65 views

Kebiasaan Menitip

BARU saja Gilang masuk jalan Tol Purbaleunyi, Dinda telepon: “Dek, pengikat rambut mbak dimana ya?”

“Adek enggak tahu, mbak!” ucap Gilang.

“Kok enggak tahu sih, dek! Kan kemarin mbak titipin ke adek?!”

“Iya tah, mbak! Adek enggak ingat lo, mbak!”

“Waktu kita mampir rest area, mbak kan ke toilet, sebelum masuk, mbak buka! Mbak kasih ke adek! Nitip ke adek! Masak lupa sih, dek!” kata Dinda lagi mencoba mengingatkan Gilang.

“Itu pengikat rambut yang lain, dek! Yang ada di tas mbak! Yang mbak titipin ke adek itu baru saja beli!”

“Aduh adek mah lo! Setiap dititipin barang selalu aja lupa! Kapan sih enggak lupanya!” ketus Dinda kemudian.

“Makanya mbak itu jangan kebiasaan nitip barang! Apa-apa main titip aja! Biasainlah mengurus barang punya sendiri, mbak! Biar barang mbak enggak ada yang hilang atau keselip!” sahut Gilang.

“Adek perlu tahu ya! Yang namanya titip-menitip itu sudah biasa, dek! Sejak zaman baheula sampai sekarang, yang namanya kerjaan titip-menitip itu bukan barang aneh lagi! Jadi ya biasa-biasa sajalah kalau mbak melakukannya, apalagi nitipnya ke adek sendiri!”

“Nah, justru karena sudah menganggap biasa itu makanya perilaku tersebut jadi banyak disalahguna, mbak! Banyak hal-hal yang sebenarnya tidak elok dilakukan akhirnya kejadian karena tradisi titip-menitip!” ujar Gilang.

“Maksudnya apa sih, dek? Kok malah jadi ngelantur gitu!”

“Begini lo, mbak! Akibat titip-menitip sesuatu itu sudah dianggap lazim dan dianggap biasa-biasa saja, maka praktik kurang baik pun akhirnya berlangsung dengan nyamannya! Misalnya, menitipkan anggaran tertentu di pos-pos SKPD oleh beberapa pihak atau lembaga lain! Ini kan sebenarnya enggak pas, mbak! Tetapi karena sudah dianggap biasa, jadi ya dipermaklumi saja!” urai Gilang.

“Emang bisa begitu, dek! Enak dong, menitipnya jadi bertambah, enggak kayak mbak, nitip pengikat rambut malah hilang!” kata Dinda.

“Bukan bisa lagi, mbak! Tetapi memang sudah biasa itu! Dalam setiap pembahasan APBD misalnya, mau tingkat apapun, praktik titip-menitip anggaran itu pasti dilakukan!”

“Kok mau ya yang dititipi, dek! Padahalkan itu hanya nambahi beban pekerjaan saja, manfaatnya juga bukan untuk mereka!” ujar Dinda.

“Ya atas nama sudah kebiasaan menitip itulah makanya terjadi saling pemakluman saja, mbak!”

“Enak ya, menitip tapi bertambah barang, lha mbak, nitip barang malah hilang!” ketus Dinda.

“Itu karena mbak nitipnya sama adek! Coba kalau sama orang yang sudah biasa mengemas titip-menitip menghasilkan, ya bisa dapat untung! Masalahnya, hanya pihak-pihak tertentu saja yang bisa melakukannya, mbak! Yaitu orang-orang yang mempunyai kapasitas untuk memainkannya!” kata Gilang dan langsung mematikan hpnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *