0 views

Menghitung Bintang

SELEPAS makan malam, Dinda ngajak Gilang duduk di gazebo sambil mengerjakan PR. Tapi lebih banyak Dinda memandangi langit ketimbang konsen dengan tugas sekolahnya.

“Kerjain PR, mbak! Bukannya memandangi langit aja!” ujar Gilang sambil mengerjakan PR matematikanya.

“Nyantai aja, dek! Urusan kecil PR itu!” sahut Dinda dengan cueknya.

“Jangan ngeremehin hal-hal yang kayaknya memang remeh temeh, mbak! Sehebat-hebat orang, sepinter-pinter orang, sekali bersikap ngeremehin, nantinya akan dikejutkan dengan keremehan yang ternyata menyimpan kekuatan lo!”

“Alah, nggak usah sok filosofis, dek! Hidup ini yang realistis-realistis aja! Nggak zamannya lagi berfilsafati itu!”

“Lagian ngapain sih mbak mandangi langit melulu? Emang lagi nyari inspirasi buat beresin PR ya? Kan PR-nya juga pelajaran sejarah, yang sudah jelas alurnya, mbak?!” kata Gilang.

“Mbak lagi ngitung bintang, dek!” ucap Dinda dengan santai.

“Ngapain pula bintang dihitung, mbak! Katanya hidup ini realistis aja, kok malah perilaku mbak sendiri yang nggak realistis!”

“Lho, ngitung bintang ini realistis, dek! Perhatikan aja, setiap malamnya, bintang yang bisa kita liat jumlahnya selalu berbeda! Nggak akan pernah sama jumlahnya malem ini sama kemarin, dek! Adek nggak taukan?!” kata Dinda.

“Nah, makanya jangan nyepelein dong! Ini yang realistis, dek!”

“O gitu ya, mbak? Terus hikmahnya apa mbak dengan ngitung bintang itu?!” tanya Gilang.

“Banyak sekali, dek! Betapa Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya dengan tata atur persuryaan yang begitu apik! Betapa kita disuruh membaca dan belajar dari semua kehadiran ciptaan-Nya! Betapa kita harus menyadari bahwa ketidaksesuaian jumlah bintang yang bisa dilihat dengan kasat mata setiap malamnya itu mengajarkan agar kita sadar bahwa guliran ke-bintang-an seseorang itu ada masanya!” urai Dinda panjang lebar.

“Pelajaran konkritnya dari menghitung bintang itu apa, mbak?!” desak Gilang.

“Ya banyak, dek! Banyak sekali! Tinggal kita mau menyusurnya dari sisi mana! Kalo dari sisi kekuasaan, mengajarkan kepada kita betapa tiada berharganya pergerakan yang hanya mengandalkan ke-bintang-an! Karena kalo mau mempertahankan kekuasaan, yang perlu dirawat adalah rerumputan! Ke-bintang-an hanyalah penerang semata, bukan segalanya!” terang Dinda.

“Jadi kalo yang masih sok bertahan dengan sikap ke-bintang-an gimana, mbak?”

“Ya biar aja, dek! Toh era sekarang ini kekuasaan bisa menguapkan citra diri seseorang! Cuma kita perlu ingatkan aja, bahwa ke-bintang-an alias bermain bintang, hanya akan menjerumuskan pada kekalahan! Dan kalah itu sakit! Kalah itu pedih! Kalah itu malu! Kalah itu membantingkan diri dari hidup di awang-awang ke jurang terdalam! Kita tunggu aja, karena alam punya kemauannya sendiri! Yang siapapun tak bisa mengaturnya!” kata Dinda, sambil terus memandangi langit kelam, menghitung bintang mencuatkan sinarnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *