18 views

Main Pinggir

BEGITU peluit tanda pertandingan usai, Gilang menjatuhkan badannya di lapangan. Tampak ia amat kelelahan. Buru-buru Dinda turun dari tribun dan masuk lapangan.

“Adek capek ya? Ayo mbak papah keluar lapangan!” ajak Dinda begitu sampai ditempat dimana Gilang tergolek kelelahan.

“Iya, mbak! Adek capek bener! Habis terkuras tenaga adek! Sampai-sampai tadi sudah mau pingsan rasanya!” kata Gilang sambil mengulurkan tangannya untuk diangkat Dinda.

Dinda meluk dan memapah Gilang keluar lapangan. Diberinya air putih setelah sampai ditempat duduk pemain.

“Tarik nafas pelan-pelan lewat hidung dan keluarkan lewat mulut, dek! Dibawa enteng aja!” kata Dinda sambil melepas sepatu bola Gilang.

“Terimakasih ya, mbak! Nggak kebayang, kalo nggak ada mbak, siapa yang mau memapah adek sampai ke tempat ini!” ucap Gilang.

“Jangan lebaylah, dek! Kan banyak temen adek, ya nggak mungkin mereka diemin aja adek tergeletak di lapangan, pasti ada yang bantu! Ini kan kebetulan aja mbak nonton, jadi mbak inisiatif untuk segera bantu!” sahut Dinda seraya memberikan handuk untuk Gilang mengelap keringatnya.

“Baru sekali ini adek tanding sampai mau lepas nafas lo, mbak! Habis bener tenaga adek, pas 10 menit terakhir tadi rasanya mau nendang bola aja sudah nggak kuat lagi! Mana kaki ini sudah sakit kiri kanan lagi!” Gilang bercerita.

“Mbak liat adek salah strategi main tadi! Makanya sampe kayak gini!” sela Dinda.

“Salah strategi gimana, mbak?!”

“Adek kan banyak mainnya di tengah! Pergerakan adek dominannya di posisi yang menjadi penentu alur bola! Jadi adek ya dapet pengawasan dan pengawalan khusus dari lawan! Coba kalo adek mainnya banyak di pinggir, nggak bakalan sampe mau abis nafas gini!” jelas Dinda.

“Pelatih kan memang tempatin adek sebagai pengatur serangan, mbak! Otomatis posisi mainnya ya ditengah! Kalo bermain di pinggir, susahlah mbak mau atur pembagian bolanya!”

“Nggak juga sebenernya, dek! Justru dibutuhkan improvisasi dalam struktur permainan itu! Pengatur serangan berposisi di pinggir malahan bisa membuat lawan kehilangan ritme permainannya dan harus membuat strategi baru! Pergerakan yang diatur dari pinggir lapangan itu memang jarang dimainkan, dek! Padahal itulah pola yang amat efektif efisien selain mampu mengganggu konsentrasi lawan!” urai Dinda panjang lebar.

“Ya nanti pas ada latihan, mau adek praktekin setelah diskusi dengan pelatih, mbak! Nggak nyangka ya, ternyata mbak paham juga strategi bola!” sahut Gilang sambil tersenyum.

“Biasa aja kali, dek! Soal paham atau setengah paham strategi bola, itu ya kebetulan aja sih sebenernya, dek?!”

“Kebetulan gimana, mbak?”

“Karena mbak perhatiin selama pertandingan tadi adek dihantemin lawan terus begitu dapet bola! Bola baru sampai kaki, adek sudah dijegal! Adek baru mau ngoper bola, sudah ada lawan yang nabrakin badannya ke adek! Kasianlah mbak liat adek bolak-balik meringis kesakitan di lapangan! Jadi mbak terus mikir, gimana permainan adek tetap maksimal tapi kecil kemungkinannya di-tackel lawan! Lahirlah pola ngatur permainan dari pinggir itu, dek!” kata Dinda.

“O gitu to, kirain mbak emang sudah paham bersiasat di permainan bola! Nggak taunya dapet ilmu karena nonton pertandingan tadi!” ucap Gilang.

“Kita kan harus mencari hikmah dari setiap yang kita liat, kita dengar, kita rasain, dek! Juga cerita kehidupan orang lain! Tujuannya untuk kita terus perbaiki diri! Walo nggak bakal kita jadi manusia nan sempurna, namun kita harus terus berupaya jadi baik dan lebih baik! Dan menurut mbak, pola main pinggir ini akan jadi pergerakan masif kedepannya lo, dek!”

“Aksinya akan dimainkan di pertandingan apa ya, mbak? Adek pengen nonton nanti!”

“Aksi main di pinggir akan segera tayang nyambut pilgub, dek! Kan beberapa bulan lagi masa kompetisinya dimulai! Nah, kita sama-sama nonton ya? Enakan nonton ketimbang jadi pemainkan, dek?!” kata Dinda yang disambut anggukan Gilang dengan wajah ceria setelah lelahnya menguap ditelan waktu. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *