Ojo Pungli…!!!

SEPULANG dari sekolah siang tadi, Gilang langsung mencari Dinda.

“Mbak…! Mbak dimana…?!”

“Di kamar, dek!?” sahut Dinda dari kamarnya.

“Adek masuk ya, mbak?!” ucap Gilang sesampainya di depan pintu kamar Dinda.

“Iya, masuk ajalah, dek! Pakai tanya segala!”

“Ya kan izin dulu dong, mbak! Siapa tau mbak lagi ngapa-ngapa! Namanya ke kamar anak gadis, kan enggak boleh nyelonong aja!” kata Gilang.

“Mbak lagi baca buku aja kok, dek! Ada apa..?!” tanya Dinda.

“Anak guru adek yang sekelas itu enggak jadi khitan lo, mbak? Kasihan ya…!” Gilang mulai bercerita.

“Memangnya kenapa, dek? Kan bu guru sudah kasih tau adek sama temen-temen, lagian kata adek, sudah nyiapin acara syukuran juga!”

“Itu masalahnya, mbak! Tadi ibu guru nyampein, kalau rencana khitan anaknya ditunda! Waktu dia bilang gitu wajahnya sedih bener lo, mbak!”

“Kenapa kok ditunda, dek?” tanya Dinda.

“Kata ibu guru, karena enggak jadi dapet dana sertifikasi semester III dan IV, mbak! Dia cerita, awalnya punya rencana kalau dana itu cair, mau khitankan putra tunggalnya dan sekalian syukuran! Makanya bu guru nyampein waktu dulu itu, mbak! Enggak taunya, dana sertifikasi enggak keluar! Dana bantuan pemerintah untuk para guru tersebut enggak jadi cair! Jadi batallah rencananya! Kasihan ya, mbak?!” urai Gilang.

“Kok bisa gitu, dek! Yang namanya dana sertifikasi itu kan sudah jelas alurnya! Itu uang negara lo, dek! Enggak bisa diatur semaunya aja!” sela Dinda.

“Kenyataannya kayak gitu, mau bilang apa, mbak! Semua juga tahu kalau dana sertifikasi itu bagian upaya pemerintah pusat menyejahterakan kaum guru! Tapi kenyataannya kan enggak cair!”

“Masalahnya memang dimana, dek?!”

“Kalau kata ibu guru, sebenarnya ada di pemerintah daerah, mbak! Di Pemkot Bandarlampung! Memang, infonya dana sertifikasi yang sekarang ini belum dikucurkan dari pusat, karena pemerintah pusat menganggap masih ada sisa dari kucuran dana sebelumnya yang bisa digunakan untuk membayar periode ini! Tapi ya enggak jelaslah, mbak! Ada yang cerita kalau dana sisa itu digunakan untuk proyek flyover, ada yang bilang dipakai untuk bantuan-bantuan sosial, dan sebagainya! Apapun alasannya, kenyataannya para guru enggak dapat kejelasan soal dana sertifikasi ini dan itu yang membuat guru adek jadi batal mengkhitankan anaknya! Kasihankan, mbak?!!” jelas Gilang.

“Lha, bukannya justru Pemkot Bandarlampung itu amat perhati sama guru, dek! Nyatanya mau ada Gerakan Hormati Guru lo!” ucap Dinda.

“Alah mbak! Itu gerakan mah cuma upaya buat nyeneng-nyenengin hati guru aja! Mengalihkan perhatian aja!” sela Gilang dengan nada sinis.

“Memang sekarang ini banyak yang pungli, dek!”

“Bukan pungli yang artinya pungutan liar, dek! Tapi rampung lali! Artinya, kalau sudah selesai terus lupa! Itu memang sudah penyakitnya para petinggi, dek! Kalau masa kampanye menghadapi pilkada, sudah kayak iya-iyanya aja semua elemen diagungkan! Janji-janji manis ditebar seenaknya aja! Tapi begitu sudah jadi, semua dilupakan! Rakyat yang kemarin diberi janji-janji, haknya pun digerogoti! Boro-boro mau memberikan nilai lebih kepada rakyat yang sudah memilihnya!” kata Dinda.

“Jadi menurut mbak bagusnya gimana…?!”

“Buat saja Gerakan Ojo Pungli, dek! Gerakan Jangan Lupa Kalau Sudah Jadi! Gerakan moral ini lebih bermakna ketimbang trik-trik lain untuk sekedar menyenang-nyenangkan hati rakyat, utamanya para guru!”

“Cocok itu, mbak! Kayaknya itu yang perlu diutamain ketimbang Gerakan Hormati Guru! Karena guru adek berpesan untuk kami anak didiknya jangan pernah punya cita-cita menjadi guru! Sebab nasib profesi terhormat ini tidak senikmat sebutannya!” kata Gilang sambil pamit keluar dari kamar Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *