19 views

Cerita 5 Jam Di Selat Sunda

DEK, sudah sampai mana..?!” tanya Dinda pada Gilang melalui handphone.

“Masih di kapal, mbak!?” sahut Gilang.

“Kok masih di kapal terus sih…? Kan dari Pelabuhan Bakauheni ke Merak paling lama juga 3 jam, dek!”

“Ya mestinya begitu, mbak! Tapi nyatanya sudah 4 jam lebih kapal masih terombang-ambing di Selat Sunda! Ya mau gimana lagi, kan enggak mungkin mau lompat dari kapal biar cepat nyampe, mbak!”

Hampir 15 menit sekali Dinda mengontak Gilang. Menanyakan posisi. Tapi tetap saja jawaban yang diterimanya sama saja. Masih di kapal yang berhenti di Selat Sunda.

“Apa masalahnya kok lama banget gini, dek?!” kata Dinda lagi.

“Menurut nakhoda dalam pengumumannya tadi karena menunggu 3 kapal yang didepan bongkar dan muat dulu, mbak! Ya kalau satu kapal perlu waktu 45 menit, hitung aja perlu berapa lama lagi untuk bisa sandar!” jelas Gilang.

“Haduuuh, bete berat jadinya mbak nunggu kayak begini, dek!” ucap Dinda melalui handphone dari Bandung.

“Mbak yang nunggu sambil bisa main aja bete, apalagi adek, mbak! Tapi ya mau gimana lagi dong! Namanya di lautan, mau enggak mau ya harus sabar menunggu, mbak!”

“Adek kan tahu, yang namanya menunggu itu pekerjaan tak bergaji yang paling membosankan!” Dinda menyela.

“Benar sih, mbak! Tapi ya itu yang harus dijalani! Maka itu harus dilakoni dengan nyantai aja, mbak! Jangan gupek, jangan kesel! Ya pakai ilmu ikhlas ajalah, mbak!”

“Enak aja adek ngomong, jalaninya yang berat! Lagian kan mbak sudah izin dari asrama kalau sore nanti mau dijemput terus menginap diluar dengan keluarga! Kan malu kalau adek belum jelas nyampenya jam berapa!” kata Dinda.

“Nyantai aja sih, mbak! Kita memang merencanakan, tapi kan semuanya Tuhan yang memastikannya, mbak! Kita kan enggak tahu ada rahasia apa kon sampai hampir¬† 5 jam terkatung-katung di Selat Sunda kayak begini! Kalau kita meyakini bahwa semua tidak lepas dari maunya Tuhan, ya enjoy aja jalaninya, mbak!” sahut Gilang.

“Ya sudah kalau adek nyantai-nyantai aja 5 jam enggak sandar-sandar kapalnya, walau mestinya cukup 3 jam saja paling lama! Yang pasti, dengan kejadian ini, banyak agenda yang terpaksa batal atau minimal tertunda!”

“Asal mbak tahu aja ya! Jangankan sekedar rencana yang harus melalui perjalanan laut kayak gini! Wong yang jelas-jelas sudah dikerjakan di darat saja, dengan perencanaan yang matang, dengan pekerjaan yang sepertinya dilakukan dengan sungguh-sungguh, banyak yang kenyataannya keluar jauh dari apa yang sudah diprogramkan kok!” ucap Gilang.

“Misalnya apa, dek..?!”

“Sekarang ini sudah banyak jalan yang baru 3 bulan dibuat, dengan dana miliaran rupiah, kondisinya hancur-hancuran lo, mbak!”

“Ah yang benar, dek! Jangan ngarang aja, ntar banyak yang marah lo!” kata Dinda.

“Adek enggak ngarang kok, mbak! Barusan adek dapat kabar dari kawan seorang anggota Dewan di Pesawaran, kalau bangunan jalan dari Gedongtataan ke Kedondong yang baru sekitar 3 bulan dikerjakan, sekarang sudah hancur lagi! Ironisnya, itu jalan provinsi lo, mbak! Yang kabarnya, beberapa waktu lalu sempat ditinjau langsung oleh gubernur dan bupati! Menyedihkan sekalikan?!” urai Gilang.

“Kok bisa begitu, dek! Itu kan sama saja dengan mempermalukan gubernur dan bupati dong?!” kata Dinda lagi.

“Ya mana adek tahu, mbak! Kalau mau tanya kenapanya, ya ke pimpinan Bina Marga dong! Rakyat harus berani menyampaikan kenyataan hasil pembangunan yang bobrok semacam ini ke gubernur atau bupati! Agar beliau-beliau segera mengevaluasi kinerja anak buahnya dan bukan sekedar mendapat laporan yang bagus-bagus saja!”

“Aneh juga,, wong baru dibangun 3 bulanan kok sudah rusak lagi ya, dek!?”

“Enggak aneh sebenarnya, mbak! Karena mayoritas ya seperti itu kenyataan di lapangan! Rakyat sudah disuguhi jalan rusak lagi! Masih bagus nasib adek, terkatung-katung di Selat Sunda enggak rasain jeglok-jegloknya jalan baru diperbaiki tapi cuma berumur 100 hari!” kata Gilang sambil tertawa. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *