Kunang-kunang Phitorus

PULANG dari pertandingan futsal siang tadi, wajah Gilang tampak kesal bercampur lelah. Tanpa mengganti kaosnya yang penuh keringat, dia langsung telepon Dinda.

“Halo, lagi apa, mbak?” sapa dia begitu Dinda mengangkat handphonenya.

“Lagi di salon, dek! Ngerapihin rambut aja! Kenapa, dek??!” sahut Dinda dari seberang.

“Ganggu nggak kalau adek telepon, mbak?!”

“Nggak dek! Memangnya kenapa?!”

“Adek lagi kesel ni, mbak! Mestinya tim adek tadi menang di pertandingan futsal, tapi gara-gara pengganti adek ada main sama lawan, jadinya kalah!” jelas Gilang.

“Kok bisa, dek! Kan pengganti adek pastinya sudah klik bener dengan tim, masak bisa main mata dengan lawan!” kata Dinda.

“Itu yang diluar dugaan, mbak! Ternyata tim lawan yang kami lawan itu pelatihnya bapak temen adek itu! Kami taunya belakangan, setelah pertandingan selesai!” urai Gilang.

“O gitu, dek! Berarti lain kali adek sebagai kapten tim harus pelajari bener siapa calon lawan tandingnya! Bukan hanya bagaimana permainannya tapi juga cari info tentang latar belakang pemain dan pelatihnya! Memang nggak enak ditusuk dari belakang begini, tapi hal kayak begitu memang sering terjadi dalam kehidupan ini! Yang penting lebih cermat aja ya kedepan!” tutur Dinda.

“Iya mbak! Nggak nyangka aja adek ini, mbak! Sebab temen itu jadi pengganti adek kan karena adek yang milih, sebab mainnya memang bagus dan selama ini cukup bersahabat dekat dengan adek!” ucap Gilang.

“Ya udah, jangan disesali ya, dek! Jangan dipelihara rasa kesel dan salahnya ya..! Perbaiki aja kedepannya ya, dek! Sebab bukan hanya di dunia manusia yang kelihatan bagus dan menarik itu berbuah kebaikan pula! Di dunia hewan pun banyak trik antar sesama mereka untuk saling mematikan!”

“Maksudnya apa, mbak?!” tanya Gilang.

“Adek tau kunang-kunang kan? Itu lo, hewan yang berlampu menarik mata kita untuk melihatnya!”

“Iya tau, mbak! Adek pernah liatnya waktu pulang kampung di Menggala!”

“Nah, ternyata ada jenis kunang-kunang namanya phitorus yang tega memakan sesamanya melalui jebakan! Biasanya, kunang-kunang betina akan kasih sinyal ke kunang-kunang jantan yang punya lampu tertentu! Melalui sinar yang mereka miliki, bersepakatlah mereka untuk bertemu dan menyatu!”

“Terus, mbak..?!” kejar Gilang penasaran.

“Nah, kunang-kunang jenis phitorus yang mengintip persepakatan itu merekayasa lampu pijarnya persis dengan penerang punya si jantan yang disukai sang betina! Begitu sang betina beri kode, dia mendekat! Bukannya bersendau gurau tapi si phitorus langsung menerkam si betina dan memangsanya!”

“Wah, ngeri juga ya, mbak?”

“Ya itulah, dek! Di dunia perhewanan aja ada binatang sejenis yang berperilaku semacam itu! Jadi adek nggak perlu sakit hati kalau ada teman yang berkhianat! Cukup tau dan tidak perlu berdekat-dekat lagi! Menjauhinya lebih baik, walau tidak harus memusuhinya!” kata Dinda.

“Barangkali teman itu iri sama adek ya, mbak! Karena selama ini adek selalu ditunjuk jadi kapten tim futsal dari sekolah!” ucap Gilang.

“Ya itu bisa saja, dek! Ada orang bijak yang bilang begini; orang yang iri cenderung membenci. Pembenci cenderung memfitnah tiada henti. Dan diantara pembenci yang paling berbahaya adalah yang pandai tampil sebagai sahabat! Jadi adek harus semakin cermat dalam menilai pertemanan ya..! Kalaupun besok-besok mengalami hal-hal mengesalkan semacam ini, berjiwa besar dan ikhlas saja, dek! Karena tidak ada trik atau rekayasa senegatif apapun yang bisa meruntuhkan kekuatan seseorang yang menjaga keikhlasannya dalam menjalani kehidupan!” ujar Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *