Hujan Pagi

GILANG uring-uringan. Agendanya bersepeda keliling kompleks perumahan, pagi ini gagal total. Karena hujan turun dari langit sejak pagi.

“Ya sudah, enggak usah kesal dan uring-uringan gitu dong, dek! Namanya hujan itu kan kehendak Tuhan! Kalau adek kesal kayak gini, kesannya adek kesal dengan apa yang sudah jadi keputusan Tuhan!” kata Dinda mencoba menenangkan Gilang.

“Adek enggak kesal ma Tuhan-lah, mbak! Rusak keimanan adek kalau sampai begitu! Lagian, ya jangan terus dilarikan ke keputusan Tuhan dong! Jadi kesannya mau enggak mau ya harus terima-terima aja apapun kenyataan yang ada!” sahut Gilang.

“Ya enggak begitu juga kali, dek! Justru dengan menyandarkan bahwa apapun yang terjadi, apapun yang kita alami, apapun yang kita terima adalah bagian dan melekat dari kemauan Tuhan, kita akan bisa menerima apapun itu dengan penuh kenikmatan, penuh kesyukuran dan ada kemawasdirian akan kenisbian kita selaku makhluk-Nya!” lanjut Dinda.

“Tapi kan kita sebagai makhluk yang dibaiat sebagai khalifah fil ardh, at least bagi dirinya sendiri, tetap merasa kecewa kalau rencana batal karena hujan kayak yang adek alami sekarang ini, mbak! Itu kan manusiawi!” ucap Gilang.

“Iya, rasa kecewa, kesal, berkeluh kesah itu memang manusiawi, dek! Seperti juga rasa bahagia, sukacita, dan sebangsanya! Tapi kalau apapun itu, utamanya yang bernuansa ketidakenakan, kita terima dengan ikhlas, pasti ada hikmah yang kita dapatkan!” urai Dinda.

“Misalnya kayak mana, mbak?”

“Misalnya, gara-gara hujan sejak pagi, rencana adek main sepeda kan gagal jadinya, ya ambil hikmahnya saja bahwa kalau saja tidak hujan dan adek tetap bersepeda, tidak tahunya jatuh atau parahnya kesenggol motor lewat! Hikmahnya lagi, adek bisa bantuin mbak bersih-bersih kamar! Tetap bernilai positifkan?!”

“Tapi kan enggak semudah itu kita bisa terima hal-hal yang kita anggap kurang pas dalam agenda kita dengan begitu saja, mbak?”

“Ya memang, dek! Itu sebabnya sejak awal mbak ingatkan adek bahwa tidak ada apapun yang terjadi dalam setiap detik kehidupan kita yang sia-sia, karena Tuhan telah menitahkannya demikian! Tinggal kita saja yang harus mampu merawat pikiran dan perasaan diri sendiri! Itu sebabnya dalam hidup keseharian ditumbuhkembangkan budaya kritik, budaya saran, karena hakekatnya adalah untuk memperbaiki dan bukan menyalahkan!”

“Jadi kalau ada yang mengkritik, memberi saran, menebar rumor, memainkan intrik itu sebenarnya untuk memperbaiki ya mbak?!”

“Kalau menebar rumor, memainkan gosip, apalagi intrik tentu lebih berdimensi pada pola kritik dan saran bernafaskan kenegatifan, bukan kepositifan, dek! Walau ya hal tersebut tetap harus dijadikan bahan untuk mawas diri, karena sesungguhnya yang paling tahu diri kita ya kita sendiri, bukan orang lain!”

“Bagaimana kalau orang lain merasa lebih tahu kita ketimbang diri kita sendiri, mbak?!”

“Itu suatu pengingkaran terhadap ke-Ilahian Tuhan, dek! Karena orang merasa tahu adek hari ini, Belum tentu dia tahu adek hari kemarin, minggu lalu, bulan lalu atau bahkan tahun lalu! Pun yang merasa tahu adek tahun lalu, bulan lalu, minggu lalu belum tentu tahu adek hari ini! Yang paling tahu ya hanya Tuhan melalui resume malaikat yang ditugaskan mengawal kita!” kata Dinda.

“Sama diri kita sendiri yang paling tahu kita ya mbak?”

“Iya, sudah pasti itu, dek! Makanya kalau adek menjadi enggak enak sama teman karena janji bersepedanya batal akibat hujan pagi, ya adek yang tahu harus menyikapinya bagaimana! Jangan adek paksakan teman adek untuk selaras sepemahaman dengan yang adek pahami! Sebab, masing-masing kita punya penilaian yang beragam terhadap suatu persoalan dan kondisi! Dan setiap perbedaan itu adalah berkah, membawa hikmah!”

“Kalau begitu, beda pendapat itu sah-sah aja ya mbak?!”

“Iya, sah-sah saja, dek! Tetapi, ketika sudah menjadi satu keputusan atau satu sikap, ya semua harus taat, dek! Enggak boleh kita keukeuh dengan sikap pribadi sementara sudah ada kebulatan tekad di komunitas kita!”

“Kalau tetap keukeuh dengan pikirannya sendiri, dengan maunya sendiri gimana, mbak?!”

“Ya kita ingatkan saja orang tersebut bahwa pada hakekatnya dia hidup dalam komunitas yang harus saling asah, asih dan asuh! Karena kemenangan yang sesungguhnya dimulai dari keberagaman yang menyatu, komitmen yang kukuh serta keikhlasan yang tak pernah tergoyahkan!” tutur Dinda.

“Asyik juga ya, gara-gara hujan pagi, adek dapat tambahan ilmu kehidupan!” sela Gilang sambil tersenyum.

“Apapun itu kalau disikapi dengan positif, dengan hati lapang, pasti bawa kehikmahan dan keberkahan! Jadi, adek jangan pernah mengeluhkan kesulitan kehidupan atau sekeras apapun hantaman! Karena Tuhan tidak pernah menurunkan apapun yang sia-sia! Pasti ada berkah dibaliknya!” (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *