Plang Tuba Diganti Mesuji, Warga Mulai Memanas

HARIANFOKUS.COM- Persoalan sengketa tapal batas antara Kabupaten Tulangbawang dengan Mesuji terus memanas.Plang Kabupaten Tuba di Teluk Gedung, Minak Jebi, dan Kuwala yang diganti plang Kabupaten Mesuji memancing kemarahan warga setempat.

Lokasi titik terparah yang memanas ialah wilayah Teluk Gedung, sebab masalah tapal batas itu sudah merambat kemasyarakat yang berbentuk bentrok fisik antar warga meskipun tidak ada korban jiwa.

Kegelisahnya masyarakat ditambah lagi dengan adanya plang diwilayah Teluk Gedung bertuliskan Pemerintahan Desa Sungai Sidang, Kasun 10 Teluk Gedung, Desa Sungai Sidang, Kecamatan Rawa Jitu Utara, Kabupaten Mesuji, yang sebelumnya lebih dahulu telah dipasang, dengan plang bertuliskan Wilayah Kampung Bumi Dipasena Abadi, Kecamatan Rawa Jitu Timur, Kabupaten Tuba, namun kini telah diturunkan, diganti oleh aparatur Desa Pemerintah Mesuji.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu Tokoh masyarakat Pemukiman Teluk Gedung, Herman, ia mengatakan bahwa kondisi yang terjadi diwilayahnya pada saat ini sangat menghawatirkan dikarenakan telah terjadi insiden pencabutan tanda plang bertuliskan Kabupaten Tuba dan digantikan plang bertuliskan Desa Sungai Sidang, Kabupaten Mesuji.

“Pemerintah Kabupaten Mesuji, melalui aparatur desanya telah mencabut plang Kabupaten Tuba, dan mereka memasang plang bertuliskan Desa Sungai Sidang Kabupaten Mesuji, dan yang melakukan itu adalah RT, Amir, dan RT Unding, serta Kasun 10, Rusli,” kata dia, Senin(25/4).

Lebih lanjut, Herman membeberkan bahwa buntut dari kejadian penurunan plang Tuba yang digantikan dengan plang Mesuji itu secara tidak langsung membuat emosi masyarakat untuk bertindak anarkis, sebab selain melakukan tindakan yang tidak seharusnya, aparatur Desa Mesuji juga dinilai memprovokasi masyarakat supaya mengumpulkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan cara dipaksa mendukung agar masuk Kabupaten Mesuji.

“Mereka aparatur desa yang di Mesuji memaksa masyarakat agar mau memberikan KTP, dan selanjutnya secara paksa diminta supaya mengakui bahwa masuk wilayah Mesuji, dengan cara ditakut-takuti wilayah tiga pemukiman itu adalah Kabupaten Mesuji dan tidak akan pernah masuk ke Kabupaten Tuba,” terang dia.

Maka dari itu Sambung Herman, ia meminta kepada Pemerintah Tuba, dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati, Hanan A Rozak dan Heri Wardoyo dapat menyelesaikan persolan tersebut sebelum adanya korban.

“Kami masyarakat yang Pro terhadap Kabupaten Tuba sekarang mengalah, membiarkan plang bertuliskan Kabupaten Tuba untuk diturunkan, hal itu dilakukan demi menjaga stabilitas keamanan agar tidak terjadi kerusuhan lagi yang menimbulkan konflik lebih luas, namun jika sudah demikian, sebelum kesabaran kami habis, saya minta kepada pemerintah Kabupaten Tuba agar dapat menyelesaikan dengan secepatnya, bila perlu turun dalam waktu dekat ini, agar niscaya memberi masukan dan perhatian kepada masyarakat supaya jangan mau didoktrin, dan dibohongi oleh para aparatur Desa dari Kabupaten Mesuji,” Jelas Herman yang sangat berharap ada respon dari Pemerintah Tuba.

Mengapa demikian, imbuh Herman, masyarakat meminta secepatnya semua dilakukan, itu agar dapat mengantisipasi sebelum hal buruk terjadi seperti main hakim sendiri karena diadu-adukan oleh sejumlah oknum yang memiliki kepentingan pribadi dan memanfaatkan masyarakat.

“Adanya provokator dapat menyembabkan perselisihan, main hakim sendiri, saling pukul dan bacok-bacokakan menggunakan senjata tajam, semua saya harap tidak terjadi, karena sangat merugikan masyarakat dan sangat menguntungkan oknum berkepentingan pribadi demi mendulang kekayaan sumber daya alam dan lainnya yang cukup berpotensi di tiga wilayah kami,” tandasnya. (saidi)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *