0 views

Ayam Goreng

SAAT Dinda pamit akan ke Mal Boemi Kedaton (MBK) untuk membeli buku-buku baru di Gramedia, tadi sore, Gilang berpesan dibawakan oleh-oleh.

“Mau dibeliin apa emangnya, dek..?!” tanya Dinda.

“Beliin adek ayam goreng aja ya, mbak! Yang paha atas ya!”

“Berapa potong, dek..?!”

“Dua potong aja cukup kok, mbak!” kata Gilang.

Berangkatlah Dinda ke MBK. Selang 45 menit kemudian, hp Gilang berdering.

“Mbak yang telepon, kenapa ya..?!” ucapnya sambil mengangkat hpnya.

“Adek, mbak ini sudah di jalan pulang! Sekarang di lampu merah! Ini ada ibu-ibu sambil gendong anaknya keujanan, ngedeket kaca mobil minta sedekah!” kata Dinda dari seberang.

“Ya terus kenapa, mbak..?!”

“Mbak mau kasih uang tapi sudah enggak ada lagi! Gimana kalau ayam goreng pesenan adek aja yang mbak kasihin!” tutur Dinda minta persetujuan.

“Ya sudah, kasihin aja, mbak! Adek enggak apa-apa kok!” sahut Gilang.

Jadilah pesenan Gilang berupa dua potong ayam goreng itu diberikan ke seorang wanita paruh baya yang menggendong anak di perempatan Jalan Ki Maja – Sultan Agung.

Sesampai di rumah, Dinda memeluk Gilang. Mengekspresikan kebanggaannya atas sikap sang adek.

“Nyantai aja lagi, mbak! Kita kan memang harus mau selalu berbagi! Semua rejeki sudah ada yang mengaturnya!” kata Gilang sambil tetap meneruskan main gadgetnya.

“Tapi mbak jadinya kepikiran, adek enggak jadi makan ayam goreng! Padahal kan itu makanan kesukaan adek!” ujar Dinda.

“Ya sudah, enggak apa-apa, mbak! Mungkin Tuhan sudah mengaturnya demikian, yang penting kita ikhlas aja!”

Di saat keduanya masih berdialog, mendadak ada yang mengetuk pintu pagar. Dinda mengintip dari balik tirai horden.

Dilihatnya seoang anak seusia Gilang yang mengetuk pintu pagar sambil mengucap salam.

Dinda pun keluar. Ditemuinya anak tersebut. Anak itu menyerahkan bungkusan. “Ini hadiah buat Gilang!” kata anak tersebut pada Dinda.

Setelah di dalam rumah, diserahkannya bungkusan itu pada Gilang.

“Apa ini, mbak..?!” kata Gilang sambil membuka bungkusan dari produk sebuah tempat makanan siap saji tersebut.

“Masyaallah, mbak! Isinya ayam goreng paha, mbak! Ada sepuluh potong lagi! Alhamdulilah…!!” teriak Gilang.

Spontan Dinda mengajak Gilang untuk sujud syukur. Terimakasih ya Allah atas karunia dan ridho-Mu.

“Luar biasa ya, mbak! Barusan aja adek ikhlasin dua potong ayam goreng, langsung dapat ganti sepuluh potong!” ucap Gilang.

“Tuhan memang tidak tidur, dek! Tuhan melalui malaikat-malaikat-Nya selalu memberi balasan secara langsung bagi setiap perbuatan yang dilakukan penuh keikhlasan! Alhamdulilah! Puji syukur!” kata Dinda.

“Sungguh luar biasa ya, mbak! Adek sampai enggak bisa mikir lagi, kok bisa begini!”

“Ya itulah cara Tuhan dalam menunjukkan kebesaran-Nya, dek! Dia akan hadir bagi orang-orang yang peduli dengan sesama! Pada orang-orang yang tidak kikir! Pada orang-orang yang selalu istiqomah!” kata Dinda.

“Kalau tadi enggak adek kasih mbak berikan ayam goreng yang mbak beli ke ibu-ibu penggendong anak yang kesusahan itu, bakal enggak ya ada yang nganter ayam potong sebanyak ini, mbak?!” tukas Gilang.

“Ya enggaklah, dek! Tuhan itu akan memberikan balasan pada orang-orang yang mau berbagi dengan sesama! Dan yang paling penting, semua dilakukan dengan ikhlas! Bukan mencari nama atau malah menjurus ke riya!”

“Kalau saja kita semua mau selalu berbagi pada sesama alakadarnya aja setiap harinya, betapa indah kehidupan ini ya, mbak!” kata Gilang.

“Itu yang jadi kewajiban kita-kita, dek! Mengajak temen-temen untuk makin peduli dengan sesama! Dengan begitu, bukan cuma rahmat Tuhan yang didapatkan tapi juga kebersamaan sesama manusia akan terbangun dengan mantapnya! Kehidupan yang demikian hendaknya dibangun dari sekarang! Jurang pemisah antara yang kaya dengan yang miskin selayaknya makin dipersempit oleh kelapangan jiwa kita semua!” ujar Dinda sambil mengajak Gilang mulai menikmati kiriman ayam goreng siap saji yang diantar seorang anak tak mau dikenali. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *