Mahasiswa IAIN Pastikan Aksi Terus Berlanjut Hingga Tuntutan Terpenuhi

HARIANFOKUS.COM– Tanggal 20 Mei 2016 lalu yang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional dirayakan oleh seluruh rakyat indonesia khususnya para pelajar dan mahasiswa, tak terkecuali Aliansi Mahasiswa Peduli IAIN (AMPI) yang menyuarakan beberapa tuntutan mahasiswa.

Namun pada hari kebangkitan nasional itu  menjadi sebuah catatan hitam bagi seluruh masa aksi demonstran terutama bagi kampus hijau IAIN Raden Intan Lampung yang tak hentinya menyuarakan aspirasi tuntutan kepada pihak kampus. Karena lagi -lagi pihak kepolisian yang diasumsikan akan melindungi masa aksi malah memberi tindakan represif pada masa aksi.

“ Kami meminta kepada oknum aparat kepolisian bertanggung jawab atas tindakan terhadap sahabat kami Ahmad Hadi Baladi Umma (Pupung) yang pada tanggal 24 Mei 2016 baru keluar dari rumah sakit akibat prilaku tidak maunsiawi oleh oknum aparat kepolisian. Kami sudah melaporkan hal ini Ke PROPAM Lampung kemudian kami juga akan melanjutkan laporan ke Reskrim terkait adanya pihak diluar aparat yg ikut melakukan kekerasan pada sahabat Pupung” Terang Sahron Ketua UKM SBI Lampung.

Pupung adalah salah satu korban dari keganasan pihak keamanan kampus dan oknum aparat kepolisian. Ia mengalami cidera patah tulang kaki dan sekujur tubuh nya lebam akibat pukulan dari pihak keamanaan kampus dan oknum kepolisian.

Pihak kampus yang berjanji akan membiayai semua pengobatan Pupung hingga ia sembuh. Namun, hingga Pupung keluar dari rumah sakit tidak sekalipun Rektor IAIN datang menjenguk apalagi sampai membiayai pengobatan.

“ Biaya pengobatan murni dari pihak keluarga bukan dari pihak kampus sampai dengan sahabat kami keluar dari rumah sakit. Tolong ya pihak kampus jangan mengklaim dimedia membiayai berobat mana buktinya tidak ada satu rupiahpun,” tegas Sahron.

Munir yang notabene kakak kandung Pupung  yang berada di rumah sakit mengatakan tidak ada biaya berobat yang di tanggung pihak kampus dan keluarga juga tidak pernah mengatakan meminta untuk dibiayai oleh rektor atau kampus IAIN

“ Saya dan keluarga tidak pernah meminta pihak Rektorat atau Kampus IAIN untuk membiayai pengobatan adik saya. Pengobatan dari rumah sakit Abdul Muluk, Imanuel dan di lakukan Oprasi di R.S Urip Sumoharjo tidak ada biaya sedikitpun yang dikeluarkan kampus kami biaya sendiri,” tuturnya.

Munir menegaskan agar pihak kampus untuk tidak mengklaim atas biaya pengobatan korban.
“ Biaya murni dari keluarga bukan dari kampus,” tegas dia.

Sebelumnya, pihak kampus mengklaim bahwa pihaknya menanggung biaya mahasiswa korban aksi.

” Kami tidak akan berhenti melakukan aksi moral sampai dengan tuntutan kami terpenuhi” tutup Sahron. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *