0 views

Uang Jajan

PETANG kemarin handphone Gilang berdering berkali-kali. Karena sedang main sepeda di halaman, suara panggilan telepon genggam itu tidak didengarnya. Sampai kemudian, dia masuk kamar dan dilihatnya ada 10 panggilan tak terjawab dari Dinda.

“Wah, ngapain nih mbak sampai telepon 10 kali ya..? Pasti penting ini mah!” ucap Gilang sambil memencet balik nomor handphone Dinda.

“Adek ngapain aja sih, mbak telepon berkali-kali nggak juga diangkat!” seru Dinda begitu mengangkat telepon dari Gilang.

“Maaf, mbak! Adek tadi lagi main sepeda di halaman belakang! Handphone di kamar, jadi nggak kedengeran suaranya!” jelas Gilang.

“Maaf aja bisanya adek ini! Makanya handphone itu taruh dideket kemana aja adek jalan! Jadi kalau ada yang penting-penting bisa cepet!” ketus Dinda lagi.

“Ya maaf sih, mbak! Adek kan nggak tau kalau mbak mau telepon! Emangnya ada apa ya, mbak?!” kata Gilang.

“Jadi gini, dek! Mbak ini kan lagi banyak kegiatan di sekolah! Ditambah kegiatan ekstra kurikuler! Kegiatan ikut camp olimpiade kan masih terus jalan! Jadi kan mbak perlu tambahan pegangan uang jajan! Tapi ini kok malah belum dikirim-kirim ya uang jajannya!” urai Dinda.

“O gitu ya, mbak! Bagusnya mbak tanya ke Mama dong! Mana adek tahu soal begituan, mbak!” ucap Gilang.

“Sudah, dek! Mbak ini sudah nge-line Mama juga, tapi kata Mama; sabar yo, nduk! Ya sudah, sabar itulah yang bisa mbak jalanin!”

“Memangnya uang jajan itu perlu bener tah, mbak! Mbak kan di asrama, semua sudah ditanggung! Makan sampai ke urusan laundry pun sudah dibayar! Lagian mbak kan punya tabungan di bank, yang ATM-nya juga mbak pegang! Kalau penting-penting ya pakai aja dululah, mbak! Jangan ngandelin kiriman tambahan uang jajan!” kata Gilang.

“Ya dibilang perlu-perlu bener, nggak juga sih, dek! Cuma ya tetep perlu dong! Kan mbak harus tetep pegang uang cash, kalau mendadak pengen jajan! Sayangkan kalau sedikit-sedikit ambil di ATM!” sela Dinda sambil ketawa.

“Nah, inilah jeleknya, mbak! Harusnya mbak itu bersyukur! Urusan sekolah dan kebutuhan harian kan sudah tercukupi! Kalau mendadak-dadak juga bisa ambil tabungan, kok urusan pegangan uang jajan aja jadi masalah! Maaf ya mbak! Harusnya mbak itu tahu diri dan jangan lupa bersyukur, karena sekarang ini urusan uang jajan justru menjadi keluhan banyak pegawai! Dan mereka mengeluh itu karena bener-bener susah, mbak!”

“Maksudnya apa, dek?!” tanya Dinda.

“Mbak perlu tahu ya, sekarang ini ribuan PNS yang sebelumnya memegang jabatan eselon III dan IV, nggak dapat uang tunjangan jabatan di bulan Januari ini! Uang itu kan bukan sekadar sebagai penghargaan tapi juga bisa dijadikan sebagai uang jajan anak-anak mereka!”

“Kok bisa ribuan pejabat nggak dapet lagi uang tunjangan jabatan, dek?!”

“Penyebabnya sederhana sebenarnya, mbak! Cuma karena mereka-mereka itu belum dilantik aja! Bahkan kalau sampai awal Februari nanti belum juga ada pelantikan lagi, otomatis selama dua bulan yang namanya uang tunjangan jabatan atau kalau istilah anak sekolah sebagai uang jajan, nggak bakal bisa dicairkan!” jelas Gilang.

“Oalaah gitu to ceritanya, dek! Pantes aja Mama nggak komen waktu mbak minta kiriman untuk nambahin uang jajan! Rupanya karena Mama sudah nggak dapet uang jajan lagi ya! Kalau gitu sampein maaf mbak sama Mama ya, dek!” ucap Dinda dengan suara bergetar: prihatin! (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *