Kesra Bina Tokoh Agama

HARIANFOKUS.COM– Pemerintah Kabupaten Tulangbawang  melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) setempat, mengadakan kegiatan pembinaan terhadap para tokoh-tokoh agama yang ada di Kabupaten Say Bumi Nengah Nyapur, mulai dari guru ngaji, pengurus masjid, maupun pemuka agama lainnya. Seperti Kristen, Hindu dan Budha. Dengan megusung tema “Melalui Guru Ngaji” pengurus masjid, pemuka Agama Kristen, Hindu dan Budha diharapkan dapat meningkatakan implementasi gerakan revolusi mental di Kabupaten Tuba, bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Kecamatan Menggala, Kemarin (23/5).

Hadir dalam acara tersebut, Bupati – Wakil Bupati Tuba, Hanan A Rozak dan Heri Wardoyo, Sekdakab Tuba, Sobri, Ketua Majelis Ulama Indonesia Tuba, H. Kamislihan, 453 Orang guru ngaji, 151 orang pengurus masjid, 15 Orang pemuka agama Kristen, 15 Orang pemuka agama Hindu, 15 pemuka agama Budha, dan hadir pula Sekretaris DPRD Tuba Pohan Alam, Forkofinda Plus Tuba, Kepala Bapeda, Antoni, Kepala Dinas Pendidikan, M Firsada, Kepala Dinas Pertanian, Nurmansyah Rani, Kepala Dinas Kesehatan, Heri Novrizal, Kepala Dinas Perhubungan, Tuhir Alam, Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pirhadi, Kepala Dinas Pasar, Pirmansyah, Kepala Dinas Pariwisata, Hasbi, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung, Hamami Ria, serta sejumlah pejabat eselon III dan IV dilingkup Pemkab Tuba.

Kepala Bagian (Kabag) Kesra Tuba, Nono Sumirat Asmara, pada saat memberikan sambutan sekaligus laporannya mengatakan bahwa kegiatan pembinaan kepada tokoh-tokoh agama tersebut bertujuan untuk memberikan pengertian pemahaman dan sekaligus juga untuk memberikan tanda bentuk terima kasih kepada para pejuang agama yang telah mempelopori dan menjadi pembina mental Kabupaten Tuba, maka dari itu diberikanlah dalam bentuk dana insentif kepada para tokoh-tokoh pejuang agama.

“Sesuai dengan perkembangannya, dahulu terhitung sampai tahun 2015 guru ngaji di Kabupaten Tuba yang terdata di Bagian Kesra berjumlah 302 orang, tapi tahun 2016 ini dapat ditingkatkan menjadi 453 orang guru ngaji, begitu juga marbot masjid yang kini telah berjumlah 151 orang, dan 15 orang pemuka agama Kristen, 15 orang pemuka agama Hindu, 15 orang pemuka agama Budha, mereka semua kini terus diberikan insentif secara langsung melalui rekening Bank Lampung, sehingga lebih aman, lebih mudah dalam pendistribusian, dengan cara diberikan enam bulan sekali, kepada setiap penerima,” kata Nono Sumirat.

Sementara itu, Bupati Tuba, Hanan A Rozak, dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih, kepada para guru ngaji, pengurus masjid, dan kepada para pemuka Agama Kristen, Hindu dan Budha, karena telah menjadikan generasi Tuba bermartabat, ragam, unggul, berdaya saing, dan membuat Kabupaten Tuba memiliki kearifian budaya lokal.

“Perlu diketahui, Penduduk Kabupaten Tuba kurang lebih sekitar berjumlah sebanyak 417.000 orang, semuanya pasti memiliki agama yang diakui oleh pemerintah. Maka hal ini penting, karena terkait dengan para tokoh-tokoh agama ini mereka harus bisa merangkul masyarakat sekitar, sebab jika sudah dinamakan tokoh, saya pastikan ada pengikut, seperti terkecil para tetangganya pasti menghomati dan menghargai, sebagai guru ngaji, pemuka agama kristen, Hindu, Budha. Nah maka dari itu, ada hal-hal kebaikan yang perlu saya sampaikan, supaya bisa dimanfaatkan untuk membina masyarakat, guna menjaga kestabilan Kabupaten Tuba, berikanlah pemahaman yang baik untuk masyarakat agar tidak ke ajaran agama yang sesat,” pesan Hanan.

Sebab lanjut Hanan, Kabupaten Tuba kini telah sangat darurat generasi, seperti masih banyaknya pemakai narkoba, maka bagaimana cara membentengi, salah satunya melalui para tokoh-tokoh agama untuk ikut membantu pemerintah, supaya Kabupaten Tuba aman dan bersih dari pengedar narkotika dan jenis obat-obatan lainnya yang dapat merusak generasi.

“Karena semua percuma, jika kita membangun proyek fisik, kalau pembangunan mental masyarakat Tuba yang bermartabat tidak dilakukan dan pada akhirnya rusak satu generasi seperti yang terjadi di Negara China, namun tapi apabila rakyat, pemerintah, dan dunia usaha, semua taat hukum dan mau mendukung kemajuan pembangunan mental yang berguna membasmi kemungkaran, maka persoalan apapun pasti dapat diselesaikan,” tegasnya.
Apalagi selama tiga tahun enam bulan, Handoyo bertugas, secara umum relatif, lebih nyaman kondusif, masyarakat selalu bisa beraktivitas dengan normal.
“Itu tidak bisa dipungkiri pasti adalah kinerja dari para tokoh agama, sebab secara tidak langsung para tokoh agama pasti punya hak dan kewajiban untuk dapat didengarkan instruksinya ke masyarakat, maka begitu pula pemberian insentif ini tidak membeda-bedakan agama, semua diberikan, supaya tidak ada kesenjangan antar umat beragama,” tandasnya. (saidi).

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *