Pertamini Menjadi Lahan Bisnis Baru

IMG_20160407_151153HARIANFOKUS.COM Para pengecer bahan bakar minyak semakin menjamur. Mereka menyasar segmen sendiri, dan hadir di kawasan yang relatif jauh dari SPBU. Kebanyakan dari pedagang yang dahulu masih menggunakan peralatan sederhana seperti botol bekas, kini banyak pula yang mulai menggunakan alat semi dan canggih.

Banyaknya orang yang tidak sempat mengisi bahan bakar minyaknya di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum seolah menjadi peluang bisnis baru. Para penjual bahan bakar jenis Premium, tidak lagi menggunakan botol-botol di pinggir jalan, tetapi sudah menggunakan alat khusus yang sering disebut “Pertamini”.

Pertamini memiliki perangkat untuk penjualan bensin berupa bahan rangka bok dari besi. Sementara atapnya dilengkapi dengan lampu neon box. Sementara pengambilan bensinnya langsung dari drum penampungan, dimana ada perangkat pompa untuk menyedot bensin ke tabung takaran. Sementara tabung takar sendiri hanya berkapasitas 5 liter saja. Untuk menentukan jumlah bensin yang disetor ke konsumen, penjual tinggal melihat takaran di tabung itu.

Salah seorang pedagang Pertamini adalah Ahmad Rahmawan yang menjalankan usahanya di Jalan PU. Dengan peralatan tersebut, usahanya terlihat lebih unik dan memancing konsumen untuk singgah.

Ahmad Rahmawan mengatakan keuntungan utama dari Pertamini dibandingkan dengan menggunakan botol atau corong adalah meminimalisir penyusutan akibat terbuangnya bensin. “Lebih irit sedikitlah daripada yang sudah dibeli ketika ditakar ulang kedalam jeriken .Selain itu dilihat dari segi keamanan menggunakan mesin pompa bensin mini saya rasa lebih aman,” katanya (07/04).

Idenya mendirikan Pertamini didapatkannya saat berkunjung ke Palembang. Di kota itu, banyak pedagang bensin eceran sudah menggunakan peralatan Pertamini. Dan dia pun berniat membuka usaha serupa. “Saya lalu searching di internet ternyata dijual bebas di Bandung. Saya lalu tanya keponakan saya di Jakarta untuk membelikannya,” kata dia.

Modal untuk membeli peralatan itu relatif kecil, Rahmawan hanya harus mengeluarkan uang senilai Rp 4 juta untuk membeli satu set peralatan Pertamini. Peralatan itu terdiri dari drum berkapasitas 200 liter, pipa, pompa, tabung takaran lima liter dan selang untuk ke konsumen. Banyak konsumen lalu beralih ke Pertamininya. Kata dia, konsumen merasa takaran yang dia berikan ke pembeli lebih akurat.

Kios Peramini miliknya buka dari jam 5 subuh, sampai jam 11 malam. “Kerjaan saya ya cuma ini. Biasanya saya jual bisa 15 liter perhari. Tetapi kalau lagi sepi hanya lima liter saja. Tergantung sih,” ucapnya.

Lain halnya dengan Robikun padagang Pertamini di sekitar Jalan Endro Suratmin yang mengaku dalam sehari dirinya dapat menjual bbm sebanyak 30 sampai 40 liter per hari “Ya Alhamdulillah lancar, mungkin karena disini dekat sama lingkungan kampus mahasiswa” ujarnya. (SDM)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *