8 views

Soal Video Kekerasan Antar Napi, Kepala Tanggamus Membenarkan Terjadi Ditempatnya

 

HARIANFOKUS.COM- Video kekerasan yang beredar di media sosial yang berisi penganiayaan antara penghuni lapas kelas II B Kota Agung, Tanggamus, Lampung, menghebohkan warga Tanggamus sejak diunggah pada Selasa (23/2). Dalam aksi kekerasan tersebut terlihat tahanan melakukan pemukulan serta tendangan terhadap tahanan lainnya.

Pihak Lapas Tanggamus, mengakui bahwa kekerasan itu terjadi di lapas setempat yang direkam langsung oleh sesama warga binaan.

Kepala Lapas Kelas II B Waygelang Yandi Suyandi, melalui Kepala Satuan Pengamanan M. Hendra Firmansya didampingi Kabag Tata Usaha (TU) Syamsudin menegaskan, bahwa kekerasan tersebut terjadi antar sesama warga binaan. Dia menjelaskan, pemukulan itu terjadi pada Kamis (18/2) sekitar pukul 16.30 WIB. Saat itu, para narapidana (napi) memang tidak berada di dalam sel. Mereka sedang ‘berangin-angin’ (jam santai) menunggu waktu pembagian jatah makan sore.
“Itulah makanya pemukulan terjadi di luar, tepatnya di tepi taman depan blok. Bukan di dalam sel. Namun bukan berarti pihak lapas membiarkannya. Saat pemukulan terjadi, petugas jaga sedang patroli keliling. Akibatnya, pelaku bisa leluasa memukuli sesamanya selama beberapa menit,” kata Hendra, Selasa (1/3) saat disambangi awak Media.
Pemicu pemukulan dua napi terhadap seorang rekannya yang sampai heboh di media sosial (medsos) bernama akun Susilo Budiyono itu, Kasubsi Keamanan Johansyah membeberkan, bahwa hal itu dipicu masalah lama. Jauh sebelum antara pelaku dan korban masuk ke Lapas Waygelang. Johansyah menyebutkan, pelaku dan korban sama-sama napi narkoba.
“Setelah itu mencuat di medsos, kami langsung bergerak cepat memeriksa mereka. Kebetulan saya sendiri yang kemarin langsung memeriksa mereka. Pelaku pemukulan berinisial As (35) adalah napi pindahan dari Lapas Kotabumi. Sedangkan korban merupakan kiriman dari Lapas Khusus Narkotika Bandarlampung. Namun As memang sudah jauh lebih dulu berada di sini (Lapas Waygelang), sementara korban belum lama. Kalau kita memperhatikan video itu, memang selain As, ada satu napi yang datang belakangan dan turut memukul. Itu adalah N (34) rekan satu sel As,” kata Johansyah yang kemarin turut mendampingi Hendra.
Masalah lama yang menjadi pemicunya, lanjut Johansyah, adalah As merasa bahwa korban yang menjadi mata-mata (cepu), sampai akhirnya As dipenjara. Dendam itu mungkin terpendam lama. Ketika As mengetahui bahwa korban rupanya juga dipindahkan ke lapas yang sama dengan dirinya, emosi As memuncak. Lantaran dia bisa melampiaskan emosi dan dendamnya kepada korban. Melihat As memukuli korban di depan blok, N yang merasa kawan As turut membantu. Sehingga As dan N, bergantian menghujani wajah dan kepala korban dengan bogem mentah. Bahkan selama beberapa menit, As sempat menginjak dada, leher, bahkan kepala korban.
“Korban langsung ditangani tim medis internal lapas dan sekarang kondisinya membaik. Sedangkan As dan N, sudah kami berikan sanksi tegas, yaitu kami masukkan ke strap sel (sel penghukuman). Itulah aturan yang berlaku. Hal itu juga untuk mencegah melebarnya konflik antar napi. Pastinya kami menjamin, pemukulan itu bukan dilakukan sipir lapas,” tegas Johansyah.
Hendra, Johansyah, dan Syamsudin senada mengakui, bahwa pihak lapas kecolongan terkait adanya insiden pemukulan antarnapi. Mereka berdalih, bahwa hal itu bisa sampai terjadi lantaran keterbatasan sumber daya manusia (SDM) internal lapas. Dengan keterbatasan yang ada, kata Hendra, pihak lapas harus tetap membagi-bagi petugas jaga, supaya keamanan dan penjagaan lingkungan lapas bisa tetap maksimal.
“Selama ini kami menerapkan, satu petugas mengawasi tiga blok. Masing-masing blok, minimal berpenghuni 50-an warga. Artinya, satu petugas jaga harus menjaga dan mengawasi 150 warga binaan dalam tiga blok. Belum lagi petugas yang jaga harus menguasai kondisi lingkungan sekitar. Makanya insiden kemarin bisa sampai terjadi, karena saat itu petugas sedang controlling lingkungan,” tutup Hendra.
Sementara itu terkait soal aksi pemukulan napi terhadap sesama, Kepala Satuan Pengamanan Lapas Kelas II B Waygelang M. Hendra Firmansya juga mengakui, bahwa kejadian itu direkam dan divideokan oleh seorang napi. Menurut Hendra, perekam yang berinisial M (31) juga sudah diperiksa. Lalu, ponsel yang jadi alat perekam juga sudah disita sebagai barang bukti.
“Jauh sebelum mencuatnya insiden ini, kami pihak lapas sudah dengan ketat merazia barang-barang milik warga binaan. Razia sering dilakukan secara random (tidak terjadwal). Namun yang namanya warga binaan, tetap saja ada satu atau dua orang yang bandel dan ‘kucing-kucingan’ membawa ponsel. Padahal itu sudah jelas dilarang untuk dibawa,” beber Hendra.
Sedangkan terkait akun medsos yang menggunggah video kekerasan di Lapas Kelas II B Waygelang dan menghebohkan dunia maya yang dapat di lihat melalui link
https://web.facebook.com/susilo.budiono.359/videos/vb.100011438167095/112409042483701/?type=2&theater, Hendra nengaku bahwa tidak mengetahuinya secara pasti. Dia beranggapan, bahwa akun itu adalah akun yang baru dibuat.(Odo)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *