Drama Kolosal Pencatat Tamu

DINDA mengajak Gilang nonton pagelaran drama kolosal di gedung teater Taman Budaya. Keduanya tampak begitu menikmati alur demi alur cerita bertajuk Drama Klosal Pencatat Tamu yang berlangsung dua jam itu.

“Mengagumkan ya, dek! Para pemainnya sangat apik menjalani peran masing-masing! Alur ceritanya juga nggak mudah ditebak! Penuh pergolakan batin! Sang Raja nan bijaksana sampai beberapa kali tercenung saat para punggawa dan penasehatnya diam-diam membangun kerajaan-kerajaan kecil di sekelilingnya!” kata Dinda sambil keluar gedung teater.

“Iya, bagus, mbak! Banyak penonton yang beberapa kali adek dengar menghela nafas saat Sang Raja hanya bisa memandangi saja perilaku para penasehat dan dayang-dayangnya yang mengangguk-angguk didepan dan tertawa sinis dibelakang! Pinter sutradara dan pembuat ceritanya ya, mbak?!” sahut Gilang yang tampak puas juga dengan alur cerita drama kolosal yang baru ditontonnya.

“Bener itu, dek! Kita mesti mengapresiasi penggagas cerita, sutradara dan pemain drama ini! Jarang lo ada pagelaran drama kolosal yang semenarik ini, dek! Apalagi sarat dengan pesan moral, beragam intrik dan kritik! Hebatnya lagi, mampu membuat penonton tercengang, kagum dan terbawa dalam alur ceritanya!”

“Kalo adek sih merhatiin perilaku anak sang juru pencatat tamu para raja itu, mbak! Dia kan seorang anak yang baru mau memasuki remaja, tapi gayanya melebihi pembawaan ayahnya! Bahkan, berani bermain semaunya dan memanggil nama putra mahkota tanpa menyebut gelarnya!” ucap Gilang.

“Memang apa anehnya, dek? Dia kan memang anaknya juru pencatat tamu, termasuk jadwal keseharian Sang Raja, juga ikut kemana saja Sang Raja berkegiatan! Ya wajar saja kalo anaknya punya kedekatan tersendiri dengan putra mahkota!” tanggap Dinda.

“Ya kalo dari sisi kedekatan lahiriyah sih wajar, mbak! Tapi dari sisi perilaku, kan nggak sewajarnya seakan-akan dia juga setara dengan putra Sang Raja, mbak! Liat aja, ada atraksi dimana justru dia yang ngatur putra mahkota untuk merubah jadwal berlatih pedang dengan mengajak mancing! Sampai membuat pelatih putra mahkota pun nggak bisa berbuat apa-apa! Semestinya, perilaku anak pencatat tamu raja yang over semacam itu nggak usah dipertontonkan! Itu kan nggak mendidik, mbak?!”

“Adek, pagelaran drama kolosal kayak gini nggak jauh-jauh sebenernya dari kenyataan sehari-hari! Bahkan bisa memunculkan hal-hal yang mungkin akan ada dalam kehidupan nyata! Itulah kelebihan seniman, mampu mengekspresikan daya ilusi berdampingan dengan nalar secara bebas merdeka! Jadi, ya kita nikmati aja apa yang dipertontonkan dalam alur ceritanya, sambil kita memetik hikmahnya!”

“Tapi kan tetep bisa kita koreksikan kalo ada yang kurang pas, mbak?!” sela Gilang.

“Ya ngoreksinya melalui perdialogan batin dan nalar kita sendiri aja, dek! Nggak perlu kita menyampaikannya pada sang sutradara atau penulis cerita! Sebab, hakekat kerja mereka hanyalah memberikan hiburan serta menitipkan sebagian realita kehidupan saat ini sekaligus menyusupkan pesan-pesan moral saja! Bahwa ada sebagian penonton yang puas dengan seluruh alur cerita, atau seperempatnya saja, itu bukan urusan mereka!” jelas Dinda.

“Ya bener juga sih, mbak! Kita kan hanya menonton dan mencoba mengambil hikmah aja! Tapi adek masih penasaran lo dengan penampilan anak juru pencatat tamu yang terkesan setara dengan putra Sang Raja begitu!” ucap Gilang lagi.

“Adek pahami nggak tadi alur cerita soal si anak juru pencatat tamu itu? Kan waktu dia lahir aja dipestakan tujuh hari tujuh malam! Dengan mengundang para petinggi kerajaan! Ditempatkan di singgasana nan mewah belasan meter! Dibelikan kuda sekelas kudanya putra mahkota! Nah, dalam proses selanjutnya, amat sangat dimanjakan! Pengasuhnya aja ada tiga orang! Yang kapan aja dia nggak suka, langsung dipecatnya! Jadi ya kalo kemudian perilakunya menjadi over, nggak aneh, dek! ada hukum kehidupan sebab akibat disana! Itulah realita yang juga ada dalam kehidupan sehari-hari saat ini!”

“Jadi maksudnya sang anak juru pencatat tamu itu salah didik, gitu ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya nggak bisa dibilang begitu juga, dek! Ayahnya nggak salah kalo pestakan kelahiran anaknya sampai tujuh hari tujuh malam itu! Namanya orangtua kan memang maunya menyenangkan anak, dek! Bahwa akhirnya perilaku sang anak menjadi tinggi hati, itu soal lain!”

“Iya juga sih, mbak? Anak kan tinggal gimana orangtua mengemas kasih sayang dan kebanggaannya ya, mbak! Tapi ngomong-ngomong, di drama tadi nggak diceritakan gimana pesta Sang Raja saat putra mahkota lahir ya, mbak?” kata Gilang.

“Memang nggak diceritain, dek! Karena inti drama itu kan menyorot kehidupan juru pencatat tamu berikut sekitarannya aja! Yang pasti, nonton drama kolosal kayak gini bukan untuk jadi bahan obrolan, dek! Melainkan sekadar buat menghibur diri dan mentertawakan hal-hal yang memang layak buat ditertawakan! Jadi ya dibuat asyik-asyik ajalah dek!” ujar Dinda sambil mengajak Gilang naik ke mobil dan terus pulang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *