1 views

Turun Jabatan

BEGiTU masuk rumah sepulang sekolah, Gilang teriak-teriak manggil Dinda. “Ngapain sih manggil aja pake teriak gitu, dek! Biasa aja sih!” sahut Dinda dari kamarnya.

“Adek nggak tahan, mbak!” kata Gilang dengan nafas ngos-ngosan.

“Nggak tahan kenapa, dek?!”

“Nggak tahan pengen cepet-cepet diskusi sama mbak!”

“Memangnya kenapa, dek?!”

Setelah duduk dan mengatur nafas, Gilang cerita: “Adek kan mau diganti jadi ketua kelas, mbak! Terus sama wali kelas ditawarin gimana kalo jadi wakil ketua kelas!”

“O gitu, dek! Kenapa adek mau diganti, kok malah ditawari jadi wakil ketua kelas gitu?!” tanya Dinda.

“Kan memang setiap enam bulan sekali ada pergantian ketua kelas, mbak! Semangatnya ya agar semua murid belajar jadi pemimpin! Kalo tawaran jadi wakil ketua kelas itu kata wali kelas, karena adek dianggap bisa memimpin selama ini, mbak?!” ujar Gilang.

“Wah, sudah kayak di pemerintahan aja, dek! Sekian bulan sekali rolling! Lagian kalo memang adek dianggap berhasil, ngapain diganti ya? Aturan pergantian enam bulan sekali itu kan pasti ada pengecualiannya, dek! Nggak saklek gitulah!”

“Ya mana adek taulah, mbak! Adek kan cuma murid! Yang punya aturan dan kemauan kan pihak sekolah!”

“Terus kalo adek sendiri pendapatnya gimana?!” tanya Dinda.

“Jujur adek bingung, mbak! Kalo orientasinya posisi, ya sudah jelas nggak lazimlah, dulu ketua kelas sekarang jadi wakil! Tapi ngeliat temen-temen sekelas dan apa yang disampaikan wali kelas, adek juga ingin mengabdi, mbak!” jelas Gilang.

“Adek perlu tau ya, hidup ini menentukan pilihan! Jadi mau nggak mau adek ya harus nentuin sikap!”

“Maka itu adek mau diskusi sama mbak ini! Mau minta pendapat mbak, baiknya adek bagaimana?!”

“Kalo nurut mbak sih, sebaiknya adek terima itu tawaran wali kelas! Apalagi kan temen-temen adek juga mendukung!” ujar Dinda.

“Tapi tengsin-lah, mbak?! Masak dari ketua jadi wakil ketua?!” sela Gilang.

“Jangan bicara soal malu, gengsi atau sebangsanya, dek! Sekarang ini sudah nggak laku moralitas begituan! Sekarang ini eranya orang berebutan yang penting punya jabatan! Nggak peduli sebelumnya punya jabatan tinggi jadi turun!” kata Dinda.

“Jadi, diluaran sana sudah lazim ya turun jabatan itu, mbak?!”

“Iya dek! Sudah bukan hal aneh lagi itu! Banyak lo di pemerintahan yang dulunya kepala biro turun jadi sekretaris dinas atau bahkan kepala bidang!”

“Oh ya, mbak? Kok bisa ya?!” cetus Gilang terheran-heran.

“Ya karena sekarang emang eranya orang kalap dengan jabatan, dek! Jadi nggak apa-apa turun jabatan yang penting masih dapat posisi! Lagian mereka-mereka yang turun jabatan itu y enjoy-enjoy aja kok, dek! No problem aja!”

“Aneh aja sih, mbak? Kan kalo jabatan di pemerintahan itu tolok ukurnya jelas ya! Mulai dari golongan dan kepangkatannya! Kalo yang sudah pernah jadi kepala biro aja mau jadi kepala bidang, ya nggak heran kalo kenyataannya ada yang pangkat golongannya belum menuhi syarat sudah bisa pegang jabatan diatasnya ya, mbak?!” kata Gilang.

“Ya itulah kenyataannya, dek! Jadi nurut mbak, terima aja tawaran sebagai wakil ketua kelas itu! Wong bapak-bapak temen kita yang di pemerintahan aja tetep nyaman kok walo turun jabatan! Kan yang jadi contoh kita ya mereka-mereka itu, dek!” ujar Dinda sambil menepuk-nepuk bahu Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *