politics,Religion, and Culture di Aula Rektoran kampus setempat, Rabu (16/12).

Seminar yang berlangsung selama 4 jam ini menghadirkan beberapa tokoh penting dalam dunia pendidikan baik di Indonesia maupun di Turkey. Tokoh yang dimaksud adalah, sendiri, seminar yang mendudukkan lima orang langsung sebagai Narasumber yakni,Prof.Ergun Yildirim,Dr. Abdullah Hariadi Kusumaningprang(Anang),Labib Syauqi,MA,Muhammad Syauqillah,MA,dan Hasbi SEN,M.Hum.

Dijelakan oleh Prof.Ergun Yulidrim, Dean of CommunicationFaculty, Marmara University,Turkey, menepis adanya anggapan bahwa Turkey adalah negara sekuler, dan kebijakannya tidak pro terhadap Islam adalah tidak benar. Pasalnya, sejak 1950-an, Turkey sudah menjadikan mata pelajaran Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib didalam kurikulum pembelajaran di sekolah.

“Sejak tahun 50an, Turkey sudah menjadikan mata pelajaran Agama Islam sebagai mata pelajaran wajib disekolah, jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa Turkey adalah negara sekuler,”jelasnya dalam bahasa Turkey.

Senada dikatakan Hasbi SEN, kepedulian pemerintah Turkey terhadap Islam sangatlah tinggi, Islam merupakan agama mayoritas yang ada di Turkey dengan persentase hampir menyentuh angka 90%.

“Pemerintah Turkey sangat peduli dengan Islam, bahkan Imam Masji yang ada di Turkey itu sama halnya denga Pegawai Negeri Sipil(PNS) jika di Indonesia, mereka disana mendapat gaji dari pemerintah sekitar 10 Jutaan setiap bulannya,”papar Hasbi.

Dilanjutkan materi Dr.Anang menjelaskan bahwa mengenai kerjasama Beasiswa pendidikan antara indonesia dan turkey sangat luas, tidak hany etrbatas kepada satu Universitas Marmara saja, namun keseluruh Universitas yang ada di Turkey.

“Kerjasama kita sangat luas, terutama dalam hal beasiswa pendidikan, tidak hanya terbatas kepada satu Universitas Marmara saja, namun masih banyak lagi Universitas yang lain yang ada disana(di Turkey,Red),”ungkapnya.

Berbeda dengan Syauqillah,MA, dia lebih menyoroti tentang promosi budaya yang dilakukan secara gencar oleh pemerintah Turkey seharusnya bisa diikuti pemerintah Indonesia, melihat potensi budaya yang teramat sangat kaya yang dimiliki oleh indonesia merupakan satu potensi besar yang harus dipublikasikan kepada dunia.

“Diplomasi budaya sangat membantu dalam menunjang pariwisata dan kerjasama antara kedua negara atau lebih, Indonesia mempunyai itu semua, indonesia memiliki kekayaan budaya yang tiada banding jika dibandingkan dengan negara lain, seharusnya kita mulai berfikir untuk mengikuti langkah Turkey,”himbaunya.

Senada dikatakan Labib Syauqi, bahwa mahasiswa harus melihat peluang ini dan dapat memanfaatkannya sebagai peluang emas untuk menimba ilmu di Turkey, setiap tahunnya Turkey memberikan beasiswa kepada 50.000 mahasiswa yang tersebar di seluruh dunia, dan indonesia mendapat jatah 60 orang setiap tahunnya dengan spesifikasi 40 orang untuk program Strata 1 dan 20 orang untuk program Strata II dan III.

“Mahasiswa harus melihat celah ini, kita harus bisa memanfaatkan peluang ini dengan baik dan bisa menimba ilmu disana dengan jalur duta budaya tersebut,” tandasnya.(adi)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *