14 views

Eranya Duit Nggak Laku

“PUSING, malu, kesel, ngedongkol adek ini, mbak!” kata Gilang sepulang dari Stadion PKOR Way Halim, sore tadi.

“Emang kenapa, dek? Kalah ya tim bola adek!” sahut Dinda.

“Kalo tim bola sih menang, mbak! Cuma temen-temen yang disuruh dateng jadi suporter satu pun nggak ada yang nongol! Keterlaluan banget mereka itu!”

“Ya mungkin mereka lagi ada kesibukan, dek! Kan nonton pertandingan tadi cuma selingan aja!”

“Nggak gitu, mbak! Sebelumnya kan sudah didata, siapa aja yang mau nonton jadi superter! Yang mau, dikasih kaos, dikasih snack dan minuman! Juga dikasih uang buat beli karcis plus kalo perlu tambahan beli minuman!” jelas Gilang.

“Kalo memang sudah didata dan difasilitasi tapi nggak muncul, ya adek cek dong! Telepon satu-satu kawan adek itu, biar jelas kenapa pada nggak dateng!” saran Dinda.

“Iya juga ya, mbak! Ya udah, adek teleponin mereka dululah!” ucap Gilang sambil buru-buru menghidupkan hpnya.

Selang sekitar 15 menit kemudian, Gilang mendatangi Dinda di kamarnya. “Ngeselin rata-rata jawaban mereka, mbak?!” kata Gilang.

“Ngeselin kayak mana, dek?!”

“Masak bilang kalo lupa! Mayoritas bilangnya gitu! Kalo pun ada yang beda, paling alasannya karena mendadak diajak orang tuanya ke mal! Ngeselinkan?!”

“Ya kalo lupa mau gimana, dek? Lupa itu kan hal manusiawi aja! Ya sudah, nggak usah buat adek kesel kayak gini dong! Lama-lama kesel itu bisa buat kegantengan adek berkurang lo!” kata Dinda sambil mencandai Gilang.

“Adek kan malu sama pelatih, mbak! Kan adek yang disuruh nyiapin segala sesuatunya urusan suporter ini! Termasuk adek yang ngebagiin snack, kaos dan dananya! Ntar dikira adek nggak amanah!”

“Jangan terlalu jauh mikirnya, dek! Yang mbak mau tanya, apa semua temen yang didata itu juga penyuka sepakbola?!” tanya Dinda.

“Nggak juga sih, mbak? Kebanyakan ya temen suka kumpul-kumpul, kongkow dan nonton aja!”

“Nah, itu salahnya, dek! Wong orang nggak suka sepakbola kok disuruh jadi suporter, ya nggak dipikirin sama mereka! Makanya jadi pada lupa itu!”

“Tapi kan mereka sudah terima uangnya buat nonton, mbak?!”

“Adek, sekarang ini eranya duit nggak laku!” ujar Dinda.

“Kata siapa duit nggak laku, mbak! Jangan kan orang hidup, sudah mati aja tetap perlu uang kok! Untuk biaya penguburan, tahlilan tujuh malam, kan perlu uang! Gimana bisa dibilang duit nggak laku!” ketus Gilang.

“Bukan itu maksud mbak, adek! Maksudnya duit nggak laku itu adalah bila hal-hal hanya mengedepankan uang, belum tentu akan berhasil sesuai yang diharapkan! Bahwa kita semua perlu uang, itu ya bener seribu persen, dek! Tapi kalo uang jadi ukurannya, kita akan kecewa!” tutur Dinda.

“O gitu to, mbak? Jadi apa dong ukurannya sekarang ini kalo dibilang duit nggak laku!”

“Perhatian, pengertian dan membangun kebersamaan, dek! Kalo ketiga hal itu sudah bisa diwujudkan dengan baik, orang malah mau keluar uang sendiri buat nonton sepakbola, dek! Nggak perlu lagi suporter bayaran!” kata Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *