8 views

Cerita Katak & Kalajengking

WAJAH Dinda merengut. Tanpa senyum. Bahkan saat masuk rumah pun tidak ber-assalamualaikum lagi. Dia langsung ngeloyor, naik ke lantai atas dan langsung “jedur”, hentakkan pintu kamarnya.

Menunggu beberapa menit kemudian, Gilang baru berani mengetuk pintu kamar Dinda.

“Mbak…! Mbak…! Mbak kenapa..? Boleh adek masuk!” kata Gilang dengan nada takut-takut.

Tak lama, suara kunci pintu kamar berbunyi. Pertanda diperbolehkan masuk.

“Mbak kenapa…? Cerita ke adek ya?!” ujar Gilang sambil duduk di tepian ranjang.

Sambil menghela nafas panjang, Dinda berucap: “Mbak lagi kesal aja, dek! Enggak nyangka aja teman dekat mbak kok tega berkhianat!”

“Berkhianat kayak mana, mbak?!”

“Ya berkhianatlah pokoknya! Maka mbak kesal benar! Jadi bete mau berteman lagi dengan dia!”

“Bisa mbak ceritain ke adek?!” rayu Gilang.

“Kemarin kan teman itu ngajak mbak belajar bareng, karena dia tahu mbak lebih paham pelajaran sosial! Sedang dia sangat lemah di pelajaran itu! Ya sudahlah, mbak ajarkan dia apa-apa yang perlu dia tahu!” Dinda mulai bercerita.

“Terus mbak…!?”

“Dia kan pintar pelajaran matematika! Jadi mbak minta dia ajarin mbak juga!”

“Ya mau sih dek! Walau mbak tahu kalau dia sebenarnya ogah-ogahan!”

“Nah, kalau dia juga mau kasih tahu pelajaran yang mbak lemahkan ya enggak ada masalah dong?! Kok mbak bilang dia berkhianat?!”

“Sebentar dong, cerita mbak kan belum selesai, dek! Jangan main potong aja!” sahut Dinda dengan nada tinggi.

“Oke, oke, mbak! Sorry, mbak! Ya sudah, terusin ceritanya ya?!” ucap Gilang dengan buru-buru.

“Waktu ulangan tadi, semua pelajaran sosial yang mbak kasih tahu, keluar semua jadi soal! Jadi dia bisa menjawabnya dengan bagus! Bahkan selesai duluan! Giliran matematika, pas ada yang mbak enggak tau, dia enggak mau kasih tau! Malahan dia buru-buru nyelesaiin ulangan dan keluar kelas duluan! Padahalkan dia tahu mbak lagi kesulitan! Mestinya kan ya ada teposeliro-lah! Saling mendukung!” urai Dinda.

“Terus gimana, mbak?!”

“Kesalnya mbak, pas istirahat, dia bilang kalau nilai dia pasti lebih bagus dibanding mbak! Karena mbak pasti jeblok nilai matematikanya! Ngapainlah dia bilang kayak begitu! Itu kan sengaja benar mau buat mbak drop!” lanjut Dinda masih dengan nada kesal.

“O gitu to ceritanya, mbak! Biasa aja kejadian begituan mah, mbak! Enggak usah buat mbak berlarut dalam kekesalan, karena mbak sendiri yang akan rugi!” kata Gilang.

“Biasa kayak mana, dek? Wong jelas-jelas perilaku enggak bagus gitu kok dianggap biasa! Kita jangan terbiasa menganggap hal-hal yang tidak baik menjadi biasa, dek! Akhirnya akan sulit bagi kita untuk kembali ke fitrah berbuat kebaikan!” tutur Dinda.

“Mbak pernah dengar cerita tentang katak dan kalajengking..?” tanya Gilang.

“Enggak, emang apa ceritanya, dek?!” kata Dinda sambil menggelengkan kepalanya.

“Alkisah, disuatu senja, di musim yang lalu, terjadi gelombang pasang yang membanjiri sebuah pulau! Saat itu, sang katak akan berenang menuju pulau terdekat! Muncul seekor kalajengking! Dia minta diajak! Sang katak tau persis galaknya si kalajengking! Dia minta kalajengking berjanji untuk tidak menancapkan kuku beracunnya saat dalam penyeberangan! Kalajengking pun menyanggupi! Bergeraklah sang katak menembus gelombang pasang dengan kalajengking diatas tubuhnya menuju pulau terdekat untuk menyelamatkan diri!” kata Gilang.

“Terus, apa yang terjadi, dek?!”

“Begitu sampai daratan, spontan sang katak menjerit! Rupanya, kalajengking tidak memenuhi janjinya! Dia tusukkan racunnya ke tubuh katak yang menyelamatkan kehidupannya!” lanjut Gilang.

“Lho, bukannya kalajengking sudah janji tidak akan menyakiti, dek?!” sela Dinda.

“Iya, kalajengking memang berjanji, mbak! Tapi apa kata dia saat sang katak mempertanyakan sikapnya, dengan enteng dia bilang kalau membunuh adalah nalurinya! Jadi mau janji apapun, kalau sudah bernaluri pembunuh, bernaluri pecundang, ya tetap akan kembali bermain dengan nalurinya, mbak! Jadi mbak enggak perlu kesal-kesal kalau hadapi kejadian kayak cerita katak dan kalajengking gini! Karena pada hakekatnya hanya hati dan pikiran bersih saja yang bisa menjauhkan kita dari naluri-naluri kehewanan!” ujar Gilang sambil mengelus punggung Dinda, menebar kedamaian di hati mbak kesayangannya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *