63 views

Nasib Si Gula

“Aduh dek! Hati-hati dong kalau bawa tempat gula! Tu kan, pada tumpahan enggak karuan akhirnya!” tegur Dinda pada Gilang sore kemarin.

“Nyantai aja sih negornya, mbak! Enggak usah langsung ninggi gitu! Sekarang ini zaman orang lagi banyak yang mudah tersinggung lho!” sahut Gilang, enteng.

“Ya enggak gitulah, dek! Urusan bawa gula sampai bertumpahan begini dengan zaman orang mudah tersinggung itu kan hal yang berbeda, enggak bisa disatu-satuin gitu! Yang pasti, kalau gula bertebaran kayak begini, semut-semut pasti akan segera ngerubung, dek! Nanti malahan isinya semut semua sedapur ini!” lanjut Dinda.

“Mbak, kalau ada gula disitu pasti datang semut, itu sudah hal yang lazim! Enggak usah dipermasalahin, karena memang sudah begitu hukum alamnya! Ya tinggal disapu ajakan selesai!”

“Maka mbak tegur tadi, bawa gulanya hati-hati, jadi enggak sampai bertaburan seperti ini! Lagian harga gula kan mahal, dek! Mubazirkan kalau sampai banyak yang terbuang percuma kayak begini!”

“Iya nanti adek sapu, tenang aja ya mbak!” ucap Gilang dengan santai.

“Cepetan nyapunya dek, kalau lama sedikit saja ntar mulai berdatangan itu semut-semut! Kan malah ngotorin lantai!” ketus Dinda.

“Nyantai aja mbak! Pasti adek beresinlah! Tapi yang penting itu bukan soal semutnya, mbak!”

“Maksudnya apa, dek?,”

“Adek mikirin nasib si gula ini! Kasian lho sebenarnya nasib dia! Perannya besar tapi jarang disebut! Kayak pemain dibalik layar aja..!”

“Apa sih yang adek maksud?!” tanya Dinda.

“Coba mbak sadari, keberadaan gula itu kan amat penting untuk membuat minuman dan makanan menjadi lebih nikmat, tapi nyatanya kan sering enggak disebut-sebut! Bahkan tidak jarang dianggap jadi biang masalah!” kata Gilang.

“Ngomong itu yang jelas, dek! Jangan kebanyakan prolog, kayak pejabat aja, ngomongnya panjang lebar, isinya enggak ada!” Dinda mulai kesel.

“Begini, mbak! Lihat aja kalau orang ke rumah makan! Pasti pesennya teh manis atau kopi manis! Enggak nyebutnya dengan kalimat kopi dikasih gula ya..! Nah, kalo gulanya kurang, kan dibilangnya kopinya pahit atau tehnya enggak manis! Padahal si gula sudah menyatu didalamnya! Tapi enggak disebut-sebutkan?!” urai Gilang.

“Emangnya terus kenapa, dek?!”

“Coba kalau nyangkut soal penyakit, kan gulanya disebut, mbak! Misalnya sakit gula, penyakit gula darah! Nah, kasiankan sebenernya si gula itu! Nasibnya jadi sebutan hanya saat dianggap membawa petaka, kalau membawa nikmat, dia enggak disebut-sebut!”

“Ya sudah nasibnya dek, mau bagaimana lagi! Tapi kan gula juga membawa berkah bagi semut-semut kalau bertaburan kayak begini, dek!” kata Dinda.

“Iya, itu untuk gula yang bertaburan, mbak! Kalau gula yang ditaruh di toples, kan enggak bisa bermimpi disebut positifnya, mbak!” sela Gilang.

“Jadi maksud adek, sering-sering si gula itu bertaburan ya biar ada berkah buat semut-semut, begitu ya..,” kata Dinda.

“Iya bener itu, mbak! Kalau sang gula menyadari hakekat keberadaannya, ya dia harus mau bertabur ke lantai, jadi semut-semut akan merasakan nikmatnya! Kalau sang gula hanya nyaman di dalam toples singasana kebesarannya saja, keberadaannya akan sedikit membawa berkah! Masalahnya, seringkali sang gula lupa kalau kehadirannya lebih bermakna jika ia bertaburan, sehingga merasa lebih nyaman menyembunyikan dirinya dalam toples tertutup rapat yang dijaga ketat oleh pengurus dapurnya,” ujar Gilang sambil asyik menyapu gula-gula yang tadi bertaburan. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *