216 views

Pindah Kelas

DENGAN wajah cerah-ceria Gilang masuk ke rumah sepulang sekolah. Sesekali ia bersiul walau masih patah-patah.

Happy benar, dek! Emang abis dapat hadiah apa sih?!” sapa Dinda melihat penampilan yang sumringah begitu.

“Adek pindah kelas, mbak! Ini prestise buat adek!” sahut Gilang sambil menebar senyuman.

“Kok pindah kelas, dek? Ini kan pertengahan tahun ajaran, lazimnya juga di awal tahun pengaturan kelas itu!” ucap Dinda.

“Ya enggak tahu, mbak! Kata guru mulai besok pindah kelas, ya pindah! Soal lazimnya awal tahun ajaran atau kapan aja, itu kan wewenang sekolah, mbak! Yang penting adek sudah pindah kelas dan mulai besok di kelas yang baru!”

“Emang apa hebatnya kelas baru itu, dek? Kok bisa buat adek begitu bersemangat?!”

“Itu kelas pilihan, mbak! Hanya siswa-siswi terpilih saja yang bisa masuk di kelas itu!” urai Gilang.

“Ya pastilah yang terpilih saja yang masuk kelas itu, dek? Masalahnya, kriterianya itu apa? Apa karena pintarnya, rajinnya, kecakapan bakat minatnya, atau karena apa? Kan enggak bakal ujug-ujug masuk kelas unggulan itu, sebut aja begitu?!” tanya Dinda.

“Nah, setahu adek ya itu kelas paling bergengsi di sekolahan, mbak! Rata-rata ya karena pintarnya! Jago-jago semua di kelas itu, makanya cuma 16 murid aja sekelasnya!” kata Gilang.

“Kalau menurut adek sendiri, benar enggak semua yang masuk kelas itu karena pintar dalam pelajarannya! Atau ada juga karena pintar futsalnya, aktif di kegiatan sekolah dan lainnya?!”

“Iya juga ya, mbak? Kalau adek ingat-ingat paling ya hanya 6 orang aja yang memang pintar di pelajaran, sisanya ya biasa-biasa aja sih! Bahkan ada yang pernah tinggal kelas, mbak!”

“Berarti kan bukan semata-mata karena pintar di pelajaran aja yang bisa masuk kelas unggulan itu, dek! Banyak penilaian lainnya juga! Kalau adek sendiri, bisa disuruh pindah ke kelas hebat itu karena apa?!” tutur Dinda.

“Iya juga ya, mbak?! Aneh juga ya?! Ya kalau adek sih ngerasa ya karena adek pintar aja! Adek kan jago matematika, mbak?!” ujar Gilang.

“Yakin cuma karena pintar? Lagian adek ngaku sendiri cuma jago matematika doang! Kan banyak pelajaran lain! Berarti ada faktor lain juga yang membuat adek disuruh pindah kelas itu! Jangan ge-er dulu!?”

“Faktor apa menurut, mbak?!”

“Ya bisa aja karena adek selama ini selalu masuk tim inti futsal sekolah! Atau karena adek juga aktif di kegiatan seni budaya! Dan masih banyak kemungkinan lainnya! Jadi jangan sampai adek ke-pede-an aja! Adek harus tetap merendah, slow dan cool aja! Tetap belajar dengan serius!”

“Iya mbak! Tapi ngomong-ngomong emang untuk seseorang pindah ke kelas yang lebih baik itu mesti banyak faktor pendukung lainnya ya mbak? Enggak cukup dengan pintar aja ya?!” kata Gilang.

“Ya pintar pelajaran memang diperlukan, dek! Tapi faktor-faktor lain juga tidak bisa dikesampingkan! Bahkan kalau di dunia birokrasi, mau dapat jabatan itu banyak sekali faktor pendukungnya, bahkan itu yang dominan dibandingkan jenjang karier yang telah dijejaki atau karena kecerdasannya dalam melahirkan program-program terobosan!” ucap Dinda.

“O gitu ya, mbak? Dari semua faktor pendukung itu yang paling dominan untuk dapat atau naik jabatan apa ya, mbak?!”

“Ya tergantung, dek! Tergantung atasan yang mau pakai saja! Maka jangan heran kalau banyak birokrat berotak encer malah nganggur, sebab mereka tidak memenuhi kriteria yang diimpikan sang atasan! Sedang yang otaknya biasa-biasa aja malah diperankan! Inilah uniknya! Jadi, adek jangan ke-ge-er-an dengan pindah kelas, sebab bisa saja besok-besok adek dibalikin ke kelas yang biasa-biasa saja!?” urai Dinda panjang lebar. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *