13 views

Cuci Otak

MBAK, kok sejak tinggal di asrama jadi cupel, medit, pelit dan bakhil gitu sih?!” kata Gilang sore tadi selepas keluar dari warung bakso.

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Cuma kita kan memang harus hidup sederhana, penuh perhitungan dengan uang, apalagi kan kita masih minta ke mama dan buya!” sahut Dinda.

“Ya memang bener sih, kita masih minta sama ortu, tapi kan sewajarnya sih sekali-kali pas mbak ngajak makan bakso gini bayarin adek! Masak mbak yang ngajak, bayarnya masing-masing!” ketus Gilang.

“Nah, bahasa sewajarnya itu yang nggak boleh dibiasakan, dek! Nggak ada itu dalam kamus kehidupan kalo kakak selalu bayarin adek! Atau yang kita anggep sebagai bos terus mesti ngebandarin kalo kita makan! Itu pikiran yang selama ini salah kaprah, dek! Jangan dibiarin pemahaman kayak gitu bertahan di pikiran adek, nggak bagus itu!”

“Waduh, jadi segitunya ya mbak sekarang! Mbak yang sejak kecil ditanamkan nilai-nilai tepo seliro, tenggang rasa, penuh kasih dan mengayomi yang lebih muda, ternyata berubah total hanya karena selama ini tinggal di asrama!”

“Jangan disalahkan tempat tinggal ya, dek! Jangan salahkan lingkungan! Baik tidaknya tempat tinggal, sekolah maupun lingkungan itu masing-masing kita yang merasakan! Baik menurut mbak, belum tentu baik menurut adek! Itu biasa aja, nggak usah dipermasalahin! Karena pada hakekatnya kita sendirilah yang akan menentukan hidup kita, bukan orang lain!”

“Wo, keren bener ternyata pola cuci otak yang mbak terima selama ini ya?”

“Maksudnya apa itu cuci otak, dek?”

“Cuci otak atau bahasa kerennya brainwash kalo menurut sudut kejiwaan bisa berupa kelainan atau dissosiatif, mbak! Kebalikan dari cara berpikir orang normal yang biasanya asosiatif! Nah, kayaknya pola cuci otak hingga bisa merubah total kepribadian mbak itu berhasil deh!” ucap Gilang.

“Adek perlu tau ya, mau pake pola cuci otak apapun, semua kembali ke kita sendiri! Pikiran dan nurani kitalah yang menentukannya! Jadi jangan salahkan polanya!”

“Tapi mbak sudah kebablasan ini! Masak sama adek sendiri aja nggak punya tenggang rasa lagi! Ngajak makan bakso, bayarnya masing-masing! Kebayang nggak sama mbak kalo adek tadi nggak punya uang, gimana coba bayarnya!” sela Gilang.

“Lho, justru mbak tetep punya tenggang rasa, maka mbak ajak adek makan bakso! Kalo nggak punya sifat itu, kan bisa aja mbak kasih tau aja kalo mau makan bakso, adek mau ikut atau nggak ya terserah aja!” balas Dinda.

“Ya sudah deh, mbak! Kayaknya mbak memang sudah ke cuci otaknya, hingga sudah berubah total!” keluh Gilang.

“Adek jangan gitu dong! Jangan ketika seseorang merubah diri dengan gaya yang keliatan nggak lazim, terus dinilai negatif gitu! Karena nggak bakal dia merubah gayanya kalo nggak nyaman buat dirinya sendiri! Soal orang lain menilainya aneh, ya biar aja!”

“Ya nggak boleh ekstrim gitu juga dong, mbak?!”

“Ekstrim atau nggak itu kan tinggal kita ngeliatnya dari sisi mana, dek! Misalnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu seumur-umur nggak pernah mengajukan permintaan maaf lo pada Tuhan! Karena ia menganggap hal itu nggak perlu! Sebab setiap kali ia membuat kesalahan, ia akan menebusnya dengan melakukan hal-hal yang menurutnya baik! Nah, apa itu harus kita nilai sebagai sikap ekstrim? Ya nggak jugakan, dek?!” tutur Dinda.

“Ya sudah kalo begitu, mbak! Berarti kepribadian kita sudah beda jauh! Mbak nggak lagi merasa perlu mengayomi, perlu mengasihi dan sesekali membayari adek kalo ngajak makan!” ucap Gilang dengan suara terbata.

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Mengayomi dan mengasihi itu kan nggak harus terekspresi dengan menyesuaikan diri kita pada orang lain! Adek perlu tau ya, kalo kita memberikan banyak pada seseorang, tanpa disadari¬† akan membuat kita banyak berharap dari orang tersebut! Itulah yang seringkali membuat kita menganggap orang itu menjadi tidak peduli, tidak punya empati dan sebangsanya! Padahal bisa jadi kepribadian orang tersebut sudah berubah, yang salah satunya disebabkan oleh pola cuci otak dalam kungkungan kekuasaan yang sedang ada di genggaman!” kata Dinda seraya merangkul Gilang dengan penuh kasih sayang, yang membuat Gilang berganti terheran-heran. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *