Tidur Sambil Berjalan

BANGUN pagi kemarin Dinda berceloteh sama Gilang. “Dek, mbak kan semalem tidur sama adek ya…! Kok pas kebangun tengah malem, mbak ada di kamar mama! Terus mbak balik lagi, tidur sama adek lagi!” Dinda ceritakan pengalaman uniknya.

Lha, mbak kan memang sering kayak gitu! Tidur sambil berjalan! Pindah tempat tidur tapi enggak nyadar!” sahut Gilang, enteng.

“Iya tah, dek! Kok mbak enggak sadar yaa..?! Tapi yang tadi malem itu bener-bener ngebuat mbak terkaget-kaget lo! Sampai mbak bangunin mama dan mama juga heran kok mbak sudah tidur di kamar mama!”

“Memang yang mbak rasain kayak mana sih?!”

“Kirain mbak digendong buya, dek! Diangkat pindah ke kamar mama! Dulu waktu kecilkan buya memang biasa mindahin mbak kalau lagi tidur, dek! Diangkat dari kamar mbak, dibawa ke kamar mama!” ujar Dinda.

“Ya itu dulu, waktu mbak masih kecil! Kalau sekarang, ya mana kuat buya ngegendong mbak, wong sudah gadis! Tapi ya enggak apa-apalah mbak tidur sambil berjalan itu! Sekarang ini malahan banyak orang berjalan sambil tidur lo, mbak!” kata Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!” tanya Dinda.

“Kalau mbak kan terheran-heran karena tidur kok sambil jalan, sampai-sampai enggak sadar sudah pindah kamar! Itu memang hal yang harus dicermati agar tidak terus berulang, karena bisa berakibat tidak baik kalau pas pindahnya ke kamar mandi misalnya atau malahan buka kunci rumah dan keluar pindah tidur di teras! Yang lebih berbahaya itu, banyak orang yang berjalan tapi sebenarnya tidur! Dan penyakit ini belakangan banyak melanda kaum tertentu, utamanya ya mereka-mereka yang tengah memegang kekuasaan!” Gilang mengurai.

“Konkretnya seperti apa, dek?!”

“Kayak mereka-mereka yang dipercaya mengurus badan usaha milik daerah (BUMD), kan enggak pernah bisa wujudkan terobosan kinerja yang akhirnya membuat perusahaan plat merah itu enggak rugi setiap tahunnya dan selalu menadahkan tangan minta tambahan modal! Padahal, mereka itu berjalan kesana-kesini lo, tapi karena jalannya sambil tidur, alias tidak punya kesadaran akan kepercayaan yang diberikan, akibatnya ya begitu-begitu saja perusahaan milik pemerintah itu!” ucap Gilang.

“Memang ada ya yang kayak gitu, dek?!” ujar Dinda dengan ekspresi keheranan.

“Bukan ada lagi, mbak! Tapi ya memang itu kenyataan yang ada selama ini! Dalam kurun waktu beberapa tahun belakang ini saja, sudah berapa miliar rupiah uang rakyat yang dikucurkan untuk BUMD yang ada, dan itu berulang setiap tahunnya, mbak!”

“Sudah tahu enggak ada manfaatnya kok dipertahanin ya dek! Logikanya kan yang nyata-nyata merugikan uang rakyat ya harusnya disikapi dengan tegas dong! Kalau didiamkan saja kan enggak bagus juga!” kata Dinda.

“Masalahnya bukan disitu, mbak! Masalahnya, BUMD itu jadi tumpuan kehidupan orang-orang yang dekat dengan kekuasaan! Sebenarnya ya lumrah-lumrah saja, sepanjang yang ditempatkan itu memang punya kemampuan! Yang ada kan enggak begitu, dek! Begitu ada yang berkemampuan tapi diragukan loyalitas dedikasinya malah belum apa-apa sudah dimintai kesanggupannya perbulan kasih berapa, ini kan enggak bener! Akhirnya yang tangani BUMD ya hanya orang-orang tertentu saja, yang kesemuanya diragukan kualitas kemampuannya membawa perusahaan daerah berkembang baik! Itulah yang adek sebut berjalan tapi tidur itu, mbak!” urai Gilang panjang lebar.

“Kalau begitu, pemegang kewenangan dalam penempatan personil di BUMD harus diingatkan, dek! Jangan diam saja kalau melihat hal-hal yang bisa berakibat membawa kerugian pada keuangan daerah, dek!” kata Dinda lagi.

“Susah mengingatkannya, mbak! Karena para pemilik kewenangan juga sama saja; sama-sama jalan sambil tidur!” sahut Gilang sambil tersenyum kecut. (ยค)

Bagikan berita ini:

Satu tanggapan untuk “Tidur Sambil Berjalan

  • 26 November 2016 pada 13:41
    Permalink

    Tidur sambil berjalan rata rata dilaksanakan oleh setiap instansi…. Hahahahahahahahaha

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *