BKOW Gelar Diskusi Budaya Patriakhi dalam Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilaan Gender

 

HARIANFOKUS.COM-Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Lampung menggelar diskusi di Ruang Abung, Komplek Pemerintah Provinsi Lampung, Kamis (11/2). Tema diskusi pada acara tersebut tentang budaya patriakhi dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender pada bidang politik .

Hadir sebagai pemateri Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan,  tokoh adat Ansory Djausal, Sekretaris DPD Partai Demokrat Lampung, H.Fajrun Najah Ahmad, dan anggota KPU Lampung Selatan Sri Fatimah.

Kegiatan diskusi tersebut juga dihadiri oleh ratusan ibu-ibu perwakilan dari organisasi yang tergabung di BKOW.

“Saya berharap kegiatan diskusi ini nanti bermanfaat bagi pengetahuan para anggota BKOW terkait budaya patriakhi di Provinsi Lampung dalam kesetaraan gender di bidang politik,” kata Ketua BKOW Provinsi Lampung Kinkin Sutoto dalam sambutannya.

 

 

Sementara itu menurut Sekretaris DPD Partai Demokrat Lampung, H. Fajrun Najah Ahmad, kesetaraan gender sudah jelas dijamin oleh undang-undang sehingga tidak perlu lagi ada perdebatan tentang dikotomi gender.

“Kesetaraan sudah jelas ada, dan dituangkan dalam UU parpol dan pemilu, peluang kaum perempuan untuk berkiprah dalam dunia politik secara aturan terbuka sangat luas,” jelas Fajrun yang juga mantan Sekretaris DPD KNPI Lampung itu.

Lebih lanjut dia mengatakan, banyak faktor yang membuat kiprah perempuan masih terbatas dalam bidang politik.  Salah satunya  yakni support dan dukungan dari suami baik secara moril maupun materil masih minim.

“Menurut pengalaman, kendala yang mendasar yang dialami kaum perempuan sejauh ini yakni dukungan dari pihak keluarga terutama suami masih sangat minim, karena tidak dapat ditampik ketika berhubungan dengan dana maka dukungan suami sangat penting,” jelas mantan Ketua Harian DPW Pemuda Pancasila Lampung ini.

 

Tokoh adat Lampung Ansori Djausal mengatakan, peran perempuan dalam keluarga ditempatkan sebagai anak, muli, keminan, ibu, dan nenek.

Muli Lampung (Gadis Lampung) sebelum menikah , lanjutnya sudah dimuliakan. Sejak lahir seorang anak telah diberlakukan secara adat (anak adat, muli tiyuh, muli marga).

“Diberi juluk (nama) menyesuaikan dengan latar belakang atau status sosial dalam adat,” ujar Ansori pada diskusi tentang budaya patriakhi dalam upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender yang digelar BKOW Provinsi Lampung di bidang politik di Ruang Abung, Komplek Pemerintah Provinsi Lampung, Kamis (11/2).

Dosen Teknik Unila itu menjelaskan juluk adalah panggilan yang diberikan dari keluarga inti, dari keluarga ayah, paman dari ibu, atau dari nenek, begitupun dengan anak laki-laki.

“Setiap juluk disertai pantun atau tetangguh atau pepancokh yang dikaitkan dengan latar belakang keluarga, asal muasal serta harapan dan doa buat si anak,” terangnya.

Di dalam adat Lampung ujar Ansori, muli Lampung sebagai simbol derajat keluarga atau kampung. Terhadap muli, tidak diberlakukan aturan yang kaku untuk menghambat keberadaan seorang muli di lingkungan masyarakatnya.

“Aturan-aturan adat yang terkait pada seorang muli lebih kepada menjaganya sebagai simbol kebaikan kampung atau keluarga,”paparnya.

Ansori berpendapat, tidak ada kebudayaan di Indonesia yang merendahkan wanita.

“Jadi sebenarnya dalam adat justru peran kaum wanita sangat besar dan memiliki pengaruh dalam kehidupan adat,” tukasnya. (adi)

 

 

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *