0 views

Uang Baru

SEJAK diedarkannya uang rupiah kertas dan logam tahun emisi 2016 mulai 19 Desember lalu, banyak pertanyaan yang diajukan Gilang pada Dinda.

Bukan hanya kenapa harus diedarkan uang baru tapi juga nama-nama pahlawan yang menjadi gambar utamanya. Gilang terang-terangan mengaku kurang mengenal beberapa tokoh seperti Frans Kaisiepo, Mr I Gusti Ketut Pudja, Letjen TNI TB Simatupang, sampai ke Prof Dr Ir Herman Johanes.

“Bingung lo mbak karena adek enggak tau siapa-siapa beliau itu!?” ucap Gilang.

“Kan tinggal cari di buku sejarah aja sih, dek! Atau buka internet, cari bagaimana kiprah para tokoh tersebut! Justru dengan belum banyak tau siapa-siapa para tokoh yang sekarang gambarnya terpampang di uang baru itulah menjadi motivasi bagi kita semua untuk mengenal, mengambil hikmah perjuangan beliau-beliau serta menghargai jasa kepahlawanannya! Ini salah satu cara pemerintah mengajarkan kepada rakyatnya untuk menghormati para pejuang, dek!” kata Dinda.

“Tapi mestinya kan yang sudah beken dong yang dijadikan gambar utama di uang baru, mbak!” sela Gilang.

“Kalau sudah terkenal dan dikenal rakyat, ya ngapain lagi, dek! Justru yang belum familiar di masyarakat itulah yang harus dikenalkan, sekaligus menunjukkan betapa banyak sebenarnya tokoh-tokoh yang mewarnai kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di negeri ini!”

“Wah, bahasa mbak kayak pejabat aja ya..?!” kata Gilang sambil ketawa.

“Ya enggak begitu juga kali, dek! Mbak coba memahami aja kenapa kok pemerintah putuskan gambar beberapa pahlawan yang belum familiar di masyarakat menjadi gambar utama di uang kertas dan logam yang barusan beredar ini!”

“Jadi intinya lebih mengenalkan sosok kejuangan para pahlawan yang selama ini jarang disebut dan dikenal ya, mbak?!”

“Ya begitulah, dek! Hadirnya uang baru dengan menampilkan wajah-wajah para pahlawan yang selama ini kurang memasyarakat tersebut sebenarnya bisa kita jadikan pelajaran juga, bahwa proses kehidupan terus berjalan! Bahwa akan selalu ada tokoh-tokoh baru yang selama ini sudah cukup berkiprah di masyarakat namun belum seberapa dikenal, yang akan muncul pada momen-momen tertentu!” urai Dinda.

“Misalnya, mbak…?!” tanya Gilang.

“Memasuki tahun 2017, dipastikan akan muncul tokoh-tokoh pejuang yang akan mensosialisasikan dirinya lebih masif ke masyarakat terkait dengan akan berlangsungnya pesta demokrasi rakyat di 2018 nanti! Itu hal yang lumrah dan alamiah saja, dek! Bukan sesuatu yang aneh atau tidak wajar!”

“Jadi maksudnya memasuki tahun baru 2017 nanti bisa dipastikan suasana politik di daerah akan semakin meriah ya, mbak?!”

“Iya dek…! Kan tahun depannya akan ada pemilihan gubernur, pemilihan bupati di Lampung Utara dan Tanggamus! Prosesnya kan dimulai sejak awal 2017 nanti! Jadi ya enggak usah kaget kalau kemudian di masyarakat bertumbuhan tim-tim sukses, tim-tim relawan dan pergerakan terkait dengan proses suksesi kepemimpinan itu!” kata Dinda.

“Tapi kayaknya sih enggak bakal segumek 2014 kok, mbak…? Nyantai aja..!” sela Gilang.

“Adek, urusan politik itu kayak cuaca! Pagi hari bisa redup bersuasana akan hujan! Tapi memasuki siang, bisa saja mendadak berubah panas terik! Hujan lebatnya justru turun saat sore sampai malam! Dan dunia politik di negeri ini aneh bin ajaib lo!”

“Aneh bin ajaib gimana, mbak?!”

“Kalau di negara lain, dikenal peribahasa kill or to be killed! Di negeri kita ini enggak, dek! Banyak yang bilang, nyawa politisi kita itu melebihi kucing; hidup, mati, hidup, mati dan hidup lagi!”

“Artinya, mbak…?!”

“Artinya, bagi siapapun yang mau mentas di pilkada 2018, jangan terlalu ke-pede-an! Jangan menganggap diri kita yang paling dikenal masyarakat! Karena bisa saja muncul pejuang-pejuang yang selama ini sudah banyak berbuat namun kurang dikenal saja oleh masyarakat! Hadirnya uang baru sekarang ini mengajarkan hal tersebut sebenarnya, dek! Sekali kita menganggap sepele ketokohan seseorang, itu  awal dari kehancuran!” kata Dinda lagi. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *