Kepala BPLH : Hampir Semua Penambangan Bukit Ilegal

HARIANFOKUS.COM- Bisnis ilegal batu dan tanah perbukitan atau gunung perlu ditindak tegas oleh aparat terkait.

Penelusuran harianfokus.com, aktifitas penambangan bukit di Kota Tapis Berseri semakin masif. Bukit Balau di Kecamatan Sukabumi, Bukit Camang di Tanjungkarang Timur, Bukit Kunyit di Telukbetung Selatan, dan Bukit Sukamenanti di Kedaton terus dikeruk secara ilegal.

Setiap hari ratusan dum truk mendistribusikan batu dan tanah yang dikeruk secara ilegal itu ke berbagai daerah, baik Bandar Lampung maupun luar kota.

Harganya pun bervariasi, tergantung kualitas tanah dan batu yang ada di masing-masing bukit serta jarak ke lokasi pemesanan.

Harga pasaran saat ini batu dari Bukit Balau, Bukit Camang, Bukit Kunyit, Bukit Sukamenanti, dipatok rata-rata Rp 250 – Rp 500 ribu per satu mobil dum truk. Sedangkan tanah berkisar Rp 50 ribu – Rp 70 ribu per dum truk.

Paling fantastis aktifitas pengerukan batu dan tanah di Bukit Balau yang mencapai 100 dum truk per hari. Gelimang uang yang dihasilkan pun fantastis pula, yakni berkisar Rp 35 juta per bulan hari.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandar Lampung Rejab mengatakan, hampir semua penambangan bukit atau gunung di Bandar Lampung tidak memiliki izin.

“Hampir semuanya ilegal, yang punya izin hanya satu dua bukit saja, seperti di bukit PJR, dan bukit yang ada di kawasan (Jalan) Ir Sutami.

Selebihnya tidak ada yang berizin, seperti di Sukamenanti, Camang, Campang, termasuk di Bukit Balau Jalan Alimudin itu semua ilegal,” kata Rejab.

Di kawasan Bukit Balau, aktifitas penambangan batu dan tanah dilakukan menggunakan alat berat. Satu hari sekitar 100 truk berisi tanah bercampur batu keluar dari area pertambangan ilegal ini. Batu dan tanah itu dijual senilai Rp 250 ribu – Rp 350 ribu per truk. (ayn)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *