0 views

“Om, Telolet…!”

GILANG berkali-kali menggelengkan kepalanya setiap menonton tayangan televisi betapa “virus” bernama “Om Telolet Om..!” mendadak bak sang super star di akhir tahun ini.

“Enggak nyangka ya, urusan klakson bus aja bisa jadi viral mendunia, mbak! Padahal klakson beragam suara kayak gitu kan sudah sejak beberapa tahun lalu ngetrend di per-bus-an daerah jawa!” ucap Gilang yang sejak dikhitan Jumat (23-12) petang memilih tiduran leyeh-leyeh seharian kemarin.

“Segala sesuatu itu memang ada masanya, pada suatu masa pasti ada sesuatunya, dek! Jadi enggak usah heran!” sahut Dinda yang selalu menemani adek semata wayangnya.

“Tapi soal meledaknya `om telolet om` ini kan unik, mbak! Ada suatu fenomena tersendiri yang layak kita pahami kayaknya ya, mbak?!”

“Ya memang sih, dek! Semua yang mencuat tiba-tiba memang layak kita cermati! Kalau nurut mbak sih, hal itu enggak terlepas dari kelelahan spiritual masyarakat akan situasi kehidupan sekarang ini, dek! Hari demi hari kan kehidupan semakin berat! Perkembangan ekonomi yang dibilang terus membaik nyatanya tak bersinggungan langsung dengan peningkatan ekonomi masyarakat kebanyakan! Pertumbuhan kawasan industri tidak berdampak langsung bagi masyarakat di sekitaran! Pengangguran tetap tinggi, yang berujung makin meningkatnya tindak pelanggaran hukum!” urai Dinda.

“Waduh, jangan ngomong berat-berat, mbak! Adek enggak nyampe mikirinnya! Lagian ngenyut-ngenyut abis dikhitan ini malah nambah kalau mbak ngomongnya berat-berat! Bahas yang enteng-enteng dan nyeneng-nyenengin aja sih, mbak?!” sela Gilang.

“Lho, yang mbak omongin tadi kan hal-hal yang enteng aja sih, dek!”

“Emang enteng diomongin, tapi kan susah buat dipikirin jalan keluarnya, mbak!”

“Jadi, fenomena `om telolet..!` itu mesti kita sikapi dengan hati lapang, dek! Itu alasan buat kita ketawa bersama! Ngetawain diri kita sendiri tanpa ketersinggungan di diri kita!”

“Maksudnya, mbak…!” tanya Gilang.

“Sekarang eranya anak-anak mengajak semua kita untuk masuk ke dunia mereka! Anak-anak yang berbaris di pinggiran jalan demi mendapatkan suara klakson bus beraneka nyanyian tersebut mengajarkan kepada kita bahwa sudah saatnya kita kembali ke dunia anak-anak!”

“Ya enggak mungkinlah mengajak yang tua-tua kembali ke dunia anak-anak, aneh aja mbak ini!” kata Gilang.

“Yang enggak mungkin itu kan bisa jadi mungkin dan harus dilakuin, dek! Bukan kembali jadi anak-anak lo! Tapi suasana kebatinannya yang harus dikembalikan ke dunia anak! Dunia yang penuh keceriaan, yang sepi dari pertikaian, yang ikhlas dalam pergaulan, dan penuh harmoni!” jelas Dinda.

“Tapi kan virus `om telolet om..!` itu enggak cuma dimainkan anak-anak, mbak! Banyak orng tua bahkan di luar negeri pun menyukainya!”

“Ya itulah, dek! Sadar atau tidak, sebenarnya kita semua -tak peduli usia berapa- amat menyukai hal-hal yang berbau ke-anak-anak-an! Kalau suasana tersebut untuk menyegarkan jiwa, ya enggak apa-apa, dek! Yang jadi masalah itu kalau pengambilan kebijakan pun terbawa arus ke-kanak-kanak-an, dampaknya akan kurang baik bagi perkembangan kehidupan masyarakat yang berada dalam payung kebijakannya!” ucap Dinda.

“Contohnya kayak apa, mbak?!”

“Soal dugaan gratifikasi yang membawa Bupati Tanggamus sekarang menjadi tahanan KPK, dek! Bisa dipastikan akan ada beberapa tokoh masyarakat yang lain akan ikut jejaknya masuk bui juga lo!”

“Kok mbak bisa mastiin?!”

“Lho, yang namanya gratifikasi atau dugaan suap itu kan ada yang memberi dan ada yang menerima, dek! Enggak mungkin sendirian! Jadi sudah bisa dipastikan ada anggota Dewan yang akan ikut menjadi tahanan juga, dek!”

“Yang adek heran, kok bisa ya urusan ketok palu APBD pakai suap-suapan segala ya, mbak! Kan memang tugas anggota Dewan membahasnya!” ujar Gilang.

“Sebenernya, kalau mau jujur, praktik semacam itu ya ada di semua struktur birokrasi pemerintahan, dek! Enggak bakalan APBD disetujui kalau belum jelas deal-deal-nya! Terlepas apa bentuknya deal-deal tersebut!”

“Kalau memang semua memainkan pola suap-suapan, kok enggak seheboh masalah di Tanggamus ya, mbak!”

“Karena hanya beberapa anggota Dewan di Tanggamus yang akhirnya kembali bisa konsisten menjaga dunia ke-anak-anak-annya, dek! Dunia yang penuh ketulusan, kepolosan serta tidak bermain dalam keriuhan kebohongan yang berlama-lama!”

“Bukannya karena deal-dealnya dianggap kekecilan akhirnya nyanyi enggak karuan itu, mbak?!”

“Ya semua kita boleh menafsirkan macam-macam, dek! Kayak lagi maraknya aksi `om telolet om..!` itu! Yang pasti, kita harus bisa memetik hikmah dari fenomena ini, tentu sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan kita masing-masing!” kata Dinda sambil membetulkan kain sarung yang dipakai Gilang untuk menutupi `ook`-nya yang usai dikhitan. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *