25 views

Era Demagogi

SELEPAS solat maghrib, Gilang mengajak Dinda ke kamarnya. “Ngapain sih, dek?!” tanya Dinda.

“Adek kan besok mau ikut pemilihan ketua kelas, mbak! Sebelumnya, yang mau nyalon diwajibin nyampein visi misi! Jadi adek mau belajar pidato dulu, mbak yang merhatiin, sudah bagus atau belum!” kata Gilang sambil menggandeng tangan Dinda masuk ke kamarnya.

“O gitu to, dek! Kirain mbak mau ngapain!”

Setelah menutup pintu kamar, mulailah Gilang beraksi. Dia pidato menyampaikan visi misinya sebagai calon ketua kelas. Suaranya menggelegar. Penuh semangat dan penghayatan. Sekitar 10 menit dia berpidato.

“Gimana, mbak! Bagus nggak yang adek sampein?!” ujar Gilang setelah berpidato.

“Lumayan, dek! Selain menguasai materi, cara penyampaiannya pun cukup tegas dan lugas!” Dinda menilai.

“Yang bener, mbak! Jangan nyeneng-nyenengin hati adek aja lo! Kalo kurang bagus, ya sampein aja, biar adek perbaiki!” sahut Gilang.

“Iya, mbak menilai apa adanya aja kok, dek! Lumayan bagus! Bisalah adek membius temen sekelas dengan gaya pidato tadi! Adek kan memang punya bakat orator, jadi ya nggak perlu banyak perbaikan!”

“Syukur kalo gitu, mbak! Sebab pidato itu sesuatu yang bisa dinilai sebagai modal awal meyakinkan orang, mbak! Kalo awalnya aja sudah nggak greget, orang males ngeder apa sebenernya isi pidato itu!”

“Bener itu, dek! Makanya banyak orang, yang setelah jadi pejabat akhirnya harus kursus singkat buat belajar pidato! Berpidato yang meyakinkan pendengarnya memang hal yang amat penting! Apalagi sekarang kan era demagogi, dek!”

“Maksudnya apa era demagogi itu, mbak?” tanya Gilang.

“Eranya orang-orang atau tokoh yang mampu berpidato dengan cakap maksudnya, dek! Demagogi itu adalah gaya kepemimpinan yang mampu menghasut rakyat dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan!!”

“Cuma lewat pidato doang, mbak? Ya nggak mungkinlah, mbak! Sekarang ini rakyat sudah pinter, mbak! Mana yang bener dari pidato pemimpin dan mana yang sekadar kemasan aja!” kata Gilang.

“Ya itu bener juga sih, dek! Cuma kan yang pertama dinilai itu dari gaya pidatonya! Kalo seorang pemimpin pidatonya sudah bisa menggetarkan jiwa massa yang mendengarnya, itu sudah nilai plus buat dia!” ujar Dinda.

“Rakyat sudah capek mendengar pidato, mbak! Eranya sudah berubah! Era demagogi yang dibutuhkan rakyat itu karya nyata, mbak! Bukan bualan di atas podium! Memainkan gaya demagogi itu haruslah dengan menghasut rakyat dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan dengan kerja nyata bahwa rakyat memang menikmati hasil kepemimpinan seseorang! Artinya, sang pemimpin ya tau persis bagaimana kehidupan rakyatnya! Sang pemimpin rajin menyambangi rakyatnya! Mendengar masalahnya, mencarikan solusinya! Duduk bareng dengan rakyat! Ikut nimbrung saat rakyat bergotong royong! Itu yang lebih pas dari pemaknaan era demagogi itu, mbak! Bukan cuma piawai membius rakyat dengan pidato doang!” urai Gilang.

“Nah, kalo gitu, jadi ngapain adek ngebagus-bagusin gaya pidato dong?!” sela Dinda.

“Ya adek kan lagi mau nyalon, mbak! Βelum pegang jabatan alias incumbent! Jadi ya beda dalam memainkan gaya demagoginya!” sahut Gilang sambil cengengesan. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *