9 views

Hujan Lokal

GILANG ketawa terpingkal-pingkal saat buka gerbang dan melihat Dinda basah kuyup. “Makanya rajin mandi, jadi nggak basah kuyup karena keujanan!” kata dia.

“Adek ini malah ngetawain lo! Liat mbak basah kuyup gini bukannya bawain handuk sambil buka pintu gerbang!” ketus Dinda sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan menciprat dari rambutnya.

“Ya mana adek tau kalo mbak kuyup kayak gini! Liat sendiri dong, disini kan gerimis aja nggak, boro-boro ujan!” sahut Gilang.

“Namanya juga hujan lokal, dek! Jarak 500 meteran aja sekarang ini cuacanya sudah beda! Mbak juga nggak nyangka kalo mau keujanan ampe basah kuyup begini!”

“Memangnya tadi naik sepedanya kemana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Cuma muter kompleks perumahan doang, dek! Nggak jauh-jauh amat! Tiba-tiba ujan turun dueres bener! Ya sudah, ketimbang cari tempat berteduh, baikan ya langsung aja genjot sepeda terus pulang!”

“Makanya kalo mau naik sepeda itu liat dulu cuacanya, mbak!”

“Lha, di rumah kita nggak ujan sama sekali, dek! Cuaca ditempat mbak keujanan tadi juga terang-terang aja! Tapi tiba-tiba turun ujan! Mau. Ngomong apa coba? BMKG juga nggak bisa memprediksi yang namanya hujan lokal, dek!” ujar Dinda.

“Cuaca sekarang memang sulit diprediksi ya mbak? Kadang awan nutupi sinar matahari kayak mau ujan, e malah gak turun-turun ujannya! Kadang cuaca cerah, malah ujan!”

“Ya itulah kehidupan, dek! Nggak bisa diprediksi! Kita bisa liat tanda-tanda alam, tapi remote kan bukan di kita! Jadi ya paling juga kita hanya bisa ikhtiar aja, menduga kemungkinan doang!” kata Dinda.

“Jadi sebenernya kita ini amat lemah ya, mbak! Amat nggak kuasa atas kemauan dan keinginan alam! Tapi kenapa ya banyak aj sesama kita yang merasa bisa mengatur segalanya! Yang merasa bisa mewujudkan apa aja yang dimauinnya?!”

“Dalam konteks memacu optimisme untuk kehidupan yang lebih baik, ya bagus-bagus aja itu, dek! Tapi kalo sampe lupa akan kenisbian kita sebagai makhluk, itu yang berbahaya! Karena hakekat kehidupan sesama makhluk itu adalah saling berangkulan! Saling mengisi! Saling melengkapi! Bukan saling bersikut-sikutan! Bukan saling menyakiti! Dan bukan saling iri dengki!” kata Dinda.

“Dan hujan lokal ini sebenernya juga membawa pelajaran ya, mbak?!” ucap Gilang.
“Iya dek! Bahwa realitanya kita hidup dibawah langit yang sama, tapi curahan hujan tak akan sama! Hujan lokal itu adalah hujan yang tak merata! Dan itulah yang sesungguhnya banyak dirasakan dan dialami oleh sesama kita! Dan buat kita, ya biasa-biasa aja mengalaminya! Karena hujan yang membasahi badan kita atas kuasa Tuhan, bukan di-remote oleh segelintir orang yang mengaku bisa mengatur soal cuaca!” jelas Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *