Politik Gimik-Gimik

GILANG kelihatan tidak nyaman seharian ini. Pembawaannya yang biasanya slow, mendadak berubah: gampang keselan. Wajahnya yang cool berubah: terkesan garang.

“Adek lagi ada apa kok menjadi enggak seperti biasanya?!” tanya Dinda.

“Enggak apa-apa kok, mbak! lagi kesel aja…!!” sahut Gilang dengan nada kurang ramah.

“Ya lagi kesel itu berarti ada apa-apa, dek! Coba ceritain ke mbak ya.. Siapa tahu mbak bisa membantu memecahkan kekesalan adek!” ucap Dinda sambil merangkul Gilang.

Dibimbingnya Gilang ke gazebo, tempat mereka biasa mendiskusikan sesuatu yang dinilai bermasalah.

“Coba adek cerita ya, apa yang membuat kesel itu!” kata Dinda setelah duduk di gazebo.

“Adek lagi kesel aja sama ketua kelas V, mbak!” ujar Gilang.

“Kenapa memangnya, dek?!”

“Dia mau ngadain open turnamen futsal, tapi enggak mau melibatkan OSIS! Adek kan ketua OSIS, mbak! Itukan sama saja dengan enggak menghargai adek dong!” Gilang mengurai penyebab kekesalannya.

“O itu to masalahnya, dek! Ngapain adek jadi kesel? Nyantai ajalagi!”

“Nyantai gimana, mbak? Wong ketua kelas V itu enggak koordinasi dengan adek sebagai ketua OSIS mau adain open turnamen itu! Padahalkan ngundang sekolah lain juga! Jadi adek ngerasa dikecilin!” kata Gilang dengan nada kesal.

“Adek jangan ngerasa-ngerasa sendiri dong! Kan bisa saja belum dikoordinasikan dengan OSIS rencana kegiatan itu karena waktunya masih panjang atau karena ketua kelas V masih konsentrasi menyiapkan teknis-teknis open turnamennya! Jangan langsung ambil kesimpulan sendiri, apalagi berdasarkan ngerasa-ngerasa tadi! Sebagai pemimpin, adek harus punya jiwa yang lapang, pemikiran yang luas dan tidak terlalu mudah menyimpulkan!” tutur Dinda menasehati.

“Adek enggak ngambil kesimpulan sendiri, mbak! Beberapa temen dekat adek juga menilainya begitu kok! Ketua kelas V itu tidak punya etika dan tidak menghargai adek sebagai ketua OSIS!” sahut Gilang.

“Adek perlu pahami ya, apapun yang dilakukan ketua kelas V itukan tetap akan membawa nama baik OSIS yang adek pimpin! OSIS kan lebih tinggi tingkatannya dibanding ketua kelas! Jadi seharusnya adek dukung kegiatan ketua kelas itu! Adek mestinya bangga dengan ketua kelas itu! Bukan malahan adek merasa dikecilkan!”

“Tapi kata temen-temen dekat adek, ketua kelas V itu sengaja membuat kegiatan tanpa koordinasi dengan OSIS karena dia nantinya mau maju dalam pemilihan ketua OSIS! Itukan ancaman untuk adek, mbak!” ucap Gilang.

“Aduh, adek! Ngapain adek jadi mikirin politik gimik-gimik gitu! Adek jangan telan mentah-mentah omongan temen-temen dekat! Dicermati, dikaji dengan hati dan pikiran bersih dulu masukan atau saran itu! Jadi adek tetap tegar kokoh sebagai pemimpin sejati!” kata Dinda.

“Jadi enggak usah ditanggapi ya politik gimik-gimik itu, mbak?”

“Bukan tidak usah ditanggapi, dek! Tapi jangan membuat adek jadi pusing dan kesel-kesel! Selalu berpikir positif saja, selalu mengedepankan kepercayaan pada semua struktur yang ada dibawah OSIS! Itu saja kuncinya! Dengan begitu, adek akan nyaman dalam menjalankan tugas kepemimpinan! Sehingga keberadaan adek benar-benar dirasakan positifnya bagi seluruh siswa di sekolah! Itu lebih bermakna ketimbang adek main perasaan menyahuti politik gimik-gimik!”

“Oke, adek paham itu mbak! Sekarang adek tanya, kalau soal aksi demo warga Way Dadi siang tadi yang dihiasi dengan nuansa politis, apa itu juga bisa masuk kategori adanya politik gimik-gimik ya mbak?!” kata Gilang.

“Menurut mbak sih ya begitu, dek! Jadi menanggapinya ya dengan mengembalikan semuanya pada ketentuan peraturan yang ada! Pihak-pihak terkait selayaknya tidak terpancing dengan mengomentari yang macam-macam! Karena malahan bisa saja terjebak pada politik gimik-gimik, disadari atau tidak!” (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *