5 views

Zaman Tol

SESAMPAINYA di Kota Bandung sore kemarin, Gilang tak bergairah. Dia minta langsung ke hotel saja, pengen istirahat.

“Lho, bukannya kita jalan-jalan dulu, dek? Malem baru masuk hotel!” kata Dinda.

“Enggak, mbak! Adek pengennya kita langsung aja ke hotel! Adek mau istirahat, capek!” sahut Gilang.

“Masak anak laki perjalanan gini aja capek sih, dek?! Kan adek tinggal duduk aja! Lagian, banyak adek yang tidur sepanjang jalan ketimbang mbak!”

“Mbak, kalau urusan capek itu enggak kenal jender! Mau laki-laki atau perempuan ya sama aja! Adek banyak tidur itu karena sudah jenuh, capek dan kesal! Masa sepanjang jalan sejak Merak sampai ke Purbaleunyi muacetnya minta ampun! Padahal kan yang kita lewati tadi jalan tol, jalan yang katanya bebas hambatan!” ucap Gilang.

“Namanya juga menghadapi hari-hari libur panjang, dek! Jangan kampungan gitu dong! Setiap ada beberapa hari libur, jalan tol ke arah Cikampek, arah Bogor, pasti macet! Ya dinikmati ajalah, enggak usah buat hati kesel gitu!” kata Dinda.

“Adek enggak kampungan kok, mbak! Cuma adek heran aja  kenapa saat ini program membangun infrastruktur tol itu jadi prioritas kalau kenyataannya malah banyak macetnya!”

“Kalau begitu adek bayangin, gimana kalau enggak ada jalan tol, apa enggak malah muacetnya enggak karuan! Intinya dek, jangan kesel ngadepin situasi yang diluar bayangan kita! Karena banyak hal di langit dan di bumi ini yang jauh dari apa yang kita bayangkan! Kalau sekarang lagi zamannya tol, ya syukuri aja! Sebab nawaitunya baik dan program itu pun buat kemudahan masyarakat!”

“Walau sekarang zaman tol, bukan berarti semua bisa dijadikan program tol dong, mbak?!” ujar Gilang.

“Maksudnya apa, dek?!” tanya Dinda.

“Dengan alasan mengurangi kepadatan di jalur tol darat, dibuatlah program tol laut! Kenyataannya kan enggak ngaruh, mbak! Tetap aja tol darat yang jadi tumpuan arus kendaraan! Program tol laut malah bisa dibilang hidup segan mati tak mau!” jelas Gilang.

“Ya semua kan perlu waktu, dek! Perlu sosialisasi yang tersistem, sehingga masyarakat akan tahu bila program tol laut lebih baik dari berbagai sisi dibanding tol darat! Banyak parameter untuk menilainya, dek! Enggak bisa kalau kata orang: sak dek sak nyek!” kata Dinda.

“Nah, sekarang malah ada program tol sungai lo, mbak? Ini program apaan?!”

“O, yang jadi program pemerintah provinsi di 2017 ya, dek? Itu upaya untuk memperlancar proses perkembangan ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan seputaran sungai! Itu program bagus, dek! Daerah kita kan banyak dilewati sungai, yang potensi di sekitarannya juga besar, tinggal infrastruktur pendukung aja yang dibutuhkan! Maka dibuatlah program tol sungai itu!” kata Dinda.

“Jadi mbak yakin kalau tol sungai itu akan membawa perbaikan kehidupan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitaran sungai?!” tanya Gilang.

“Ya iyalah, dek! Bahwa untuk pembuktiannya perlu waktu, ya itu yang harus dipahami semua pihak, dek! Nurut mbak, ini program terobosan yang patut didukung, diapresiasi walau ya tetap diawasi!”

“Ya sudah kalau mbak optimis program itu akan membawa kebaikan, itu penilaian yang harus adek hormati!”

“Jadi maksud adek apa nih?!”

“Adek ingat status bbnya seorang sahabat aja, mbak! Dia menulis begini; terkadang khayalan bisa membuat kita tersenyum, tetapi terlalu sering berkhayal akan membuat kita menangis!” kata Gilang sambil menguap, menahan capek dan kantuk yang sangat. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *